Apakah kamu berusia 24 atau lebih?

Bantu kami memverifikasi usia Anda dengan memberikan jawaban yang jujur. Situs ini berisi iklan perjudian untuk 24+.

Konten yang dibatasi usia

Anda belum cukup umur untuk melihat konten taruhan. Anda akan dialihkan ke halaman utama.

alt
Premier League cost-control rules GFX 1:1GOAL

Bagaimana aturan finansial Premier League melindungi 'Big Six' dan memaksa Aston Villa serta Newcastle, dua pendobrak empat besar, melakukan cuci gudang pemain

Mark Doyle
Diterjemahkan oleh
  • Ketika Aston Villa menjamu Newcastle pada pekan pembuka musim lalu, dua kelompok suporter bergantian melantunkan chant, "Premier League, corrupt as f*ck!" Alasan di balik aksi bersama yang menunjukkan rasa muak terhadap kasta tertinggi Inggris itu jelas bagi semua orang. Villa dan Newcastle sudah lama dianggap, biasanya oleh mereka sendiri dan para suporternya, sebagai dua korban terbesar dari dampak negatif yang dituding timbul dari Aturan Profit & Sustainability (PSR) Premier League.

    Faktanya, pada malam sebelum laga tersebut di Villa Park, manajer Newcastle saat itu, Eddie Howe, mengatakan kepada wartawan, "Tantangan yang dihadapi tim dengan pembatasan itu, seperti yang kami pahami lebih baik daripada siapa pun, adalah menjual pemain yang tidak ingin Anda jual, tidak bisa merekrut pemain yang ingin Anda beli untuk menyegarkan skuad. Dan [masalah-masalah itu] tidak akan hilang begitu saja bagi kami."

    Pesimisme Howe juga dirasakan oleh rekan sejawatnya di Villa, Unai Emery, yang menggunakan catatan program pertandingannya untuk menyerukan peninjauan ulang regulasi tersebut.

    "Kita tidak bisa mengabaikan bahwa musim panas ini berjalan menantang karena aturan finansial membatasi investasi kami pada skuad," tulis pria Spanyol itu. "Aturan kontrol keuangan hadir dalam sepakbola untuk mencegah kebangkrutan dan gagal bayar dengan tujuan yang baik. Namun, sebagai profesional, kami harus meninjaunya kembali, karena alat yang baik ini akan menjadi pembatas bagi klub-klub yang dikelola dengan baik, yang tidak akan pernah diizinkan untuk bermimpi dan meraih target yang lebih tinggi karena pemasukan, yang menjadi kunci dalam aturan finansial ini, membutuhkan waktu untuk menjadi kenyataan setelah kesuksesan di lapangan."

    Dalam satu sisi, Emery mendapatkan apa yang ia inginkan, karena Premier League memperkenalkan sistem finansial baru menjelang dimulainya musim 2026-27. Namun, seperti pepatah lama, Anda harus berhati-hati dengan apa yang Anda inginkan, dan ada pihak-pihak yang percaya bahwa penerapan Squad Cost Ratio (SCR) dan Sustainability and Systemic Resilience (SSR) justru tidak akan meningkatkan peluang Villa dan klub ambisius lainnya untuk menutup kesenjangan ekonomi dengan elite Premier League. Bahkan, beberapa orang justru menduga jarak itu bisa semakin melebar dalam beberapa tahun ke depan...

  • Jembatan angkat ditutup

    FBL-ENG-PR-CHELSEA-WIGAN
    AFP

    Roman Abramovich mengubah Chelsea dengan menghabiskan jutaan untuk pemain-pemain baru pada era sebelum FFP


    PSR diperkenalkan pada 2013 dan pada dasarnya merupakan respons Premier League terhadap keputusan UEFA menetapkan aturan Financial Fair Play (FFP), yang dirancang dengan niat mulia untuk mengatasi ancaman eksistensial yang ditimbulkan terhadap klub oleh pemilik yang tidak bertanggung jawab dan pengeluaran sembrono mereka.

    Meski kedua sistem serupa, aspek kunci dari regulasi Premier League adalah klub tidak boleh merugi lebih dari £105 juta dalam siklus tiga tahun, yang membuatnya menjadi kerangka yang lebih longgar daripada milik UEFA, karena tujuannya adalah memastikan tim yang tidak lolos ke Eropa tetap bisa bersaing di dalam dan luar lapangan di kasta tertinggi Inggris.

    Namun, seiring berjalannya waktu, mulai muncul perasaan bahwa aturan finansial tersebut justru menghambat harapan sejumlah klub untuk naik di tangga Premier League, terutama karena batas kerugian yang diizinkan tidak pernah disesuaikan dengan inflasi.

    Masalah utamanya adalah pemilik baru tidak berada dalam posisi untuk berspekulasi demi berkembang. Sebagai contoh, Newcastle mungkin telah diambil alih oleh Saudi Arabian Public Investment Fund (PIF) pada 2021, tetapi pemilik klub yang sangat kaya raya itu tidak bisa mengeluarkan uang untuk pemain baru mendekati sebanyak yang dilakukan 'Big Six' Premier League (Manchester United, Liverpool, Arsenal, Tottenham Hotspur, Chelsea, dan Manchester City), karena mereka saat itu belum menghasilkan pendapatan yang mendekati kekuatan-kekuatan super tradisional sepakbola Inggris.

