Transformasi Ajax Amsterdam Mulai Tampakkan Hasil

Skuat Ajax Amsterdam mulai memahami dan menjalankan filosofi pelatih baru mereka, Peter Bosz.

OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Transformasi bukan hal yang mudah. Terutama jika Anda menggantikan seorang pelatih klub top yang sukses merebut gelar juara beruntun, tetapi meninggalkan jabatan dengan kegagalan di dua musim beruntun serta penampilan yang tidak inspiratif. Kemudian kesempatan itu datang ketika Anda baru enam bulan berpindah pekerjaan. Jika Anda tipe pelatih yang berpendirian keras seperti Peter Bosz, Anda akan menyambut tantangan itu.

Bosz membutuhkan waktu untuk menjawab ekspektasi yang digantungkan kepadanya sejak mulai bertugas di Ajax Amsterdam. Pelatih yang digantikan Bosz adalah Frank de Boer, yang mempersembahkan empat gelar beruntun untuk De Godenzonen. Akhir musim 2015/16, saat Ajax gagal memastikan gelar juara akibat ditahan imbang tim papan bawah De Graafschap, De Boer meletakkan jabatan.

Di akhir kiprah kepelatihan De Boer, Ajax tampil monoton dan mudah diprediksi. Ajax tak pernah finis di luar dua besar, tetapi penampilan mereka di Eropa menyedihkan. Dalam empat kali percobaan, De Boer tak pernah berhasil membawa Ajax melangkah dari fase grup Liga Champions. Bandingkan dengan Phillip Cocu yang mampu langsung mengantarkan PSV Eindhoven ke babak 16 besar Liga Champions pada musim debutnya.

Kedatangan Bosz ke Amsterdam ArenA membawa serta filosofi sepakbolanya yang tenar bersama Vitesse Arnhem. Saat menangani klub yang dikenal banyak meminjam pemain Chelsea itu, Bosz menerapkan aturan "lima detik". Maksudnya, itulah durasi waktu yang dituntut kepada setiap pemainnya untuk merebut kembali penguasaan saat kehilangan bola.

Penampilan impresif Vitesse, dengan sumber daya terbatas dan materi pemain yang selalu berubah setiap musim, mengangkat reputasi Bosz. Puncaknya, Bosz membawa Vitesse melangkah ke Liga Europa setelah finis kelima dan menjuarai play-off Eredivisie Belanda musim 2014/15. Pada tahun yang sama, Bosz masuk nominator pelatih terbaik Belanda (yang akhirnya diraih oleh Cocu).

Peter Bosz saat membawa Vitesse melejit.


SIMAK JUGA
Halaman Khusus Ajax Amsterdam
Klasemen Eredivisie Belanda
Ajax Ukir Kemenangan Kedua Di Liga Europa

Bagi manajemen Ajax, memilih Bosz tidak hanya memilih sepakbola yang menyerang, tetapi mengindikasikan pergeseran strategi. Bosz tidak memiliki akar Ajax (berlawanan dengan semangat revolusi beludru yang diusung Johan Cruyff), karena pernah bermain dan menjadi direktur teknik Feyenoord Rotterdam. Pada perkembangannya, strategi perekrutan dan rotasi pemain yang diterapkan Bosz berbeda dari era kepelatihan sebelumnya.

Mateo Casierra dan Davinson Sanchez (menolak Barcelona untuk bergabung ke Ajax) adalah dua pemain pertama yang direkrut di awal era Bosz. Sebagai catatan, sudah lama Ajax tidak mendatangkan pemain asal Amerika Selatan sejak Nicolas Lodeiro dari Nacional, musim 2009/10. Bek senior Heiko Westermann kemudian menyusul, lalu Bertrand Traore yang pernah bekerja sama dengan Bosz di Vitesse, dipinjam dari Chelsea.

Gong transfer Ajax musim ini adalah Hakim Ziyech, yang direkrut dari FC Twente menjelang tenggat transfer musim panas. Ajax mengakhiri spekulasi transfer gelandang kreatif itu dengan kompensasi sebesar €11 juta. Nyaris bersamaan, Ajax mendatangkan pula Tim Krul untuk mengisi posisi penjaga gawang yang ditinggalkan Jasper Cillessen.

