PSMS Ngotot Keluar Dari IPL

Idris menegaskan PSMS tetap beralih dari IPL.
Masuknya nama PSMS dalam daftar klub Liga Prima Indonesia (IPL) dan sanggahan pihak klub pernah mendaftarkan diri ke PSSI semakin memanas. 

Pelaksana teknis PSMS, Idris, tetap menegaskan PSMS tak mengubah keputusan sebelumnya untuk beralih dari IPL. Hal itu, lanjutnya, ditandai dengan tidak mengirimkan berkas registrasi ulang IPL hingga tenggat waktu  26 Oktober.

“Prinsipnya PSMS telah memutuskan main di Divisi Utama. Kami punya sikap dan pendirian untuk tidak terima hadiah yang diberikan PSSI. Silahkan saja didaftarkan oleh siapa, tapi kalau kami tidak mau main di sana (IPL), mereka (PSSI) mau bilang apa,” ujarnya, Kamis (27/10).

PSSI melalui PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) telah mencantumkan nama PSMS dan pendaftaraannya atas nama PT Bintang Medan Metropolitan sebagai pemegang legalitas PSMS melalui Dityo Pramono. Soal ini, mantan manajer PSMS musim lalu itu menyebut pencantuman nama PSMS dilakukan sama sekali tanpa melibatkan kepengurusan. "Itu akal-akalan konsorsium dan PSSI," tegasnya.

Idris kemudian menantang wewenang Dityo Pramono yang sudah mendaftarkan PSMS tanpa koordinasi. “Ginilah, saya mau tanya, Dityo (Pramono) itu siapa di PSMS? Dia tidak punya wewenang, kesepakatan masih ada di MoU, belum ada tindak lanjut. Konsorsium boleh kasih sampan, kalau kita tidak mau naik sampan itu, bagaimana,?” paparnya.

Bukan hanya soal Dityo, Idris juga blak-blakan mengkritik ketua Komite Kompetisi PSSI Sihar Sitorus yang menyebut soal sanksi bagi klub yang enggan ikut IPL.  “Sihar (Sitorus) jangan sembarangan mengeluarkan pernyataan itu. Ingin mempertegas aturan tapi justru sebagai pelaku. Manual liga saja belum ada, jadwal tak becus. Stres kita dibuatnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dityo Pramono yang dikonfirmasi menjelaskan keberaniannya mendaftarkan PSMS, lantaran memang sudah ada tindak lanjut MoU merger antara PSMS dan Bintang Medan, kemudian menelurkan keputusan PSMS menggunakan PT Bintang Medan Metropolitan. Dityo juga menunjukkan bukti berupa surat “Perjanjian Hak Pengelolaan Klub PSMS Medan antara Badan Pengelola PSMS Medan dengan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan" kepada media via email.

Dalam perjanjian itu memang terlihat jelas ada lanjutan MoU yang ditandatangani ketua umum PSMS Medan dan atau ketua Badan Pengelola PSMS Medan Rahudman Harahap sebagai pihak pertama, dan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan Widjajanto sebagai pihak kedua. Surat kesepakatan tersebut ditandatangani Jumat (23/9) yang lalu di atas materai Rp6 ribu. “Kami menyertakan bukti  kesepakatan bersama antara konsorsium dan PSMS, dan itu bukan mengada-ada,” jelasnya.

Di tempat terpisah, pelaksana teknis PSMS lainnya, Benny Tomasoa, yang sebelumnya menyatakan PSMS ikut IPL dan tertuang dalam manager meeting di Jakarta beberapa waktu lalu, mencoba memberikan penjelasan. Dia menyebut, awalnya keputusan PSMS untuk ikut kompetisi LPI dilakukan setelah ada perintah dari Idris.  “Saat menghadiri manager meeting klub peserta kompetisi PSSI sebagai perwakilan PSMS terjadilah dua kubu, selain kompetisi PSSI juga 14 klub ikut Superliga. Karena tidak bisa memutuskan, saya minta petunjuk dari Pak Idris, bukan keputusan saya sendiri. Yang saya herankan, kenapa tiba-tiba berubah?” paparnya.

Benny sendiri dalam manager meeting itu, nyaris beradu fisik dengan Dityo Pramono yang menurut Benny mengaku sebagai CEO PSMS, padahal pemilihan CEO hingga saat ini belum ada.  "Untuk diketahui, saat ini pengurus PSMS itu Pak Wali (Rahudman). Selebihnya termasuk saya sendiri hanya membantu. Tapi saya terus terang heran, kok bisa jadi kayak gini kondisi PSMS," tukasnya.  (gk-38)


>> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Semua Berita Sepakbola Indonesia