Deretan Pahlawan Yang Membawa Klub Indonesia Juara

Goal Indonesia mengulas sosok penting yang jadi pahlawan klub di pentas Liga Indonesia dan ISL.

GOALOLEH    FARABI FIRDAUSY     Ikuti di twitter

Memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada, hari ini, Goal Indonesia coba mengingat para sosok pejuang di lapangan hijau. Yang kemudian diingat sebagai pahlawan bagi tim mereka oleh para suporter.

Mereka yang berjuang di atas lapangan hijau patut disebut sebagai pahlawan kemenangan dengan mencetak gol penentu untuk membawa timnya meraih titel. Dan Goal Indonesia telah merangkum siapa saja pemain lokal yang jadi sosok inspiratif untuk mengantarkan timnya juara di pentas Liga Indonesia hingga era Indonesia Super League (ISL). Berikut ulasannya:
 
Sutiono Lamso

Membawa Persib Bandung meraih titel Divisi Utama Perserikatan 1989/90, 1993/94 dan Liga Indonesia 1994/95, Sutiono Lamso layak disebut sebagai pahlawan publik Bandung dengan gol-golnya.

Momen krusial yang menasbihkan pria kelahiran Purwokerto 1966 ini adalah partai puncak Liga Indonesia 1994/95, di mana saat itu Persib arahan Indra Thohir sukses menekuk Petrokimia Putra 1-0 di Stadion Gelora Bung Karno. Gol tunggal tersebut lahir dari sosok Sutiono Lamso. Yang selama kariernya dikenal sebagai striker lokal Maung Bandung yang paling subur.

Tugiyo

Final Liga Indonesia 1998/99 paling tak enak untuk dikenang Persebaya Surabaya. Mendominasi hampir sepanjang pertandingan, Bajul Ijo pada akhirnya harus pulang dengan tangan hampa dari Stadion Klabat, Manado. Dan Tugiyo jadi aktor keberhasilan PSIS Semarang mengalahkan Persebaya pada saat itu.

Sosok striker mungil ini, sekitar 164 cm, mengantarkan PSIS menjadi kampiun Liga Indonesia ketika usianya baru berusia 22 tahun. Golnya membuyarkan dominasi Persebaya pada laga puncak. Tapi, kontribusinya jauh sebelum laga final tersebut. Ia sudah jadi mesin gol Mahesa Jenar sejak babak sepuluh besar.

Dengan giringan bola yang lengket di kaki serta kelincahannya mengelabui lawan, Tugiyo disebut Maradona dari Purwodadi. Sayangnya, cedera turut membabat kariernya setelah jadi pahlawan PSIS.

Kurniawan Dwi Yulianto



'Si Kurus' biasa ia disebut, namun postur tubuh kurusnya itu tak mengerdilkan Kurniawan Dwi Yulianto ketika di kotak penalti lawan. Jadi salah satu striker paling dikenal di Indonesia, Kurniawan membantu PSM Makassar menambah gelar pada Llga Indonesia musim 1999/00.

Sepasang gol ia cetak pada laga final kontra Pupuk Kaltim di Stadion Gelora Bung Karno. Ayam Jantan Dari Timur menjadi juara Liga Indonesia dengan skor akhir 3-2. Gol Kurniawan dicetak pada menit 39' dan 62', ditambah gol dari Rachman Usman pada menit ke-55. Sedangkan Pupuk Kaltim hanya mampu membalas lewat gol Aris Budi Prasetyo menit 75' serta penalti Fachry Husaini menit 80'.

Bambang Pamungkas



PSM Makassar bertekad untuk meraih titel Liga Indonesia secara beruntun. Persija Jakarta jadi lawan Juku Eja pada final Liga Indonesia 2000/01, di Stadion Gelora Bung Karno. Laga berjalan sengit, dan akhirnya melahirkan Macan Kemayoran sebagai juara.

Bambang Pamungkas jadi sosok pembeda di laga yang berjalan sengit tersebut. Sepasang gol ia lesakkan ditambah sebiji gol dari Imran Nahumarury, yang hanya mampu dibalas dua gol oleh kubu PSM lewat Miro Baldo Bento dan Kurniawan.

Titel ini sekaligus gelar pertama bagi Persija setelah Perserikatan dan Galatama dilebur. Sepasang gol Bepe di laga final ini layak menempatkannya sebagai salah satu pahlawan bagi tim Macan Kemayoran. Bepe pun hingga kini masih melekat sebagai ikon tim ibukota, meski sempat berganti kostum saat Indonesia Super League 2014 - di mana ia membela Pelita Bandung Raya.

Ian Louis Kabes



Namanya mungkin tidak semengilap Boaz Solossa, namun Ian Louis Kabes satu-satunya pemain Persipura Jayapura yang sebanding dengan bomber tim nasional Indonesia itu. Ya, Ian dan Boaz sama-sama telah berseragam merah-hitam selama sepuluh tahun, dan keduanya kini jadi sosok lokal paling senior untuk tim.

Momen patriotik Ian bagi Persipura di lapangan hijau terjadi pada final Liga Indonesia 2005 saat melawan Persija Jakarta.  Laga berjalan ketat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Persija yang bermain di publik sendiri memimpin cepat lewat gol Agus Indra pada menit kesembilan, yang kemudian dibalas oleh Boaz tujuh menit berselang.

Hampir sejam laga berjalan, Francis Wewengkang membawa Macan Kemayoran unggul dengan golnya. Beruntung Korinus Fringkeuw jadi penyelamat Mutiara Hitam dari kekalahan berkat golnya di menit 82'. 90 menit pertandingan berjalan, ternyata skor tak berubah.

Laga yang harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu itu akhirnya dimenangkan oleh Persipura, dan Ian Louis Kabes jadi pahlawan yang menentukan gelar Persipura lewat golnya pada menit 101'.

Cristian Gonzales



Cristian Gonzales muda jadi bagian dari era keemasan Persik Kediri. Bomber yang sejatinya kelahiran Uruguay itu membantu tim Macan Putih di berbagai ajang termasuk mengantarkan Persik menjadi juara Liga Indonesia 2006.

Laga alot namun keras berlangsung di Stadion Manahan Solo, partai puncak memperemukan Persik dengan PSIS Semarang. Kedua tim sama kuat tanpa gol hingga waktu normal berakhir. Dan, ketika laga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu, Gonzales jadi pahlawan Persik dengan gol tunggalnya di menit 107'.

Uniknya, pada momen tersebut, Gonzales juga harus keluar lapangan lebih cepat. Karena dua menit setelah ia mencetak gol, wasit Jimmy Napitupulu mengganjarnya dengan kartu merah - yang memaksa striker berjuluk El Loco itu mandi lebih awal dan membuat Persik bermain dengan sepuluh orang tersisa.

Beruntung Persik mampu mempertahankan keunggulan sehingga kartu merah Gonzales tak mencoreng gol krusial yang ia buat. Pada musim itu juga, bomber subur timnas Indonesia ini mendapat gelar top skor dengan torehan 29 gol.