Langkah itu merefleksikan perpaduan transfer pemain muda dan berpengalaman. Namun, langkah itu juga membuat Bosz punya stok gelandang yang melimpah. Terlalu banyak malah. Ada sepuluh gelandang yang dapat diseleksi Bosz. Mulai dari pemain muda seperti Frankie de Jong dan Abdelhak Nouri hingga Thulani Serero yang mulai terpinggirkan.

Penjajakan taktik dilakukan Bosz hingga mengalami dua kekalahan beruntun di pertengahan Agustus. Ajax dipermalukan Willem II Tilburg pada Speelronde 3, 2-1, di kandang sendiri. Pekan sebelumnya, Ajax melepas keunggulan dua gol sebelum ditahan imbang Roda JC Kerkrade, 2-2. Puncaknya, Ajax dipermalukan FC Rostov 4-1 pada leg kedua play-off kualifikasi Liga Champions.

Kekalahan telak dari Rostov menjadi titik balik penampilan Ajax.

REKOR BOSZ 15 PERTANDINGAN AWAL
Menang Seri Kalah Gol Kebobolan
10 3 2 28 16

Bosz sigap melakukan perubahan. Nick Viergever menjadi pilar utama di sentral pertahanan bersama Davinson Sanchez. Para pemain muda seperti Kenny Tete, Jairo Riedewald, dan Anwar El Ghazi dirotasi. Hakim Ziyech semula dimainkan di sayap kanan, tetapi Bosz segera menyadari kekeliruan. Posisi terbaik Ziyech adalah berada di tengah supaya naluri kreativitasnya menguntungkan tim.

Bertrand Traore digeser menjadi sayap kanan karena Bosz menilai kemampuan penyerang Burkina Faso itu akan lebih maksimal dari sektor tersebut. Posisi penyerang tengah diberikan kepada pemain muda asal Denmark, Kasper Dolberg.

Titik balik penampilan Ajax adalah ketika berhasil membalas kekalahan dari Willem II di ajang Piala Belanda. Perubahan penting dilakukan Bosz dengan bereksperimen memasang Daley Sinkgraven sebagai bek kiri dan Lasse Schone di posisi gelandang bertahan. Hasilnya, Ajax pesta lima gol.

Salah satu kritik lain yang menimpa Bosz adalah anggapan terhambatnya perkembangan pemain muda Ajax, tetapi kemenangan di Piala Belanda menunjukkan fleksibilitas sang pelatih. Matthijs de Ligt, Abdelhak Nouri, dan Frenkie de Jong memulai debut mereka di skuat senior. Dua nama pertama bahkan turut menyumbangkan gol.

Tiga gol lain Ajax disumbangkan oleh Bazoer, Ziyech, dan Schone. Semuanya merupakan gol pertama mereka untuk Ajax di musim ini. Tampaknya skuat Ajax mulai memahami keinginan pelatih barunya.

Kemunculan Matthijs de Ligt memberi angin segar.

Formasi andalan Peter Bosz.

Musim masih panjang. Eredivisie baru menginjak Speelronde 8. Minggu (2/10) kemarin, Ajax berhasil mengalahkan rival yang kerap menyulitkan mereka, FC Utrecht, dengan skor 3-2. Kemenangan tidak diraih secara meyakinkan. Sinkgraven, yang kembali dipercaya turun sebagai bek kiri, tampil canggung. Beberapa kali pemain lawan mengeksploitasi sektor yang dijaganya.

Setelah tertinggal akibat gol sundulan Kevin Conboy di babak pertama, Ajax dinaungi kemujuran. Ramon Leeuwin membelokkan umpan silang Amin Younes ke dalam gawang sendiri di awal babak kedua dan eksekusi penalti Schone membalikkan keadaan. Gol Ziyech pada menit ke-87 menjadi penentu poin penuh karena Utrecht mampu membalas satu gol lagi lewat Mark van der Maarel saat injury time.

Berkat kemenangan itu Ajax menempel Feyenoord Rotterdam di puncak klasemen Eredivisie dengan selisih lima poin. Kedua tim akan saling berhadapan pada Speelronde 10, 23 Oktober mendatang. Mengalahkan Feyenoord yang tengah mengemas rekor 100 persen kemenangan akan menjadi tugas besar Bosz berikutnya.

Dengan delapan kemenangan beruntun yang dipetik di semua ajang, Ajax telah melupakan De Boer dan bersama Bosz mereka menjadi penantang serius dalam merebut landskampioen musim ini.