FOKUS: Skandal Di Sepakbola Italia Bukan Cerita Baru

Enam tahun setelah kasus Calciopoli, persiapan Italia jelang turnamen internasional kembali dihadang masalah suap di liga domestik.

 Hari Senin (28/5) pukul 06.25 pagi, polisi memasuki kamp latihan tim nasional Italia di Coverciano untuk menggeledah kamar Domenico Criscito sebagai bagian dari investigasi kasus Scommessopoli, skandal pengaturan pertandingan terbaru yang menimpa sepakbola Italia.

Tak lama pada siang harinya, bek kiri Zenit itu sudah dikeluarkan dari skuat tim Azzurri yang disiapkan untuk Euro 2012. Menjelang sore hari, rekan setim Criscito, Leonardo Bonucci juga diindikasikan terlibat dalam kasus tersebut.

Criscito bertekad untuk membersihkan namanya, sedangkan klub Bonucci, Juventus, berusaha melindungi pemain belakang andalan mereka, begitu juga dengan Antonio Conte, yang dituduh ikut terlibat dalam kasus pengaturan pertandingan di Serie B melawan Novara saat masih membesut Siena.

Apa pun pembelaan mereka, imej sepakbola Italia kembali ternoda. Yang lebih ditakuti lagi sekarang, masih banyak yang akan terungkap kemudian. Pelatih legendaris Italia, Giovano Trappatoni ikut angkat bicara pada La Gazzetta dello Sport: "Kalau pihak berwenang melakukan sesuatu, itu karena ada kebenaran dalam masalah ini."

Sedihnya, pendapat itu sudah dimaklumi dan diketahui banyak pihak. Mungkin, satu-satunya hal yang mengejutkan tentang kejadian di hari Senin kemarin adalah mereka tidak terlalu terkejut dengan penyelidikan itu. Penyerbuan di pagi hari itu diyakini akan berlanjut dengan pengunduran diri beberapa orang. Tak ada hal yang baru. Pakar sepakbola Italia, Mark Doyle dari GOAL.com, menuliskan kembali situasi memalukan serupa yang terkesan sudah familiar ini.

TOTONERO (1980)


Skandal taruhan besar pertama di sepakbola Italia terjadi pada 1980, yang berpusat pada dua pebisnis dari kota Roma, Massimo Cruciani dan Alvaro Trinca. Saat itu, bertaruh pada gim individual termasuk ilegal tapi masih bisa ditolerir. Kedua pengusaha yang dekat dengan beberapa anggota skuad Lazio itu, mengeluarkan banyak uang untuk menyuap para pemain untuk mempengaruhi hasil pertandingan sesuai dengan keinginan mereka.

Cruciani dan Trinca baru menyadari kalau pengaturan hasil pertandingan jauh dari keterbukaan karena begitu banyak variabel yang mempengaruhi hasil sebuah pertandingan, dan tak lama kemudian keduanya banyak berhutang pada bandar judi.

Yang menggelikan, Cruciani dan Trinca merasa telah ditipu oleh para pemain yang telah mereka berikan bayaran dan bahkan mencoba memeras Federasi Sepakbola Italia agar membayar hutang mereka sebelum diadukan ke pengadilan dan dibeberkan ke media. Setelah cepat menyadari kalau mereka tak akan dipandang sebagai korban yang tak bersalah, keduanya mencoba untuk melarikan diri, tapi Trinca akhirya ditahan pada 7 Maret sebelum Cruciani menyerahkan diri ke polisi lima hari kemudian.

Dua orang yang banyak menyimpan data tentang usaha penyuapan mereka, lalu membeberkan semuanya dan menunjukkan bukti-bukti yang berujung pada penahanan beberapa petinggi klub. Mereka yang ditangkap termasuk presiden AC Milan Felice Colombo, dan total ada 33 pemain yang sebagian besar ditangkap setelah mereka menyelesaikan pertandingan liga pada 23 Maret.

Keterlibatan Paolo Rossi paling menyita perhatian media dan pemain internasional Italia ini dihukum selama tiga tahun seiring dengan ditemukannya bukti-bukti yang tidak bisa disangkal lagi. Sementara itu, Milan dan Lazio dihukum didegradasi ke Serie B. Namun hukuman Rossi kemudian dikurangi menjadi dua tahun, yang membuatnya berkesempatan mewakili Italia di Piala Dunia 1982, yang seperti diketahui berhasil membawa negaranya menjadi juara dunia. Sebagai tambahan, semua pihak yang terlibat dalam kasus tersebut tidak dituntut pasal kriminal, karena saat itu belum ada hukum yang mengatur tentang 'penipuan olahraga', yang berarti tidak terjadi pelanggaran hukum dalam kasus ini.

