thumbnail Halo,

Seorang wasit divisi utama babak belur dan harus dilarikan ke rumah sakit karena dianiaya sejumlah pemain PSIR Rembang.

Oleh Yuslan Kisra
 
Wajah sepakbola nasional kembali tercoreng menyusul tindakan sejumlah pemain PSIR Rembang yang melakukan penganiayaan terhadap wasit Muzair Usman, yang memimpin pertandingan antara tuan rumah Persibom Bolaang Mongondow kontra PSIR, di ajang Liga Esia 2008/09, di Stadion Gelora Ambang Kota Mobagu, Rabu (12/11) kemarin.

Kejadiannya berawal ketika wasit asal Kendari itu memberikan penalti kepada tuan rumah, setelah salah satu pemainnya di tebas pemain belakang PSIR di kotak terlarang. Tidak terima dengan keputusan hukuman penalti itu, sejumlah pemain PSIR yang dimotori beberapa pemain asal Sulawesi Utara ini langsung mengerebuti pengadil lapangan hijau itu.

Tidak sekedar mengerubuti tentunya, sebab Stanley Mamuaya dan kawan-kawan menghadiahi "bogem mentah"  hingga wasit tersebut tersungkur. Belum puas melakukan penganiayaan, para pemain PSIR yang kesetanan  menginjak-injak aparat pertandingan itu yang membuat ia harus dilarikan ke rumah sakit karena babak belur.

Satu tindakan yang cukup memilukan karena terjadi di level kedua kompetisi sepakbolo nasional. Di mana Liga Esia ini masuk dalam Badan Liga Indonesia, kompetisi non-amatir di tanah air. Sayang tindakan para pemain PSIR itu jauh dari sikap profesional dan bisa dikategorikan brutal.

Bagaimana tidak, setelah Muzair Usman tidak mampu melanjutkan tugas dan digantikan wasit cadangan Jusman R. Kejadian serupa nyaris menimpa wasit pengganti itu. Ia bahkan dikejar dan sempat ditelanjangi di tengah lapangan setelah memberikan kartu merah kepada pemain PSIR yang melakukan pelanggaran keras.

Pertandingan pun sempat terhenti beberapa kali yang kemudian ditutup dengan keunggulan tuan rumah Persibom 1-0 atas tamunya tersebut.

Terkait