thumbnail Halo,

Bupati Sidoarjo Saiful Ilah sempat menyebutkan, tidak ada rencana untuk menyerahkan Deltras ke pihak swasta.

Carut-marut perihal kepemilikan klub Deltras Sidoarjo, yakni apakah masih menjadi milik pemkab Sidoarjo atau sudah berpindah tangan ke pihak swasta (dalam hal ini PT Delta Raya Sidoarjo) yang selama ini mengelolanya, terjawab sudah.

Menurut direktur PT Delta Raya Sidoarjo Dicky Hartanto, kepemilikan tim berjuluk The Lobster tersebut saat ini masih dipegang oleh pemkab Sidoarjo. Sedangkan PT Delta Raya Sidoarjo hanya sebatas sebagai perusahaan swasta yang mengelola.

“Tidak benar kami sudah mengambilalih Deltras dari Pemkab Sidoarjo. Sampai detik ini, Deltras masih milik pemkab Sidoarjo, dan kami [PT Delta Raya Sidoarjo] hanya sebatas mengelolanya,” ungkap Dicky kepada GOAL.com Indonesia.

Mengenai status kepemilikan Deltras ini, bupati Sidoarjo Saiful Ilah beberapa waktu yang lalu juga sempat menyebutkan, kepemilikan Deltras masih dipegang Pemkab, dan tidak ada rencana untuk menyerahkannya ke pihak swasta. Baginya, tidak ada take over (pengambilalihan) kepemilikan Deltras dari pemkab Sidoarjo ke pihak swasta.

Deltras sendiri tetap optimistis menjadi bagian dari PT Liga Indonesia (LI) musim ini. Hal ini dibuktikan, dengan keseriusan klub yang bermarkas di Stadion Gelora Delta ini mendaftarkan diri ke PT LI sebagai kontestan Divisi Utama (DU).

“22 Oktober lalu, kami sudah mendaftarkan diri ke PT LI sebagai kontestan DU. Ini hanya sebagai prasyara,” kata Dicky.

Diterangkan Dicky, pendaftaran ini hanya sebatas mendaftarkan nama Deltras saja. Tidak ada pencantuman nama-nama pemain, pelatih dan ofisial. Pasalnya, untuk pencantuman nama-nama pemain, pelatih dan ofisial, PT LI memberikan batas terakhir hingga 30 November mendatang.

“Di pendaftaran lalu [22 Oktober], kami sudah mengisi formulir sebagai prasyarat. Untuk dokumen-dokumen lainnya, seperti nama pemain misalnya, kami akan segera menyelesaikannya. Yang jelas, saat ini kami sedang mempersiapkan semuanya dengan serius, termasuk dalam pembentukan kerangka tim dan pemilihan pelatih,” sambungnya.

Sementara itu, tipisnya dana yang dimiliki manajemen Deltras, memaksanya untuk melakukan penghematan dalam menapaki kompetisi DU musim ini. Penghematan ini tentunya dilakukan dalam hal perekrutan pemain. Dengan dana minim serta hanya berlaga di DU, rasanya tak mungkin Deltras belanja pemain dengan harga selangit.

“Deltras tidak akan memperpanjang kontrak pemain, jika pemain yang bersangkutan mematok dengan harga tinggi. Kami akui sekarang kami masih berkutat dengan persoalan keuangan, dan berupaya untuk menyelesaikannya,” tandas Dicky.

Disinggung tentang keberadaan pemain senior yang masih berstatus pemain Deltras, Dicky juga tidak akan mengistimewakannya dengan menggaetnya dengan harga tinggi. Pemain senior yang masih berstatus pemain Deltras saat ini adalah Budi Sudarsono, meski ia sebelumnya sempat dikaitkan dengan beberapa klub, termasuk Sriwijaya FC.

“Sejauh ini Budi belum menyatakan keinginannya bertahan di Deltras. Jika ia menyatakan ingin bertahan dengan menyodorkan harga [kontrak] tinggi, tentunya kami akan menolaknya. Krisis keuangan, membuat kami kesulitan untuk menebus harga kontrak pemain yang mematok nilai tinggi,” katanya.

Budi memang masih berstatus sebagai pemain Deltras. Ia pernah digembar-gemborkan akan merapat ke Sriwijaya FC, namun akhirnya pemain yang identik dengan nomer punggung 13 ini gagal merumput bersama Sriwijaya FC. Sedangkan dua rekannya, M Fachrudin dan Dodok Anang sukses merapat ke Sriwijaya FC, kemudian disusul Qischil Gandrum, Benny Wahyudi dan Purwaka Yudhi, yang hijrah ke Arema.

“Pemain punya hak untuk pindah ke klub lain. Jika ia tidak puas dengan servis yang diberikan Deltras, ia boleh mencarinya di klub lain,” pungkasnya. (gk-43)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.


Terkait