TOTONERO BIS (1986)

Kejadian di tahun 1980 mendatangkan konsekuensi tersendiri, kesempatan emas untuk membersihkan sepakbola Italia seperti sia-sia belaka. Terbukti, skandal pengaturan-pertandingan yang hampir serupa kembali terjadi di tahun 1986, bahkan saking miripnya sampai disebut sebagai 'Totonero bis' (Totonero II). Perbedaan utamanya kali ini, kontroversi yang terjadi kali ini tidak menginspirasikan tim Azzurri berjaya di Piala Dunia. Sebagai juara bertahan, perjalanan mereka terhenti di babak kedua setelah dikalahkan juara Eropa, Prancis.

Lazio kembali terlibat dan berperan besar sehingga mereka didegradasi ke Serie C1. Namun mereka mengajukan keberatan dan usaha mereka berhasil sehingga tetap di Serie B tapi dengan pengurangan sembilan poin. Sedangkan dua tim Serie A, Bari dan Napoli yang sebelummya disinyalir terlibat ternyata tak terbukti bersalah. Namun Udinese yang sempat diputuskan didegradasi mengajukan banding. The Zebrette tetap bertahan tapi terkena pengurangan sembilan poin dan hal itu terbukti berpengaruh karena Udinese mengalami degradasi di musim berikutnya setelah finis di papan bawah Serie A.

Hal yang paling penting diamati adalah apa yang dialami Napoli. Mereka tak hanya terbebas dari hukuman, tapi direktur sport mereka yang kontroversial, Italo Allodi dibebaskan dari segala tuduhan. Allodi sudah dikenal luas di lingkaran sepakbola Eropa sebagai orang yang beberapa kali pernah berupaya menyuap wasit. Di sisi lain, ia juga orang yang ikut banyak membantu Lucciano Moggi memulai langkahnya untuk menjadi orang paling berkuasa di persepakbolaan Italia...

CALCIOPOLI (2006)


‘Lucky Luciano' adalah tokoh utama dalam skandal sepakbola terbesar di era modern. Bahkan, kasus yang kerap disebut sebagai 'Calciopoli' itu, sering dipelesetkan menjadi 'Moggiopoli'. Istilah itu juga dinilai sebagai penggambaran betapa besar peran dari mantan direktur umum Juventus itu dalam proses kasus tersebut. Namun yang terpenting untuk diingat adalah investigasi dipusatkan pada rekaman percakapan telepon yang melibatkan Moggi, serta empat ofisial dari empat klub Serie A; Milan, Fiorentina, Lazio dan Reggina. Mereka juga terkena sanksi karena peran mereka masing-masing untuk mempengaruhi pertandingan dengan berusaha memilih wasit sesuai keinginan mereka.

Milan, Fiorentina dan Lazio awalnya dihukum degradasi ke Serie B dan Juventus ke Serie C1. Namun setelah beberapa kali usaha banding, hanya Juve yang akhirnya didegradasi ke Serie B dengan pengurangan sembilan poin (dari sebelumnya hukuman pengurangan 30 poin) dan kemudian kembali ke level atas hanya dalam waktu satu musim. Sedangkan Milan yang sebelumnya dilarang tampil di Liga Champions, pada akhirnya tetap berlaga dan bahkan menjadi juara.

Dampak dari kasus Calciopoli masih terasa sampai sekarang. Inter yang sebelumnya diindikasikan ikut terlibat skandal, belakangan kerap mengolok-olok hukuman yang dijatuhkan pada mereka yang terbukti terlibat. Juventus juga membuat kehebohan dengan merayakan scudetto ke-30 pada akhir musim ini, meskipun dua gelar yang pernah mereka raih sudah dicopot karena kasus Calciopoli.

Kenyataannya, terkesan terjadi demoralisasi saat melihat dan mendengar para klub dan suporter ikut ambil bagian dalam pembahasan skandal terbaru ini dalam beberapa pekan terakhir. Yang juga banyak dibicarakan adalah optimisme kalau efek dari kasus skandal kali ini tidak akan begitu mempengaruhi skuat besutan Cesare Prandelli di Euro 2012. Namun bukti sudah menunjukkan, kemenangan di Piala Dunia 1982 dan 2006, tidak mempengaruhi penyelesaian masalah korupsi dan suap yang sudah lama mengakar di persepakbolaan Italia. Dalam situasi seperti ini, meskipun para fans ikut mencoba menekan pemain yang terlibat kasus pengaturan pertandingan, tidak akan ada pemenang dalam masalah ini, yang ada hanya yang kalah.


Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.