thumbnail Halo,

Penulis tamu Goal Indonesia, Hedi Novianto, membahas tentang kekuatan generasi baru Indonesia U-19.

HEDI NOVIANTO
*Penulis adalah editor dan konten kurator Beritagar.com.
Tur Nusantara timnas Indonesia U-19 sepanjang Februari ini memberi kesempatan pada publik untuk melihat perkembangan tim asuhan Indra Sjafri. Tentu saja yang utama, apakah ada peningkatan standar dan filosofi permainan sejak prestasi ganda pada September dan Oktober 2013? Atau jangan-jangan menurun?

Hingga tulisan ini dibuat, mereka telah menyelesaikan pekan pertama di Jogjakarta pada 7 Februari lalu. PSS Sleman, Persiba Bantul, dan Tim Pra PON DIY sebagai lawan uji tanding berhasil ditundukkan. Secara umum, level permainan tak banyak berubah. Namun yang paling mencolok adalah filosofi sepak bola coach Indra tentang kolektivitas tim.

Satu hal yang terlihat meningkat adalah kemampuan para pemain membangun zona, baik saat menguasai bola maupun kehilangan bola. Sekilas, kolektivitas mereka membaik dari tahun lalu. Ketika melawan PSS (3/2) dan Persiba (5/2), rotasi posisi pemain berjalan nyaris sempurna. Akibatnya, setiap pemain memegang bola selalu ditemani kawan. Bukan ditinggal kawan.

Tim U-19 juga memainkan gaya sepak bola yang "tidak khas Indonesia". Mari kita cek lebih dulu gaya main tim-tim ISL yang menjadi "ciri khas Indonesia". Secara umum, tim ISL memainkan sepak bola direct -- kiper atau pemain belakang mengirim bola langsung ke depan. Meski demikian, dalam dua tahun terakhir ada upaya memainkan bola dari bawah (belakang) secara bertahap ke atas (depan).

Permainan dari bawah dimulai oleh kiper menuju centre back atau wing/full back. Maksimal selama sepuluh detik, bola bergulir di daerah pertahanan sendiri dengan kombinasi aliran bola pendek ke kiri, kembali ke tengah, lalu ke kanan, atau kembali ke tengah dan sebaliknya. Kemudian bola akan maju sedikit ke tengah, entah ke DM maupun kepada playmaker yang turun ke bawah menjemput bola.

Ketika sampai di titik itu, defensive midfielder (DM) atau playmaker atau siapapun yang menguasai bola langsung dijauhi pemain lain. Secara teknis, mereka yang menjauh berupaya "mencari ruang kosong" atau dalam level yang lebih canggih adalah menciptakan ruang kosong. Situasi itu membuat jarak antar pemain menjadi lebih renggang sehingga sang penguasa bola yang sudah memasuki daerah lawan (melewati garis tengah) langsung menerapkan bola direct. Bisa ke sayap, terobosan, bola daerah atau bola lambung ke forward.

Pola ini jarang dilakukan tim U19. Si penguasa bola selalu ditemani oleh sedikitnya dua kawan dalam skema segitiga. Bahkan ada saja pemain yang akan siap menerima bola rebound (ball recoveries) saat aliran berhasil diredam lawan. Dalam skema zona tadi, bila Evan Dimas -- dia memang pemain yang istimewa -- harus bergerak mencari ruang kosong, maka posisi yang ditinggalkannya akan diisi Hargianto atau Zulfiandi, David Maulana atau siapapun. Bila Hargianto bergerak pergi, posisinya diisi pemain lain. Begitu terus alurnya. Intinya, bangunan zona akan dijaga jangan sampai runtuh dan itu sebabnya tak boleh kehilangan pemain sebagai pilar bangunan.

Implikasinya, setiap mengalirkan bola ke depan atau ke sayap maka zonanya juga bergerak ke sana. Itu sebabnya permainan bola pendek lebih sering terjaga. Tentu masih ada bola lambung daerah, terutama ke sayap, yang situasional. Yang pasti, tim U19 jarang melepas bola silang melambung dari sayap. Seperti halnya permainan mereka pada September dan Oktober 2013, setiap bola dari sayap selalu akan kembali ke tengah -- umumnya diagonal mendatar dari cut in winger. Mereka bermain cepat, tapi bukan berarti direct. Mereka tidak terburu-buru mengirim bola ke daerah sepertiga akhir lawan.

Jadi ketika Hargianto atau Evan menguasai bola di area garis tengah, maka Ilham Udin, Zulfiandi, David, Muchlis, atau bahkan Putu Gede, bukan jauh meninggalkannya. Mereka justru menjaga jarak. Inilah yang "tidak Indonesia".

Namun, di luar faktor permainan muncul keprihatinan. Ketrampilan gaya main di atas tak terlihat saat pasukan lapis kedua meladeni Tim Pra PON DIY (7/2). Pola zona tak terbangun, baik menyerang maupun bertahan. Para pemain justru lebih sering berupaya melakukan take-ons (one on one). Secara umum, permainan U19 kali ini sangat berbeda dengan dua partai sebelumnya. Kali ini mereka bermain "khas Indonesia".

Kalau pun "Garuda Jaya" menang pada akhirnya, itu hanya karena keunggulan stamina mereka yang sudah diketahui publik selama ini. Itu sebabnya selama 20 menit terakhir tim Pra PON DIY tak lagi mampu memberi pressing ketat seperti di babak pertama.

Namun ini tetap tak bisa menutupi adanya jurang yang cukup dalam antara pemain lapis pertama dan lapis kedua. Ada perbedaan kualitas yang signifikan antar lapisan ini. Level kemampuan Ichsan Kurniawan, Reza Pahlevi, dan Eriyanto masih di bawah Hargianto, Muchlis Hadi Ning, atau Ilham. Baik skill maupun pemahaman permainan.

Beruntung, ini masa pelatnas. Masa untuk membina, untuk melihat mana yang kurang dan mana yang sudah baik atau bisa ditingkatkan lagi. Coach Indra belum punya tim definitif. Sebaliknya justru ada blessing in disguise. Dari laga melawan tim Pra PON DIY, coach Indra justru memberi sinyal akan merekrut masuk striker lawan yang mencetak dua gol, yaitu Martianus Novianto.


Sepakbola Indonesia - Garuda Di Dadaku >> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Berita Sepakbola Indonesia Lainnya
>> Semua Klub ISL & Panduan 2013
>> Semua Berita Indonesia Super League
>> Klasemen Indonesia Super League
>> Jadwal & Hasil Indonesia Super League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Divisi Utama
>> Semua Berita Indonesian Premier League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Indonesian Premier League


Terkait