MARKO SIMIC
Macan Baru Persija Jakarta
Ada detail kecil yang sering luput dari perhatian kita ketika mengagumi pencapaian seseorang. Marko Simic menunggu. Ketika Riko Simanjuntak merangsek dari sayap kanan menembus pertahanan Johor Darul Takzim, Simic tidak serta-merta ikut menyerbu muka gawang. Dia menunggu. Dalam waktu sepersekian detik, striker Kroasia itu mengevaluasi posisi berdiri pemain belakang JDT.
Dan, pada saat yang tepat, baru lah Simic melesat. Bola umpan Riko disambar dengan sundulan akurat. Stadion Gelora Bung Karno yang dipadati 60.157 penonton pun pecah dengan sorakan gembira fans Persija Jakarta.
Sukses tidak datang secara instan. Simic harus menunggu sekian lama untuk membuktikan kemampuan sebagai pesepakbola profesional. Dia tidak langsung menjadi bintang. Beberapa kali pula rintangan ditemuinya dan bahkan dia ragu melanjutkan karier. Dalam wawancara panjang kepada Hrvoje Tironi dari Goal Kroasia, Simic menceritakan kisah kariernya hingga akhirnya menemukan tempat bersama Persija.
"Perjalanan saya dimulai bersama tim junior NK Zagreb dan saya memenangi gelar juara bersama tim kelompok usia saya. Kemudian setelahnya saya bergabung ke tim senior. Miroslav Blazevic melatih saya selama periode persiapan dan ada juga sejumlah pemain senior Zagreb antara lain seperti Mario Mandzukic, Krunoslav Lovrek, dan Ante Vrdoljak," bukanya.
"Borussia Monchengladbach sempat mengajak saya bergabung. Pada saat bersamaan, Zagreb juga menawari saya tujuh tahun kontrak tapi dengan gaji rendah. Jadi, saya tolak tawaran Zagreb dan memilih pindah ke Rusia."
Tujuan Simic, saat itu berusia 19 tahun, adalah klub Liga Primer Rusia, FC Khimki. Di sana, sudah ada gelandang asal Bosnia-Herzegovina, Dragan Blatnjak, yang juga meniti awal karier bersama Zagreb. Simic menjadi salah satu striker terbaik dalam sesi latihan, namun sulit memperoleh kesempatan bertanding karena kendala cedera.
Dampaknya, pada 2008, Simic dipinjamkan ke klub top tier Latvia, FC Daugava, dan memenangi Piala Latvia di sana. Di final, Simic menyarangkan gol balasan ke gawang FK Ventspils untuk memaksa skor menjadi sama kuat, 1-1, yang bertahan hingga 90 menit plus perpanjangan waktu. Saat adu penalti, Simic sukses menjadi algojo. Daugava keluar sebagai juara setelah mengakhiri babak ini dengan kemenangan 3-0.
Simic lalu kembali ke Khimki. Namun, kesempatannya kian terbatas. Dia hanya tampil tiga kali, seluruhnya sebagai pemain pengganti, pada Liga Primer Rusia musim 2008/09. Simic pun menerima ajakan presiden Dinamo Zagreb, Zdravko Mamic, untuk kembali ke Kroasia. Sayangnya, dia kembali menemui jalan yang berliku.
"Mamic sudah lama membujuk saya untuk pulang dan bergabung ke Dinamo. Karena lebih baik dan mudah untuk perkembangan saya, saya memutuskan kembali ke Kroasia. Saya tahu liga Rusia liga yang kompetitif, tapi akan lebih mudah bagi saya membangun karier bersama Dinamo," ujarnya memberikan alasan.
"Saya kemudian mengikuti persiapan ketika pelatih mereka waktu itu Krunoslav Jurcic dan ada pemain seperti Tomislav Butina dan Igor Biscan di dalam skuat. Namun, akibat cedera berkepanjangan, saya malah bergabung ke Lokomotiva."
Lokomotiva adalah klub di kawasan Zagreb yang berfungsi sebagai satelit bagi Dinamo. Ada sejumlah klub yang memasok pemain buat klub top Kroasia itu. Selain Lokomotiva, ada pula Radnik Sesvete, yang juga sempat disinggahi Simic.
"Di Lokomotiva, saya terus-menerus diterpa cedera. Ketika saya sembuh, saya harus bermain untuk tim junior, baru kembali ke skuat utama. Saya sungguh merasa depresi," kisahnya.
