SPESIAL: Striker Timnas Indonesia U-16 Terens Owang Pernah Ditolak Main Bola Karena Dinilai Terlalu Pendek, Hingga Menjual Kaleng Untuk Beli Bola

Marince Fonataba senang putranya memperkuat timnas U-16 berlaga di Thailand.
Marince Fonataba, perempuan paruh baya ini sangat terharu dan bangga saat mendengar putranya mampu mencetak gol dan terpilih memperkuat timnas U-16 berlaga di Thailand.

Dia baru saja telepon, bilang kalau mencetak gol dan meminta doa ibu agar menambah semangat dalam bertanding. Padahal, ibunya masih ingat betul, dulu ketika Terens Owang Priska Puhuri masih berumur 10 tahun, ia ingin sekali membeli bola kaki tapi tak punya uang sepeserpun. Apalagi sejak ayahnya Ricky Nelson Puhuri pergi meninggalkan mereka. Praktis hanya ibunya seorang diri yang menjadi orang tua sekaligus ayah bagi mereka.

Memahami pekerjaan mamanya yang berat menjadi pembantu dan sesekali mencuci pakaian di rumah pejabat, hingga Terens dan kedua saudaranya tidak banyak sekali menuntut. Justru, dia ikut menolong dan membantu Mama Fonataba.

“Bola kaki barang mahal yang tak bisa mama beli," tutur Mama Fonataba kepada GOAL.com Indonesia di kediamannya, Jl Angkasapura, Jayapura, Rabu (14/9).

Sejak adik perempuannya masih dalam kandungan, ayahnya telah pergi meninggalkan mereka, praktis hanya Mama sendiri yang membesarkan ketiga anak.

Marince Fonataba "Saya harus membesarkan ketiga anak saya masing-masing, Ricardo, Terens dan Novila,” papar Mama Fonataba.

Kakaknya yang tertua sekarang masih duduk di kelas III SMA dan adiknya sekolah di SMP. Kondisi inilah yang membuat Mama Fonataba terus membanting tulang mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Sementara Terens sendiri sekarang bersekolah di SMA Taruna Persada Jakarta dan pelatih Amos Makanway dari SSB Numbay Star yang mengurus pendidikannya.

"Mama masih berharap Terens pulang saja ke Jayapura untuk kita mengucap syukur atas semua perjalanannya ke Thailand,” tutur Mama Marince Fonataba.

Tekadnya yang bulat untuk membeli bola kaki sangat besar dan setiap hari dia berjalan kaki mengumpulkan kaleng-kaleng aluminium bekas minuman ringan dari rumah ke rumah untuk dijual.

"Waktu itu kita tinggal di Argapura dan hampir setiap hari Terens bersama teman-temannya selalu bermain bola,” papar Mama Fonataba.

Kemudian hasil jualan kaleng bekas dipakai untuk membeli bola dan setiap hari sesudah pulang sekolah. Bola itulah yang selalu ditendang bersama teman-teman sebayanya.

Bakatnya mulai kelihatan saat terpilih dan masuk ke Sekolah Sepakbola Numbay Star pada 2007 lalu. Kebetulan penasihat dan pembina SSB Numbay Star adalah kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) provinsi Papua, Jansen Monim. Bahkan anak kepala dinas PU Papua, Rey Monim juga pemain bola SSB Numbay Star bersama Terens. Walau berteman akrab dengan Rey tetapi Terens selalu bekerja di rumah kepala dinas PU untuk menyiram bunga dan membersihkan halaman.

"Bapak dan Ibu Monim sangat baik dan selalu bersedia membantu kami," tutur Mama Fonataba terharu.

Dia menuturkan, Terens pertama kali hendak bergabung main bola pada 2006 bersama Numbay Star, dicoret karena dinilai terlalu pendek. Hal ini membuatnya hampir putus asa tetapi kemauannya sangat keras untuk mengasah ketrampilannya bermain bola. Barulah pada 2007, Terens  terpilih dan memperkuat SSB Numbay Star, waktu itu timnya gagal jadi juara Liga Danone karena kalah melawan Akademi Sepakbola Emsyk. Setahun kemudian, Numbay Star menjadi juara Liga Danone setelah mengandaskan Emsyk dan berangkat ke Jakarta. Di Jakarta, Terens dan kawan-kawan hanya sampai ke babak semi-final saja dan kalah melawan Jawa Tengah. Namun setidaknya Terence terpilih menjadi pemain terbaik dan menjadi topskor dengan torehan lima gol.

“Saat bermain di SSB Numbay Star dia selalu menempati posisi sebagai striker, tetapi di timnas U-16 posisinya di gelandang," tutur pelatih SSB Numbay Star, Amos Makanway.

Dia itu adalah pemain selalu bermain dengan sentuhan bola dari kaki ke kaki. Skill individunya bagus dan juga memiliki bakat yang mumpuni. Bukan hanya itu saja, tapi larinya sangat kencang hingga tak heran kalau memiliki speed yang tinggi.

Terens Owang Priska Puhuri lahir di Jayapura, 13 Oktober 1996. Menurut sang pelatih, dia memiliki peluang untuk bisa menjadi bintang masa depan Persipura atau mungkin timnas.

"Asalkan perlu motivasi dan dorongan yang tinggi dari semua pihak,” harap Amos Makanway.

Hal senada juga diungkapkan penasihat teknis Persipura U-15, Ferdinando Fairyo, yang menilai gaya bermain Terens hampir mirip dengan Zah Rahan.

"Saya justru mengusulkan dia bisa magang bersama skuad Persipura senior," papar Fairyo. (gk-34)


>> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Semua Berita Sepakbola Indonesia