Lima Kunci Juara Paris Saint-Germain

PSG akhirnya mampu keluar dari tekanan hebat Lyon untuk mengamankan titel Ligue 1 ketiga beruntun. Laurent Blanc punya lima resep dalam mempertahankan status juara bertahan.

GOALOLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Paris Saint-Germain masih tak terbendung di Ligue 1 Prancis. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Les Parisiens kembali menahbiskan diri menjadi kampiun musim ini setelah mengatasi Montpellier akhir pekan ini.

Meski di edisi 2014/15 secara statistik performa menyeluruh PSG terbilang menurun dibanding musim lalu, namun klub ibu kota nyatanya masih terlalu superior untuk dijungkalkan dari singgasana.

Di tengah kemerosotan, duo Olympiques, Lyon dan Marseille, sempat menjulang di paruh pertama musim dengan keduanya silih berganti menguasai puncak klasemen. Namun PSG tetaplah PSG, yang bermaterikan pemain-pemain berkualitas dan berpengalaman.

Konsistensi dan kesabaran menjadi modal utama pelatih Laurent Blanc dalam membawa kembali spirit jawara ke dalam tubuh tim. Dua hal ini diterjemahkan sang pelatih ke dalam beberapa formula, dan berikut lima resep PSG bisa berdiri lagi di podium juara liga musim ini.

Reborn El Flaco

PSG bagai mendapatkan bintang baru di skuatnya setelah Pastore kembali menunjukkan tajinya pada musim ini. Membuat debut impresif pada musim 2011/12 dengan torehan 13 golnya, dua musim berikutnya eks pemain Palermo ini bak tenggelam di telan bumi seiring dengan menurunnya produktivitas dia di klub.

Namun, dengan kerja keras dan di tengah 'keterpaksaan' Blanc yang memberinya kepercayaan mengingat kegagalan PSG mendaratkan Angel Di Maria pada musim lalu karena aturan financial fair play, Pastore dengan cepat memberikan bukti konkret di lapangan jika dirinya pantas dikedepankan di starting XI sejak memulai pra-musim.

Pastore memang tak banyak membuat gol, tapi dia adalah arsitek dari rangkaian gol yang ditorehkan PSG, demikian juga kreasi-kreasi penting yang dibuatnya, di sepanjang musim ini. Tahukah Anda, Pastore menempati posisi kedua dari lima pemberi assist terbanyak di lima liga top Eropa di 2015 ini setelah Lionel Messi.

Sejak awal 2015, El Flaco membuat permainan PSG jadi memiliki gaya khas bersamanya. Hal ini disebabkan posisi Pastore yang dinamis, di mana dia bisa bermain di seluruh posisi tengah dan di kedua sisi lini depan dalam formasi 4-3-3 tim. Tak keliru bila kemudian lima gol dan sepuluh assist di semua kompetisi domestik musim ini telah melegitimasi namanya di dalam kandidat peraih trofi UNFP Pemain Terbaik Ligue 1 Tahun Ini.

Keterikatan Zlatan Ibrahimovic

Tak bisa dimungkiri, Ibrahimovic adalah PSG. Seperti inilah kenyataannya. Kegemilangan PSG masih banyak terbantu karena magis dari bomber Swedia ini. Meski musim ini bukanlah penampilan terbaiknya, tapi Ibra tetap menjadi bagian integral di balik perjuangan Les Parisiens menggapai puncak tabel di tengah persaingan ketat dengan Lyon.

Ibra memang cukup banyak terpinggirkan karena cedera dan skorsing pertandingan, namun saat tampil, tak sedikit kontribusinya memberikan kemenangan vital bagi tim. Misalnya saat dia menjadi protagonis berkat hat-trick-nya dalam kemenangan 3-1 atas Lorient setelah di pekan sebelumnya ditaklukkan Bordeaux. Hasil positif itu benar-benar memompa moril anak-anak Blanc karena di tujuh laga berikutnya mereka sapu bersih dengan kemenangan, rentetan yang kemudian membawa PSG bisa kembali mengkudeta tampuk klasifika dengan keunggulan enam poin.

Sempat merasakan hukuman melalui pengadilan olahraga dari journee 32 hingga 34, di pekan ke-35 Ibra langsung tancap gas dengan terlibat penting di salah satu gol dalam kemenangan 2-0 atas Nantes sebelum akhir pekan lalu eks penyerang Internazionale ini menjadi pemain terbaik journee 36 berkat sepasang gol dan assist-nya yang menghancurkan Guingamp 6-0, raihan yang lantas mendekatkan PSG ke tangga juara dengan hanya butuh satu poin saja.