"Semua pemain muda punya mimpi besar dan saya tidak mau menyerah meski lutut saya bermasalah, kemudian engkel, dan metatarsal. Saya pernah tidak bermain untuk Lokomotiva satu tahun lamanya. Begitu saya sembuh, saya dimainkan di tim U-21."
"Setelah serangkaian cedera itu, Dinamo berencana merekrut saya lagi dan kemudian meminjamkan ke klub divisi tiga, Radnik. Saya tidak mau karena saya tahu kemampuan saya lebih dari itu."
Pintu kesempatan tampak terbuka bagi Simic ketika ada tawaran dari klub papan atas Hongaria, Debrecen, yang berpengalaman tampil di kompetisi antarklub Eropa. Tawaran sudah diterima, segala sesuatunya sudah disepakati, dan ketika tiba saatnya pergi, Simic mendadak ditelepon agennya.
"Dia bilang tujuan saya berubah menjadi ke Belgia. Karier ke Belgia belakangan tidak pernah terjadi. Alih-alih menerima tawaran dari Debrecen, saya tetap harus bermain di kasta ketiga bersama Radnik. Saya benar-benar merasa depresi," ujarnya.
Pada perkembangannya, Simic berkiprah di Hongaria tapi bersama Vasas SC. Selama separuh musim dia tampil lumayan di sana sehingga direkrut Ferencvaros. Kembali pilihan yang salah ditempuhnya.
"Saya tidak menandatangani kontrak dua tahun karena saya yakin bisa menemukan kesempatan lebih baik. Saya membuat kesalahan."
"Semua pilihan jadi rumit sehingga akhirnya saya pindah ke klub Polandia, GKS Belchatow. Sebentar di sana, lalu ke NS Mura [klub top tier Slovenia], dan akhirnya Zapresic Inter, klub divisi dua Kroasia. Praktis saya harus mulai dari awal dan saya mulai kewalahan."
Periode pahit akhirnya harus dirasakan Simic. Pada usia emas seorang pesepakbola, dia mendapari diri tidak memiliki klub profesional. Tidak tentu arah. Bimbang apakah masih harus menekuni karier sebagai pesepakbola atau tidak.
"Saya berkali-kali ingin menyerah. Saya rasa saya tidak bermain selama dua tahun. Usia saya tak lagi muda, 25 atau 26 tahun. Tapi saya terus menjaga penampilan sambil menunggu kesempatan untuk membuktikan diri. Entah bagaimana caranya, saya berlatih, berupaya, dan yakin segala sesuatunya akan membuahkan hasil," akunya.
Tepat pada musim semi 2015, Simic memperoleh angin kedua dalam karier.
"Saya punya pilihan bermain di Belanda, tapi klub itu harus mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan saya, jadi transfer gagal. Lalu saya berlatih di Italia bersama Pordenone, setuju bergabung di sana, menandatangani kontrak, dan dua hari kemudian saya mendapat tawaran dari Vietnam. Singkat cerita, saya minta pengurus klub Italia itu memutus kontrak saya supaya saya bisa pindah ke Vietnam," bebernya.
"Pembicaraan berlangsung lancar, saya tinggal datang ke Vietnam dan menyepakati kontrak. Saya merasa senang, tapi ternyata klub tujuan saya ingin mengetes lebih dahulu. Saya memainkan sejumlah pertandingan, berjalan dengan baik, tapi pelatih mereka memilih tidak mengontrak saya."
"Beruntung saat terakhir Becamex Binh Duong muncul memutuskan merekrut saya. Kami bermain baik dan berhasil memenangi gelar juara liga serta Piala Vietnam 2015."
Dua puluh bulan dihabiskan Simic di Vietnam. Ketika Binh Duong tak lagi membutuhkannya, Simic pindah ke Dong Thap. Di sana dia pun tak bertahan lama dan pindah ke Long An. Keduanya tim papan bawah Vietnam. Selesai dari Long An, Simic setuju bertualang ke Malaysia. Pilihan yang belakangan mempertemukannya dengan Persija.
Simic merasa beruntung tinggal relatif lama di Vietnam sehingga bisa mengenali kultur sepakbola Asia yang terkadang tidak ramah bagi pemain asing.
"Vietnam negara yang berbeda, tidak seperti di Eropa. Sulit mendapatkan dua atau tiga tahun kontrak di sana. Pemain asing keluar masuk di sana. Pada pertandingan terakhir, saya mencetak dua gol. Pemain tim lawan memukul perut saya. Laga tandang memang kerap bermasalah di Vietnam," bilangnya.