    Seperti dikatakan Kieran Maguire dari podcast The Price of Football kepada GOAL, "Apa pun niat awal dari aturan ini, pada praktiknya aturan tersebut telah mencegah klub-klub dengan pemilik baru yang ambisius untuk meniru sosok seperti (mantan pemilik Chelsea) Roman Abramovich dan (pemilik Manchester City saat ini) Sheikh Mansour dengan menginvestasikan dana besar pada pemain dan menanggung kerugian besar untuk mengangkat klub mereka menjadi pemenang trofi secara beruntun."

    Hal ini, hampir tak terelakkan, memicu tudingan dari para suporter yang kecewa bahwa ada satu aturan untuk 'Big Six' dan aturan lain untuk semua tim lainnya, dan musim panas lalu nyaris tidak mengubah persepsi tersebut.

  • Kepergian penting

    Paris Saint-Germain v Aston Villa - UEFA Super Cup 2026
    Getty Images Sport

    Unai Emery kehilangan enam pemain inti dari tim yang mengalahkan Freiburg untuk menjuarai Liga Europa

    Sementara kita masih, secara cukup konyol, menunggu putusan dalam kasus Premier League melawan City atas lebih dari 100 pelanggaran aturan keuangan mereka, dan Chelsea lolos dengan denda yang menggelikan karena pembayaran rahasia kepada agen yang tidak terdaftar dan pihak ketiga terkait transfer era Abramovich yang memainkan peran besar dalam kesuksesan mereka di lapangan, baik Newcastle maupun Villa pada dasarnya menghabiskan musim panas dengan mencoba membangun ulang skuad yang terguncang akibat kehilangan para pemain kunci.

    Setelah terbukti tak berdaya mencegah Alexander Isak hengkang ke Liverpool musim panas lalu, meski dengan biaya transfer rekor Britania Raya, PIF pada musim panas ini terpaksa menyetujui penjualan penyerang terbaik mereka, Anthony Gordon, dan kapten klub Bruno Guimaraes, serta gelandang kunci Sandro Tonali. Namun, Villa terkena dampak yang bahkan lebih parah akibat kepergian pemain, kepergian yang tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan posisi mereka yang lebih rendah dalam rantai makanan dibandingkan tim seperti Arsenal.

    Memang, enam dari 11 pemain yang menjadi starter dalam kemenangan bersejarah final Liga Europa atas Freiburg pada 20 Mei sejak itu telah dijual "demi kebaikan klub", seperti yang dikatakan Emery, dan meski kepergian duet veteran Emiliano Martinez dan Lucas Digne tidak terlalu mengejutkan, para penggemar Villa jelas tercengang melihat Morgan Rogers direkrut Chelsea, yang bahkan tidak lolos ke Liga Champions musim ini, lalu menambah luka dengan mengirim Alejandro Garnacho ke arah sebaliknya.

    Rasa frustrasi para pendukung itu semakin diperparah oleh pemandangan Tottenham Hotspur memulai aksi belanja yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah finis di peringkat ke-17 dalam masing-masing dari dua musim terakhir.

  • 'Pemain ibarat karya seni'

    Chelsea FC v Brighton & Hove Albion - Premier League 2026/27
    Getty Images Sport

    Sulit untuk menentukan nilai sebenarnya seorang pemain di bursa transfer

    Perlu dicatat bahwa alasan utama Villa, yang bersama Newcastle menjadi salah satu pembelanja terbesar dalam sepakbola dunia selama lima tahun terakhir, sampai terjerat masalah finansial dengan Premier League dan UEFA adalah fakta bahwa selama cukup lama lebih dari 90 persen pemasukan mereka habis untuk gaji, serta bahwa mereka, bisa dibilang hingga musim panas ini, memiliki reputasi yang memang pantas sebagai penjual yang buruk.

    Namun pada akhirnya, karena alasan finansial dan historis, baik Villa maupun Newcastle tidak berada dalam posisi untuk menimbun pemain dengan cara yang mendekati Chelsea atau Manchester City, yang berada di level tersendiri dalam hal menghasilkan keuntungan dari kegagalan transfer.

    "Pemain itu seperti karya seni karena tidak memiliki nilai yang disepakati," ujar Maguire, "dan meskipun UEFA memiliki aturan yang cukup ketat sehingga menyulitkan sebuah transfer menghasilkan keuntungan jika dua pemain pindah ke arah berlawanan dalam rentang 45 hari satu sama lain, aturan Premier League lebih longgar.

    "Akibatnya, beberapa transaksi yang kita lihat pada musim panas ini tampak cukup menguntungkan dan membukukan keuntungan untuk perhitungan pengendalian biaya."

    Pertanyaannya sekarang, tentu saja, adalah apakah mengganti PSR dengan SCR dan SSR akan mengubah apa pun, atau hanya mempertahankan status quo. Sekali lagi, Premier League memberikan sedikit kelonggaran lebih besar daripada UEFA, karena liga membatasi pengeluaran di lapangan sebuah klub hingga 85% dari pendapatan terkait sepakbola serta laba/rugi bersih dari penjualan pemain, sementara ambang batas untuk tim yang berkompetisi di Eropa hanya 70%.