Sekali lagi, edisi 2014/15 memang bukanlah musim impresifnya Ibra. Tapi soal kontribusi, dia tetaplah rohnya PSG. Hat-trick-nya di laga AS Saint-Etienne mengantar PSG mencapai babak puncak Coupe de France, dan dua golnya ke gawang Bastia di final Coupe de la Ligue telah menghadirkan klub gelar pertamanya di kampanye 2014/15. Musim ini, Sang bomber juga meraih milestone 100 gol dan koleksi 106 golnya hingga hari ini hanya berjarak satu gol lagi untuk menyamai rekor gol sepanjang masa PSG, Pauleta. Bersama Pastore dan Marco Verratti dan beberapa kandidat lainnya, Ibra berpeluang kembali mendulang gelar UNFP Pemain Terbaik Ligue 1 Tahun Ini untuk ketiga kalinya secara konsekutif.

Gelora Semangat Quadruple

Sejak wajah PSG berubah total ketika diakuisisi oleh Qatar Investment Authority pada 2011, tahun ini bisa dikatakan pencapaian terbaik klub ibu kota mengingat mereka sempat berada di tahapan krusial di seluruh empat kompetisi yang dilakoni.

Begitu besar semangat meraih prestasi yang sangat jarang bisa diwujudkan suatu klub, yakni quadruple atau memborong empat gelar dalam semusim. Dorongan inilah yang membuat permainan anak-anak Blanc menjadi prima di seluruh ajang.

Walau akhirnya berada di posisi inferior saat menghadapi Barcelona di perempat-final Liga Champions - kalah agregat 5-1 - namun bayang-bayang domestic treble tetaplah jadi suatu prestasi terbaik PSG yang sebelumnya belum pernah mereka bukukan, dan gelar pertama yang telah diamankan musim ini, yakni Coupe de la Ligue dengan menghajar Bastia 4-0, sedikit banyak telah memberi energi positif bagi tim untuk menyegel titel Ligue 1.

Di atas kertas, rasanya tak akan ada hambatan untuk melengkapi torehan tripel kampiun saat PSG menghadapi tim divisi dua Auxerre di final Coupe de France.

Pemusatan Latihan Musim Dingin

Blanc menyadari betul, paruh pertama musim dilalui PSG dengan cukup lamban, sehingga mereka tertinggal dari rival-rival terdekat seperti Lyon dan Marseille, yang sebaliknya dua Olympiques ini start dengan kencang. Namun perubahan signifikan mulai dirasakan Ibrahimovic cs ketika memasuki masa jeda musim dingin.

Blanc memboyong skuatnya ke Marrakesh, kota besar dari negara Afrika di barat laut Maroko. Evaluasi dilakukan, dan pemusatan latihan di sana rupanya memberi pengaruh signifikan pada kondisi para pemainnya. Sejak pergantian tahun, skuat Les Parisiens menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman cedera.

"Musim ini jauh lebih sulit, kami mengakui itu, sampai ke titik di mana kami harus menyadari, tim seperti Marseille dan Lyon, yang bermain sangat bagus," ujar Blanc.

"Tapi saya kira di awal 2015 semua pemain menyadari apa yang terjadi, titik baliknya adalah saat pemusatan latihan musim dingin di Marrakesh. Di situlah kami bisa kembali ke jalur kami," jelasnya.

Transformasi Posisi

Keberhasilan Blanc menggembleng beberapa pemainnya menjadi sosok multifungsi juga menjadi landasan kuat kenapa PSG bisa mendapati para pemainnya relatif dalam kondisi standar mereka.

Jangan heran bila di musim ini pemain-pemain seperti Marquinhos, Thiago Motta dan Javier Pastore bisa berada di posisi yang bukan habitatnya. Marquinhos misalnya. Blanc berhasil menangkap potensi sang bek dari kecepatan dan daya tahan fisiknya, yang akhirnya membuat dia kerap kali diposisikan sebagai full back untuk meng-cover peran Gregory van der Wiel yang kerap bolak-balik masuk ruang perawatan.

Motta juga dalam beberapa laga mulai diperkenalkan Blanc untuk bermain lebih ke dalam dengan menempati jantung pertahanan, sementara Pastore yang biasa bermain sebagai playmaker, musim ini ditugasi Blanc untuk dapat memainkan peran sebagai gelandang sentral, sayap atau jika diperlukan bermain sebagai penyerang melebar.

Transformasi ini cukup banyak membantu Blanc dalam menyusun komponen skuat terbaiknya ketika dihadapkan pada badai cedera, atau untuk keperluan mengubah taktik di tengah pertandingan.

 

Get Adobe Flash player



 

Ligue 1 Prancis >> Halaman Khusus Sepakbola Prancis
>> Berita Sepakbola Prancis Lainnya
>> Semua Klub Ligue 1 & Panduan 2014/15
>> Klasemen Ligue 1 Prancis
>> Jadwal & Hasil Ligue 1 Prancis
>> Daftar Transfer Ligue 1 Prancis