"Di Vietnam saya merasa saya bisa melanjutkan karier dan kondisi finansial saya membaik. Lalu, saya pindah ke klub papan bawah sebelum akhirnya hijrah ke Malaysia."
"Memang sulit bermain dengan pemain yang baru dikenal. Cara pandang mereka berbeda terhadap sepakbola. Sulit mendapatkan kekompakan tim. Baru ada penghargaan secara personal ketika tim Anda menang. Ketika gagal menang, bencana! Saya pikir sulit sekali memuaskan orang di sana. Anda harus memikirkan diri sendiri lebih dahulu, baru tim."
Di Malaysia, Simic menjadi lebih tenang. Faktor bahasa memudahkannya beradaptasi serta mengenali lebih dalam kultur sepakbola Asia. Siapa yang tahu, pengalaman di Malaysia justru menyiapkannya untuk sebuah petualangan baru yang tak kalah dahsyat.
"Tapi, di Malaysia keadaan berjalan lebih mudah. Mereka bekas koloni Inggris, semua orang bisa berbahasa Inggris. Segalanya baik-baik saja. Saya sudah merasakan sulitnya tantangan di Vietnam sehingga saya tahu seperti apa ekspektasi di sana, yaitu tampil lebih baik daripada pemain lokal," kata Simic.
"Tidak ada yang bertanya apakah Anda fit atau tidak, Anda harus selalu terus bermain meski hanya dengan satu kaki. Saya sudah sangat siap berkiprah di Malaysia. Banyak pelatih Eropa di sana, para pemain asingnya berkualitas, dan gaji mereka tinggi. Saya mencetak 22 gol dan dengan cepat meraih minat dari Indonesia."
"Saya punya pilihan tak kalah menarik di Malaysia. Awalnya saya tak memikirkan untuk pindah, tapi saya lalu melihat Persija Jakarta adalah salah satu dari klub raksasa Indonesia. Tawaran seperti itu sulit ditolak. Saya mulai merasa bisa beradaptasi dengan sepakbola Asia."
"Filosofi sepakbola Indonesia lebih dekat dengan Eropa dan akhirnya di sana saya mampu memenuhi potensi saya. Jadi, sejauh ini segalanya berjalan sempurna."
Simic memperkuat Negeri Sembilan dan Melaka United sebelum menerima pinangan Persija. Saat bergabung, pelatih Stefano Cugurra Teco tengah membangun tim. Salah satu kekurangan Persija pada Liga 1 2017 adalah tidak adanya striker haus gol ketika Bambang Pamungkas mulai digerus usia.
Simic menjadi pemain asing pertama yang didatangkan skuat Macan Kemayoran dengan durasi kontrak dua tahun. Dengan memilih Persija, Simic menolak tawaran Kedah FA. Dia juga disambut ekspektasi tinggi saat Persija bersiap mengikuti Piala Presiden. Seperti yang diketahui, penampilan di turnamen menjadikan Simic idola baru fans Persija.
"Sepakbola Indonesia baru saja bebas dari sanksi FIFA, jadi Piala Presiden tahun ini seperti semacam kompetisi sepakbola paling penting. Orang-orang menyenangi sistem gugur, yang mengenal laga semi-final dan final. Sistem ini lebih disukai ketimbang liga yang lebih lama," sambungnya.
"Presiden Indonesia menjadi pelindung kompetisi dan para tim peserta dipenuhi ambisi menjadi juara. Kami sukses melakukannya, merebut gelar pertama dalam 17 tahun terakhir, serta saya mencetak 11 gol -- dua di antaranya di final serta menyabet serangkaian penghargaan individual. Saya menjadi striker dan pemain terbaik Piala Presiden, hanya dalam waktu dua pekan, dan menjadi bintang sepakbola Indonesia."
"Stadion markas kami [Gelora Bung Karno] mampu menampung hingga 75 ribu penonton, dipenuhi cahaya selayaknya Allianz Arena, dan sekarang setiap fans meneriaki nama saya setiap hari. Mereka membentangkan syal dengan nama saya, setiap pertandingan terasa seperti surga."
"Malah sekarang ada opsi bermain untuk timnas Indonesia. Biasanya harus menunggu sampai tiga tahun tinggal di Indonesia untuk bisa memperoleh paspor, tapi ada pengecualian khusus. Jika mungkin, saya bisa membayangkan saya mengenakan jersey timnas Indonesia!"
