Sejarah Hari Ini (7 November): Persib Bandung Putus Dahaga Gelar

Euforia yang akan selalu dikenang Bobotoh terjadi di Palembang sebagaimana Persib akhirnya sukses menjuarai ISL 2014.

GOALOLEH    FARABI FIRDAUSY     Ikuti di twitter

Tepat setahun lalu, Stadion Gelora Jakabaring, Palembang, jadi tempat paling mengesankan bagi suporter Persib Bandung. Markas dari Sriwijaya FC itu seketika membiru kala menghelat laga final Indonesia Super League 2014 yang mempertemukan Persib dan Persipura Jayapura.

Kedua tim berpeluang menorehkan catatan tersendiri pada malam itu. Persib punya misi memutus dahaga gelar selama hampir 20 tahun sedangkan Persipura memiliki peluang untuk mematahkan mitos tahun genap, di mana belum ada tim yang bisa secara beruntun menjuarai kompetisi teratas liga Indonesia sejak berformat ISL.
 

SUSUNAN PEMAIN


Dede Sulaiman

Yus Pae, Bio Paulin, Dominggus Fakdawer, Ruben

Lim Jun Sik

Imanuel Wanggai, Gerald Pangkali

Robertino Pugliara

Boaz Solossa 


I Made Wirawan

Supardi, Achmad Jufriyanto, Vladimir Vujovic, Tony Sucipto

Hariono

Firman Utina, Makan Konate


Muhamad Ridwan, Ferdinand Sinaga, Tantan 

Persib yang mendapat dukungan lebih banyak ketimbang Persipura dibuat terhenyak ketika gol cepat dari Ian Kabes terjadi saat laga baru berjalan lima menit. Pressing tinggi anak-anak Maung Bandung berbuah petaka ketika Gerald Pangkali secara cermat melepaskan bola daerah yang langsung dikejar Ian Kabes. Vladimir Vujovic sebagai orang terdekat tak bisa mengejar Ian yang melaju begitu cepat dan dengan mantap melesakkan bola ke gawang kawalan Made Wirawan. 1-0 untuk Persipura.

Minoritas suporter Persipura mulai lebih berisik ketika tim mereka bisa mendominasi laga. Makan Konate yang bagaikan dinamo di lini tengah rajin menyuplai umpan-umpan manja kepada Tantan dan Ferdinand Sinaga. Sayangnya, kedua nama tersebut masih stagnan di sepuluh menit awal dan mudah diadang duet Dominggus Fakdawer dan Bio Paulin.

Djadjang seakan sadar bahwa menyerang dengan agresif bukan jawaban untuk menembus rapihnya pertahanan Persipura. Persib mulai sabar dan trio lini depan mereka lebih rajin membangun serangan dari belakang untuk memulai serangan balik. Hasilnya, kecepatan Ferdinand mulai menjadi sinyal bahaya untuk Bio - yang akhirnya diganjar kartu kuning pada menit ke-21 akibat menjegal Ferdinand.

Persipura banyak melakukan pelanggaran menyusul Maung Bandung yang mulai mampu menemukan ritme permainan dengan memaksimalkan kegigihan penyerang mereka. Petaka bagi tim asuhan Mettu Duaramuri pun terjadi saat Bio terpaksa menahan laju Ferdinand yang coba menyisir sektor kiri untuk menerobos kotak penalti. Kartu kuning kedua diterima Bio dan Persipura harus bermain dengan sepuluh pemain tersisa.

 
Tendangan bebas dari jarak ideal diperoleh kubu Persib, Firman Utina yang mengambil tendangan dengan mantap melepaskannya meski menyasar ke mistar gawang. Kemelut pun terjadi, bola liar langsung disambar dengan salto Achmad Jufriyanto, tapi Dede Sulaiman bereaksi dan masih bisa menepisnya. Tak sampai di situ, Ferdinand gesit menyambar bola yang kemudian terbentur Imanuel Wanggai dan akhirnya menjadi gol penyama jelang turun minum.

Unggul jumlah pemain, Persib lebih leluasa dalam membangun serangan. Bio yang harus mandi lebih awal meninggalkan lobang di pertahanan Persipura. Hingga pada tepatnya menit ke-52, Firman secara cermat melihat ruang kosong untuk memberi umpan terobosan kepada Ridwan, yang langsung merangsek masuk dari sisi kanan. Dede yang sudah coba menahan laju Ridwan akhirnya tetap harus memungut bola dari gawangnya sendiri. 2-1, Persib balik unggul.

Kalah jumlah pemain tak membuat tim Mutiara Hitam melemah soal sisi serangan. Uniknya, Boaz nampak berkonsultasi dengan Mettu dan gesturnya seakan meminta Ferinando Pahabol masuk untuk mendampinginya di lini depan. Striker mungil itu pun masuk menggantikan Ian pada menit 69'.

Pahabol pun memberi impak siginifikan kepada daya gedor Persipura. Beroperasi di sektor kiri pertahanan Persib, Pahabol jadi katalis dalam serangan Persipura. Serangan balik yang berawal darinya akhirnya melahirkan gol penyama kedudukan. Masuk dari sisi kiri, Pahabol mengirim umpan kepada Robertino Pugliara yang kemudian memberikan umpan silang mendatar dan disantap dengan mantap oleh Boaz yang muncul dari belakang. 2-2 di menit 79'.

Unggul jumlah pemain, unggul gol, hingga akhirnya melemah dan kejebolan, membuat Djadjang tak bisa menyembunyikan ekspresi kekecewaannya. Pelatih asal Majalengka itu dengkulnya seakan melemas ketika Boaz menyamakan kedudukan saat waktu normal menyisakan sepuluh menit. Sedangkan bench dari Persipura kembali bergairah. Hingga 90 menit laga dimainkan, skor 2-2 tetap bertahan.

Pada perpanjangan waktu, dominasi jadi milik Persipura yang berjuang dengan sepuluh pemain. Celakanya, Persib yang seakan hilang konsentrasi malah harus kehilangan Vujovic karena kartu kuning kedua. Bek asal Montenegro itu melakukan tindakan konyol dengan menanduk bola yang sudah di dekapan Dede Sulaiman. Untung saja, Persib masih mampu menahan skor 2-2 hingga laga harus ditentukan lewat adu penalti.

Konate dipercaya jadi eksekutor pertama, dan sepakannya yang terbaca oleh Dede masih terlalu keras untuk bisa dimentahkan. Dari kubu Persipura, sang kapten Boaz Solossa dengan dingin sukses melakasanakan tugasnya di mana Made benar-benar terkecoh.

Berturut-turut algojo Persib, Ferdinand Sinaga, Tony Sucipto, dan Supardi sukses menuntaskan tugasnya. Lalu dari kubu Persipura, Yohanes Pahabol dan Robertino Pugliara mampu membobol gawang Persib. Hingga akhirnya, Made mampu menepis tendangan Nelson Alom yang mengarah ke sisi kanan. Sesaat berada di atas angin, tak serta-merta membuat Bobotoh cukup lega untuk merayakan kesuksesan Made menepis tendangan dari Alom.

Jufriyanto jadi penendang terakhir dari Persib, raut tegang tak bisa ia hilangkan ketika menuju titik putih sambil diiringi wajah cemas penuh harapan dari pemain Persib yang berlutut setelah menyelesaikan tugasnya. Bola yang ditendang Jufriyanto pun akhirnya melumerkan suasana tegang puluhan ribu Bobotoh di Jakabaring, sebagaimana tendangannya sukses memperdaya Dede - sekaligus memastikan sang Pangeran Biru memutus dahaga gelar yang didambakan hampir 20 tahun.