    "Kami memberi fleksibilitas lebih bagi klub untuk berinvestasi dari waktu ke waktu agar para pengejar bisa bersaing," jelas CEO Premier League, Richard Masters. “Dan rasio biaya skuad dirancang untuk melakukan hal yang sama. Saya pikir kami memiliki keseimbangan kompetitif yang sangat baik di Premier League dan saya berharap SCR memperkuat hal itu.”

    Memang, Premier League mengklaim bahwa dengan mengalihkan fokus ke biaya skuad, "SCR memberi klub kebebasan yang lebih besar untuk berinvestasi dalam aspek lain dari operasional mereka" (Villa Park sudah sedang direnovasi!), sambil berargumen bahwa menilai klub per musim, alih-alih dalam siklus tiga tahun, akan "memungkinkan penegakan yang lebih tepat waktu" dan "mendorong klub untuk mengelola keuangan mereka secara bertanggung jawab secara real time, alih-alih bergantung pada penyeimbangan keuangan jangka lebih panjang."

  • Liga yang kompetitif atau toko tertutup?

    Liverpool FC v Crystal Palace FC - Premier League
    Getty Images Sport

    CEO Premier League Richard Masters menegaskan aturan finansial kompetisi itu melindunginya dari kesenjangan lebih lanjut antarklub

    Menariknya, Newcastle dan Villa sama-sama memberikan suara mendukung kerangka finansial baru, tetapi chairman Crystal Palace Steve Parish mengatakan tidak akan lama lagi sebelum orang-orang yang sama yang "mengeluhkan PSR" mulai mempermasalahkan SCR dan SSR. Parish dengan tepat memprediksi bahwa "dengan aturan baru ini, penjualan akan menjadi hal yang sangat besar", yang berarti terus-menerus mencairkan produk akademi untuk menghasilkan keuntungan murni demi membantu penyeimbangan neraca, salah satu keluhan utama terhadap PSR, bisa menjadi semakin lazim dalam beberapa tahun ke depan.

    Parish juga berargumen bahwa fakta bahwa Brentford, Brighton, Bournemouth, Fulham, dan Leeds, "mungkin klub-klub paling ambisius di negara ini", semuanya memberikan suara menentang SCR harus dilihat sebagai tanda bahaya yang sangat besar.

    Namun, tak bisa dimungkiri bahwa sesuatu memang harus dilakukan, dan Masters dengan sangat tepat menunjukkan bahwa penghapusan semua regulasi pengendalian biaya akan menimbulkan kekacauan dan menyebabkan kesenjangan finansial yang lebih besar lagi di kasta tertinggi Inggris.

    "Saya pikir liga kami akan terlihat sangat berbeda tanpanya," katanya kepada talkSPORT. "Klub-klub Premier League tidak menginginkan itu. Mereka menginginkan regulasi finansial, meski mereka mungkin semua memiliki versi aturan finansial yang sedikit berbeda yang mereka inginkan untuk diri mereka sendiri. Namun, Villa sudah tampil di Eropa empat kali beruntun, dua kali di Liga Champions. Mereka memenangkan trofi pertama mereka setelah waktu yang sangat lama dan saya tahu mereka ingin terus melaju dari sini, tetapi mereka telah meraih kesuksesan yang fantastis.

    "Newcastle, jelas sedang menjalani musim perubahan karena para pemain mereka pergi, tetapi mereka merekrut yang baru dan mereka punya manajer baru (Matthias Jaissle). Siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Itulah serunya Premier League. Tetapi semua orang seharusnya bisa punya aspirasi di Premier League dan saya pikir itu telah terbukti dalam empat hingga lima musim terakhir."

    Sejumlah kelompok suporter tentu akan tidak setuju, mengingat klub yang menghabiskan uang paling banyak untuk gaji telah memenangi enam dari sembilan gelar terakhir. Bahkan, beberapa orang mungkin akan sampai mengatakan bahwa Premier League saat ini punya masalah bukan hanya dengan daya saing, tetapi juga kredibilitas.

    Namun, Maguire mengatakan bahwa "angka penayangan dan sifat kesukuan basis suporter menunjukkan sebaliknya. Mentalitas sebagian besar suporter adalah 'Klub saya, benar atau salah'. Yang penting bagi mereka hanyalah menang, yang berarti bagaimana Anda mencapainya cenderung cepat dilupakan. Isu tata kelola dan etika secara historis tidak pernah mengakhiri ketertarikan pada permainan ini."

    Jadi, jangan berharap popularitas Premier League akan terpengaruh dengan cara apa pun oleh kontroversi pengendalian biaya yang sedang berlangsung. Meski beberapa suporter mungkin menganggapnya "korupsi banget", mayoritas besar dari mereka yang mengikuti 'Big Six' sangat puas dengan keadaan saat ini, dan dengan demikian kemungkinan besar akan tetap seperti itu untuk masa mendatang.