Lionel Messi Barcelona 2021Getty Images

Diterjemahkan oleh

“‘Tidak’ kata...” - Pengungkapan terkait transfer Lionel Messi oleh mantan pelatih Barcelona, Xavi, saat dijelaskan alasan mengapa pemain Argentina yang dijuluki GOAT itu gagal kembali ke Camp Nou

  • Kegagalan reuni antara Messi dan Neymar

    Xavi telah mengungkap upaya ambisiusnya untuk membawa kembali beberapa nama paling ikonik dalam sejarah Barcelona ke Spotify Camp Nou selama masa jabatannya sebagai manajer. Meskipun ia berhasil mendatangkan kembali Dani Alves, upaya untuk memulangkan Neymar, Pedro, dan terutama Lionel Messi, gagal karena kombinasi kendala finansial dan keputusan eksekutif. Pengakuan mengenai Messi ini sangat mengejutkan mengingat narasi publik seputar kepindahannya ke Inter Miami.

    Berbicara di saluran YouTube Romario, Xavi menjelaskan: "Sebagai manajer Barcelona, saya membawa kembali Dani Alves dan mencoba membawa Neymar, Pedro, serta Messi kembali juga. Pedro dan Neymar tidak bisa direkrut karena situasi ekonomi. Sedangkan untuk Messi, presiden tidak menginginkannya kembali. Kami mencoba merekrut Messi pada 2023. Kami berdiskusi selama lima bulan, dan semuanya sudah siap, tetapi pada akhirnya, presiden mengatakan tidak."

  • Iklan
  • FC Barcelona Training Session And Press Conference - UEFA Champions League 2023/24Getty Images Sport

    Pelatihan GOAT dan perbandingan dengan Neymar

    Di luar drama transfer tersebut, Xavi merefleksikan tantangan unik dalam melatih dan bermain bersama pemain sekelas Messi. Ia menggambarkan sosok pesepakbola yang hasratnya terhadap bola tetap tak tertandingi, bahkan dalam sesi latihan atau pertandingan resmi yang menuntut disiplin taktis. Hubungan mereka, bagaimanapun, tetap berakar pada rasa saling menghormati yang mendalam dan persahabatan yang telah terjalin sejak masa-masa awal Messi di La Masia.

    “Terkadang Messi akan kesal padaku jika aku mengoper bola ke pemain lain,” kenang Xavi. “Dia akan mendekatiku: ‘Hei, hei! Apa yang kamu lakukan? Oper bola padaku! Mendekatlah, mainlah denganku! Aku pertama kali melihat Messi saat dia berusia 16 tahun. Mereka memberitahuku ada anak luar biasa dari Argentina. Aku melihatnya dan berkata: ‘Ini sesuatu yang berbeda. Aku belum pernah melihat ini sebelumnya.’ Dia anak yang baik. Dia salah satu teman terbaik yang bisa kamu miliki di sepak bola. Aku punya hubungan yang sangat baik dengan Leo Messi, didasarkan pada kepercayaan.” Dia juga memuji mantan rekan setim lainnya: “Mungkin aku bisa melatih Neymar di Barcelona, tapi situasi ekonomi kami begitu buruk sehingga merekrutnya tidak pernah menjadi opsi. Tahun-tahun awal Neymar di Barcelona adalah saat aku melihat seseorang paling dekat dengan Leo Messi.”

  • Munculnya Lamine Yamal

    Salah satu warisan terbesar Xavi di klub ini adalah debut yang ia berikan kepada Lamine Yamal, yang sejak itu berkembang menjadi bintang global. Mantan manajer tersebut yakin bahwa remaja itu adalah talenta sekali dalam satu generasi, asalkan ia tetap mempertahankan fokus profesional yang tepat. Xavi juga menyinggung kepergiannya sendiri dari bangku cadangan, dengan mengisyaratkan bahwa gesekan internal—bukan hasil pertandingan—lah yang pada akhirnya mengakhiri masa jabatannya, meskipun awalnya telah ada kesepakatan untuk tetap bertahan.

    “Lamine Yamal adalah pemain terpilih. Seorang jenius sepak bola,” kata Xavi. “Dia sudah menjadi yang terbaik atau salah satu pemain terbaik di dunia saat ini. Kini semuanya bergantung pada pola pikirnya, energinya, dan keinginannya untuk mencetak sejarah. Semuanya ada di tangannya.”

  • FBL-ESP-LIGA-BARCELONA-CELTA DE VIGOAFP

    Masa depan yang cerah di bawah kepemimpinan Hansi Flick

    Meskipun kepergiannya terkesan mendadak, Xavi tetap menjadi pendukung setia proyek yang saat ini dipimpin oleh Hansi Flick. Ia yakin skuad yang turut ia bentuk—yang terdiri dari talenta muda dan pemain internasional berpengalaman—kini berada dalam posisi yang sangat baik untuk mendominasi sepak bola Spanyol dalam beberapa tahun ke depan. Bagi Xavi, kerja keras yang dilakukan selama masa-masa keuangan klub yang paling sulit telah menjadi landasan bagi kesuksesan yang diraih saat ini di Estadi Olimpic Lluis Companys.

    “Saya yakin kami telah menjalankan proyek yang sangat baik, dan membangun fondasi yang sangat kokoh untuk Flick,” kata mantan kapten tersebut. “Hansi Flick melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan saya pikir para pemain telah matang untuk bersaing. Ada tim untuk 10 tahun ke depan dengan generasi Lamine, Kounde, Fermín, Gavi, dan Pedri. Semua pemain ini adalah pemain yang kami latih dan kembangkan.”