Dua gol Simic melengkapi kemenangan Persija 3-0 atas Bali United di final Piala Presiden. Tidak berhenti di situ, Simic terus menghiasi papan skor di Piala AFC. Empat gol yang dicetaknya ke gawang JDT mempertajam reputasinya sebagai macan gol kesayangan Persija. Total tujuh gol kini dikumpulkannya setelah ditambah torehan hat-trick ke gawang Tampines Rovers, akhir Februari lalu.
Status baru sebagai bintang tidak menjadikannya besar kepala, malah membuat Simic lebih rendah hati.
"Sungguh luar biasa. Ketika memenangi Piala Presiden, hampir satu juta fans turun ke jalanan merayakan. Kalau saya sedang berjalan-jalan, banyak yang meminta tanda tangan dan swafoto. Sulit menjadi seorang bintang dan idola bagi seseorang, tapi itu sekarang buat saya menjadi tanggung jawab besar," bilangnya.
"Saya harus menjadi teladan bagi anak-anak muda, memerhatikan hal-hal detail karena setiap orang mengawasi serta mengenali Anda. Dan di kota dengan 15 juta jiwa penduduk, fans sangat setia kepada kami. Ketika saya gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan, media tentu saja menyoroti kinerja saya. Tapi, fans selalu bersama pemain baik dalam keadaan senang maupun susah."
Setidaknya, dengan menjadi sorotan seperti sekarang ini memudahkan Simic untuk bersosialisasi dengan pemain yang berstatus bintang Eropa. Seperti misalnya Michael Essien dan Ivan Perisic.
"Dengan Essien, kami saling berkomunikasi beberapa kali. Sebuah kehormatan bagi saya. Saya terkesan dengan sikap respek yang diberikannya kepada saya, seorang pemain asing yang baru berkiprah di Indonesia. Kami saling berkomunikasi melalui Instagram atau telepon," ujarnya.
"Karier Essien lebih baik saat masih bersama Real Madrid atau Chelsea daripada di sini -- begitu sulit meraih sukses di Indonesia. Saat terakhir bertemu di Jakarta, dia punya masalah di klubnya."
"Perisic? Kami pernah bermain bersama dan sampai sekarang kami masih berkomunikasi. Karier Perisic sungguh luar biasa dan terkadang Anda tidak berharap pemain sepertinya mau menaruh perhatian pada sukses saya di Indonesia."
Serta, sebuah televisi Tiongkok membuat program khusus memprofilkan dirinya.
"Haha. Ya, Fox China membuat cerita tentang saya dalam program berdurasi satu jam," tawa Simic. "Beruntung ada Mate Males [gelandang Dalian Yifang] yang menyaksikannya. Selesai menonton, dia langsung menelepon saya. Agak canggung dengan status baru saya di Asia, haha. Kita lihat apa yang datang berikutnya. Ada satu klub Turki yang berminat pada saya dan saya sudah membahas masa depan saya dengan Persija."
Namun, membahas masa depan, Simic mengisyaratkan betah berlama-lama tinggal menikmati ekspektasi tinggi di Jakarta.
"Saya tak yakin mau kembali ke liga Kroasia. Di sana terkadang hanya ada 27 penonton untuk salah satu pertandingan. Sedangkan di sini final Piala Presiden disaksikan 75 ribu penonton. Sebanyak 52 ribu lainnya tidak bisa masuk. Saya berpikir, 'Mana fans kami hari ini?' dan 'Kenapa stadion tidak penuh?'. Haha. Saya ulangi, ada masih 52 ribu lagi di luar stadion," ungkapnya.
"Atmosfer dengan 75 ribu penonton bukan lah pengalaman lazim. Sekarang bayangkan apakah Luka Modric dan Ivan Rakitic merasakan atmosfer yang sama dan kemudian mereka mau memilih bermain di Stadion Maksimir yang kosong?"
Tidak ada penyesalan bagi Simic harus menempuh perjalanan berliku dalam kariernya sebagai pesepakbola profesional.
"Saya tak bisa mengubah masa lalu, tapi saya akan mengubah banyak hal. Pertama-tama, saya takkan meninggalkan tim junior Zagreb untuk pindah ke Rusia. Saya akan menandatangani kontrak dan memperlakukan mereka selayaknya seperti di rumah," tukas pemain 30 tahun ini.
"Kemudian saya akan menyetujui tawaran Debrecen, yang pernah ke Liga Champions. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja. Saya bahagia dan puas. Pada akhirnya, itu lah hal yang paling penting."
