Berita Live Scores

FOKUS: Romeo Juliet, Tragedi Cinta Berlatar Fanatisme Suporter

Oleh Henry AA

Rangga adalah salah satu anggota The Jak Mania, suporter fanatik Persija. Ia bahkan mengelola toko yang menjual pernak-pernik yang berhubungan dengan klub Persija. The Jak dan Viking dikenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka sering bentrok dan saling berkelahi kalau kedua tim saling bertanding.

Suatu hari, Rangga dan beberapa anggota The Jak memergoki bus anggota Viking sedang berada di Jakarta untuk menonton pertandingan Persib dan Persija. Sontak saja bus diserbu dan terjadi perkelahian. Tapi Rangga ngeliat Desi, salah satu anggota Viking yang cantik dan membuatnya terpesona. Rangga pun jatuh cinta pada pandangan pertama.

Setelah mendapat informasi tentang Desi, yang ternyata seorang Lady Vikers (klub suporter perempuan Persib) Rangga tidak gentar. Ia memberanikan diri pergi ke Bandung. Singkat kata mereka pun bertemu. Desi dan Rangga akhirnya mengakui kalau mereka saling mencintai. Mereka tidak peduli meskipun mendukung klub yang berbeda dan saling bermusuhan.

Beberapa teman Rangga mencoba memperingatkan soal Desi yang ternyata kakaknya adalah ketua Viking. Rangga bilang ia tetap mendukung Persija meski jatuh cinta sama pendukung Persib. Sementara Rangga yang beberapa kali datang ke rumah Desi, mengundang kecurigaan beberapa anggota Viking yang merasa kalau Rangga adalah anak The Jak.

Begitu identitas Rangga terbongkar, hubungannya dengan Desi langsung ditentang oleh kakaknya.  Sementara di Jakarta, mulai banyak yang tahu kalau Rangga berpacaran dengan anak Viking. Rangga pun mulai dijauhi teman-temannya, dan tokonya sempat diteror dan dirusak. Untungnya Rangga masih didukung beberapa sahabatnya.

Berkat dukungan dari teman-temannya itulah, Rangga bertekad untuk menyatukan cintanya dengan Desi yaitu dengan mengajaknya menikah.
Meski ditentang kakaknya, Desi mendapat restu dari ibunya untuk menikah. Rangga dan Desi menikah di Jakarta. Setelah itu, Desi kembali ke Bandung dan berjanji untuk bertemu di Malang, kota yang dianggap netral buat pendukung Persija dan Persib.

Rangga pergi ke Malang dan berencana mengajak Desi pergi saat pertandingan Arema melawan Persib. Sayangnya usaha mereka gagal karena keburu dipergoki anggota Viking. Rangga kembali menyusun rencana untuk menjemput Desi. Kali ini, Rangga dan beberapa temannya bertekad pergi ke Bandung. Kalau ada anak The Jak pergi ke Bandung, maka diibaratkan seperti tindakan bunuh diri.

Persija dan Persib termasuk klub sepakbola terbesar di Indonesia. Kedua klub juga berada di dua kota besar dan penting di negara ini. Bukan itu saja, suporter kedua kesebelasan juga termasuk yang terbesar. The Jak dan Viking selalu berseteru dan tiap kali mereka bertemu hampir pasti terjadi keributan.

Kebencian kedua klub suporter rasanya memang sudah mendarah-daging dan turun-temurun. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, kalau kedua tim bertemu yang datang hanyalah suporter tim tuan rumah. Jadi kalau misalnya Persib dan Persija bertanding di Bandung, maka yang datang hanya suporter Persib dan begitu juga sebaliknya.

Karena itu kalau ada suporter mereka yang saling jatuh cinta dan berpacaran, bisa diibaratkan perseteruan keluarga Montague dan Capulet dalam kisah Romeo & Juliet karya William Shakespeare. Sang penulis merangkap sutradara, Andibachtiar Yusuf atau Ucup, bisa memadukan kisah cinta terlarang itu dengan idenya yang cemerlang dan sangat mengena.

Suka atau tidak suka, beginilah situasi persepakbolaan kita yang penuh masalah dan tragedi. Diantara perseteruan itu, ada orang-orang seperti Desi dan Rangga yang menyadari kalau fanatisme yang berlebihan bisa merugikan para suporter itu sendiri dan juga orang lain.

Cerita yang menarik ini ditunjang dengan penampilan para pemainnya yang mengesankan. Sebagai pedatang baru, Edo Borne (pemeran Rangga) berakting dengan natural dan punya chesmistry yang kuat dengan Sissy, pemeran Desi. Setelah menyutradarai film dokumenter yang berhubungan dengan sepakbola, The Jak dan The Conductor, Romeo Juliet seperti menjadi sajian yang lebih lengkap dari Ucup.

Berbeda dengan Gara-gara Bola yang lebih menonjolkan unsur komedi, film ini memang lebih mengena karena secara tidak langsung menyoroti masalah pelik persepakbolaan nasional, terutama fanatisme suporter yang sering kebablasan. Hal itu bahkan diakui oleh Ramdani, salah seorang punggawa Jak Online.

“Ada yang bilang film ini menjelekkan-jelekkan suporter klub tertentu dan adegan kekerasannya berlebihan. Tapi setelah menonton filmnya, ternyata bagus dan memotret perseteruan The Jak dan Viking dengan apa adanya dan begitulah yang memang kerap terjadi. Secara diam-diam sepertinya ada yang menjalin cinta terlarang seperti Rangga dan Desi, tapi pastinya tidak sedramatis seperti di film, mereka mungkin lebih memilih diam-diam saja,” ujarnya.

Sudah banyak korban yang jatuh akibat fanatisme yang picik dan sayangnya belum kunjung ditemukan penyelesaian yang jitu dalam menangani masalah tersebut. Menonton film ini seperti menelan pil pahit yang memang sebaiknya diminum demi menyembuhkan salah satu penyakit kronis di dalam tubuh persepakbolaan Indonesia.