EKSKLUSIF - Mirwan Suwarso: Go International Lewat Film "Golden Goal"

GOAL.com Indonesia secara khusus mewawancarai Mirwan Suwarso tentang film "Golden Goal" yang disutradarainya.
Oleh Bima Prameswara Said

Setelah sukses merilis film "Susahnya Jadi Perawan" tahun lalu, sutradara dan penulis skenario Mirwan Suwarso (foto) belakangan ini sibuk merampungkan film "Golden Goal".

Awalnya, film komedi sepakbola itu berjudul "Bola Itu Bundar" (versi internasional The Ball is Round). Namun, Mirwan memutuskan untuk mengubah judulnya agar lebih cocok dengan selera internasional.

Suaminya Nova Eliza itu tak tanggung-tanggung memasarkan film ini ke Amerika Serikat, Eropa, Australia dan kawasan Asia lainnya.

Deretan pemeran film ini pun patut diacungi jempol. Selain dibintangi sang istri sendiri, Mirwan menempatkan sejumlah nama beken dari Indonesia maupun mancanegara untuk membintangi film tersebut.

Sebut saja antara lain Costas Mandylor (Saw), Jimmy Jean-Louis (Heroes), Louis Mandylor (My Big Fat Greek Wedding), Anthony Lapaglia (Without A Trace), Roberto Urbina, Tio Pakusodewo (Berbagi Suami), mantan pemain Chelsea dan timnas Prancis Frank Leboeuf, Monej Cruz, Happy Salma (Gie), presenter ESPN STAR Sports John Dykes, mantan striker timnas Kurniawan Dwi Yulianto, Butet Kertaradjasa (Banyu Biru, Maskot, Koper), dan Jajang C. Noer (Biola Tak Berdawai).

Melihat pemain-pemain kelas dunia di atas, film ini tentunya berpeluang menjadi box-office hit, dan sangat dinantikan beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Sebetulnya, kapan kita bisa menyaksikan film ini di tanah air? Simak petikan wawancaranya berikut ini.

GOAL.com: Bagi penggemar bola di tanah air, film ini boleh dikatakan sebagai salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Sebetulnya, apa alasannya "Bola Itu Bundar" berganti judul menjadi "Golden Goal"?

MIRWAN SUWARSO: Sebenarnya perubahan nama ini lebih ditujukan untuk pemasarannya ke pasar internasional. Pada saat kami membawa film ini ke pasar AFM (American Film Market), kami ingin para pembeli langsung mengerti bahwa film ini adalah film sepakbola, dan hal itu yang menyebabkan perubahan title dan artwork. Di pasar ini ada hampir 6000 film yang dipasarkan, dan tim penjualan kami berpendapat kalau "The Ball is Round" terlalu berkesan sebagai documentary, bukan feature film. Dan hal ini terbukti benar setelah melihat reaksi pasar kemarin di mana kita berhasil menjual film ini ke Afrika Selatan dan Afrika luas, Polandia, dan Amerika. Pada saat inipun kita masih bernegosiasi dengan Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Turki, Australia dan India untuk pemasarannya.

GOAL.com: Padahal, soundtrack dengan judul lagu "The Ball is Round" sudah diciptakan Anang, dinyanyikan oleh Dedy Lisan vokalis Andra & The Backbone, dan dapat didownload gratis di situs bolaitubundar.com. Dengan perubahan judul film, apakah soundtrack baru akan dirilis?

MIRWAN: Tidak, kita tidak akan membuat soundtrack baru, lagu "The Ball is Round" akan tetap menjadi theme song film "Golden Goal".

GOAL.com: Di Facebook, Anda menyebutkan film ini dirilis "sepertinya Januari 17 di Amerika dulu, baru setelah itu di Indonesia." Padahal di laman resmi disebut "mungkin Desember atau bahkan awal tahun 2009" sudah beredar di Indonesia." Kok mundur terus? Ada masalah apa saja? Dan kira-kira bolehkan penonton berharap untuk menyaksikan film ini Maret-April di Indonesia?

MIRWAN: Dengan mengutamakan distribusi internasional, film inipun kami pasarkan ke distributor internasional yang memiliki pengalaman untuk mengurus pemasaran film ke mancanegara. Bekerja dengan mereka, banyak standar kualitas yang harus kita tingkatkan dalam produksi film, misalnya suara harus Dolby 5.1, trek suara pun harus dipisah antara musik dan dialog dan ditambah trek lagi untuk dubbing (Jerman, Prancis, dan lain-lain). Selain itu, kita juga banyak mempertimbangkan rasio penggunaan bahasa. Pada saat syuting, rasio Indonesia-Inggris adalah 50-50. Dengan mempertimbangkan pasar internasional, film ini sekarang sudah menjadi 80-20 bahasa Inggris. Hal ini tentunya memerlukan editing ulang dan bahkan syuting ulang.

Mengenai pemasaran di Indonesia, sayangnya di sini tidak ada distributor yang bisa mengambilalih pemasarannya. Untuk memasarkan film di Indonesia, kami harus mencetak kurang lebih 70 copy master yang bisa menambah biaya produksi Rp500 juta hingga Rp1 milyar lagi. Terus terang kami tidak berminat untuk melakukan hal ini. Namun, mungkin setelah hasil penjualan internasional terkumpul, kami akan mengambil sebagian keuntungan untuk memutar film di Indonesia. Tapi jika film ini tidak mendapatkan distributor, kami akan merilisnya langsung ke RCTI.

GOAL.com: Bagaimana perasaan Anda ketika salah satu bintang film ini, Muhammad Rifky, diberi kesempatan bermain profesional bersama Persiba Balikpapan? Apakah pemecatan pelatih Peter Butler akan berdampak buruk terhadap Rifky?

MIRWAN: Agak lucu dan senang melihat Rifky menjadi pemain liga. Saya pribadi memang sudah sering melihat dia bermain dan yakin kalau dia memang memiliki kemampuan. Namun, sayangnya sampai saat ini baru bisa satu kesempatan menonton dia bermain, dan belum sempat mengikuti perguliran Superliga Indonesia.

GOAL.com: Secara pribadi, bagaimana penilaian Anda terhadap film "Gara-Gara Bola" yang dirilis baru-baru ini? Apakah Anda yakin film "Golden Goal" jauh lebih bagus?

MIRWAN: Jujur saja, saya belum menonton film "Gara-Gara Bola", tapi film "Golden Goal" adalah sebuah komedi dengan taste yang sedikit condong ke gaya jokes Amerika, jadi pastinya beda sekali. Mungkin persamaannya lebih ke film Adam Sandler yang Longest Yard, atau Mighty Ducksnya Disney.