thumbnail Halo,

Mineiro menyatakan, pesepakbola tidak cukup bekerja keras di lapangan, tapi juga punya skill dasar yang baik.

Pesepakbola Indonesia dinilai punya tipikal pekerja keras. Hal ini diakui Carlos Luciano da Silva, mantan pemain timnas Brasil di Piala Dunia 2002 dan 2006 dalam rangkaian Tour of Hope bekerja sama dengan Football Plus di Medan, Kamis (30/8).

Namun, pemain yang akrab disapa Mineiro jika timnas Indonesia mau berhasil ke depan, pesepakbola tidak cukup bekerja keras di lapangan tapi juga punya skill dasar yang baik.
 
Mineiro mengungkapkan penilaian tersebut usai ikut dalam pertandingan melawan tim Riau Selection Plus yang diperkuat beberapa pemain timnas, seperti Oktovianus Maniani, Titus Bonai, dan Patrich Wanggai di Stadion Kaharuddin Nasution, Selalu (28/8) lalu.

“Pemain Indonesia pekerja keras, tapi itu saja tidak cukup. Semua timnas, termasuk Brasil mencari kesempurnaan. Di Indonesia, para pemain masih kurang pressing, shooting dan passing. Perlu memperbaiki itu kalau mau ke Piala Dunia. Tapi kalau mau berusaha terus, pasti bisa,” ujar mantan pemain Chelsea dan Schalke ini.
 
Pemain berusia 37 tahun ini juga menambahkan, pemain sepakbola profesional juga harus memperhatikan elemen lain selain skill dan bakat yang bagus. Hal yang penting dilakukan adalah punya disiplin dalam memperhatikan kesehatan. Satu di antaranya, menjauhi merokok.

“Kalau mau jadi pemain profesional, Anda tidak hanya harus punya skill. Anda harus mau berpikir dan memilih yang bagus untuk karir. Tidak hanya untuk sepakbola, tapi juga olahraga lain.  Anda tidak bisa merokok. Menurut saya, olahraga tidak cocok dengan merokok, minuman keras atau obat-obatan,” jelas gelandang bertahan yang memperkuat Klub Tus Koblenz musim 2011/12.


 
Mineiro meyakini mau ikut dalam Tour of Hope bersama Football Plus adalah sebagai cara menyampaikan apa yang berguna untuk masyarakat.

“Saya tahu dalam olahraga, ada kekuatan yang luar biasa yang bisa memberikan masa depan. Kami mau memotivasi anak-anak remaja, supaya bisa menjadi dan mencapai untuk menjadi pemain. Anda mau mengajar anak-anak apa yang baik untuk jadi pesepakbola,”
 
Pemain Brasil lainnya, Elivelton, mantan pemain Sao Paulo, mengatakan hal senada. Pria berusia 41 tahun ini mengamini pernyataan Mineiro.

“Saya setuju dengan Mineiro, perlu diperbaiki [pressing, shooting]. Pemain harus punya gaya main yang baik. Timnas Brasil juga terus memperbaiki kemampuan timnas kami. Ranking kami juga menurun saat ini, kami sempat di posisi pertama di FIFA,” ujarnya.
 
Elivelton menambahkan saat di Riau, Selasa lalu, tim Brasil kesulitan menang lawan tim Riau Selection Plus. Pertandingan dimenangkan tim Brasil dengan 2-1.

“Kami main bertanding sedikit susah. Tim yang kami lawan sangat bagus, hebat. Walau kami Brasil, susah untuk menang. Kami menang 2-1 dengan tidak gampang. Apa yang saya lihat tim kemarin itu, tim yang disiplin. Saya kira, mereka sudah latihan yang keras dan sudah berada di jalan benar. Mungkin Indonesia bisa main di Piala Dunia juga,” ungkapnya.
 
Tour of Hope bekerja sama dengan Football Plus ini mendatangkan beberapa pemain Brasil ke Medan. Selain Mineiro dan Elivelton juga ada Lucas de Oliveira, Luis Felipe Silvestre, dan Ze Carlos. Di Medan, para pemain Brasil ini memberikan coaching clinic kepada 150 anak di Lapangan Sepakbola Universitas Sumatera Utara (USU) dari seluruh penjuru Sumatera Utara, Kamis (30/8) sore. Datang ke Medan, pemain Brasil ini juga membawa replika trofi Piala Dunia.
 
Dalam coaching clinic yang dilaksanakan di tengah guyuran hujan ini, para anak-anak tidak hanya diberikan teknik dasar bermain bola, tapi juga tentang menggugah kesadaran akan bahaya rokok dan seks bebas agar terhindar dari HIV sejak dini.
 
CEO Football Plus John Hamilton mengungkapkan, memberi HIV awareness ini adalah agar kewaspadaan bisa dimulai dari usia kanak-kanak.

“Negara Indonesia HIV awareness-nya sudah naik. Tapi banyak anak-anak yang tidak tahu, padahal kelompok risiko terkena HIV itu ada di usia 14-an. Sayang generasi kita ini, kalau kita tidak peduli,” ujar pria asal Inggris ini.

John menambahkan, ke 150 anak yang ikut coaching clinic merupakan lanjutan  dari pelatihan kepelatihan yang dilakukan di Medan, Januari 2012 lalu.

“Ada pendidikan untuk pelatih di Medan, dan kami meminta pelatih-pelatih untuk membawa tiga pemainnya untuk ikut coaching clinic bersama pemain Brasil ini,” timpalnya.
 
Football Plus sendiri sudah ada di Indonesia sejak 2005 dan peduli dengan anak-anak Indonesia.

“Visi FootballPlus adalah untuk menggunakan sepakbola  sebagai media untuk memberi pesan yang bermanfaat bagi anak-anak muda, baik dalam maupun luar lapangan sepakbola. Pesan dari coaching clinic ini adalah mengenai bahaya merokok, waspada HIV/AIDS. Kami mengucapkan teman-teman pesepakbola Brasil yang sudah mau datang ke Indonesia dan menyediakan waktu  dari tur mereka untuk membantu coaching clinic ini untuk membawa pesan positif,” tuturnya.
 
Pelatih pemilik lisensi A UEFA ini berharap, sepulang dari coaching clinic, anak-anak bisa ingat pesan yang disampaikan dalam pelatihan.  “Kegiatan ini sudah jalan di Bandung dan sekarang sudah ada 1.000 anak dan selalu dalam sesi latihan selalu memberikan nilai-nilai agar awareness HIV,” pungkasnya. (gk-38)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait