Arsenal FC v Atletico de Madrid - UEFA Champions League 2025/26 Semi Final Second LegGetty Images Sport

Diterjemahkan oleh

“Hentikan dia sekaligus” - Tingkah laku Mikel Arteta di pinggir lapangan disebut “memalukan” oleh mantan bintang Arsenal saat manajer The Gunners nyaris masuk ke lapangan

  • Robson mengkritik keras perilaku Arteta

    Mantan gelandang Arsenal, Stewart Robson, melontarkan kritik pedas terhadap Arteta, dengan menyebut perilaku sang manajer di pinggir lapangan sebagai "memalukan." Kritik tersebut muncul saat The Gunners menjalani pertandingan penting Liga Champions melawan Atletico Madrid, di mana Arsenal memastikan tempat mereka di final dengan kemenangan 1-0 - menang 2-1 secara agregat. Terlepas dari kemenangan tersebut, Arteta sering terlihat berada di tepi area teknisnya, tampak hampir melangkah ke lapangan untuk memengaruhi jalannya pertandingan.

    Robson, yang menghabiskan enam tahun di Highbury selama masa bermainnya, tidak terkesan dengan gestur Arteta yang terus-menerus dan kedekatannya dengan lapangan. Saat ketegangan meningkat dalam pertandingan Eropa tersebut, pakar sepak bola itu menyarankan bahwa keinginan Arteta untuk terlibat dalam setiap alur permainan justru menjadi gangguan daripada manfaat bagi timnya.


  • Iklan
  • Arsenal FC v Atletico de Madrid - UEFA Champions League 2025/26 Semi Final Second LegGetty Images Sport

    Tuntutan akan intervensi fisik

    Menanggapi salah satu momen yang sangat emosional dari Arteta, rasa frustrasi Robson pun meluap. Mantan bintang The Gunners itu bahkan sampai menyarankan agar seorang pemain harus turun tangan secara fisik untuk menghentikan sang manajer agar tidak masuk ke lapangan. Komentarnya tersebut menyoroti perdebatan yang semakin memanas mengenai seberapa besar kebebasan yang seharusnya diberikan kepada manajer di luar kotak pelatih yang telah ditentukan.

    "Jika saya berlari di sisi lapangan, saya akan memastikan untuk benar-benar menghalanginya. Saya akan merebut bola dan menjegalnya pada saat yang bersamaan," kata Robson saat meliput pertandingan di Amerika Serikat untuk ESPNFC. Penilaian keras tersebut mencerminkan pandangan bahwa intensitas manajer Arsenal sering kali melewati batas menjadi permainan curang atau campur tangan yang tidak perlu terhadap wasit dan pemain lawan.

  • Kontroversi di ESPNFC terkait tingkah laku Arteta

    Komentar pedas Robson merupakan bagian dari perdebatan yang lebih luas dan memanas seputar liputan ESPNFC di Amerika Serikat. Perdebatan tersebut dipicu oleh pembawa acara Dan Thomas, yang memicu kehebohan dengan mempertanyakan pada titik mana seorang manajer tim lawan mungkin merasa tergoda untuk secara fisik menghadapi Arteta akibat tingkah lakunya.

    Sementara pakar sepak bola Craig Burley berusaha menyeimbangkan argumen tersebut dengan mencatat bahwa Diego Simeone juga sama "buruknya" di pinggir lapangan, Thomas justru semakin bersikeras, menyarankan bahwa Arteta sebenarnya telah "mengungguli Simeone" selama tahap-tahap akhir pertandingan. Dalam konteks provokatif inilah Robson melancarkan serangannya, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap kehadiran manajer Arsenal yang terus-menerus di pinggir lapangan.


  • Arsenal FC v Atletico de Madrid - UEFA Champions League 2025/26 Semi Final Second LegGetty Images Sport

    Robson terus melontarkan ejekan saat Arsenal melaju ke final

    Robson ikut mendukung Thomas untuk terus mengejek manajer Arsenal tersebut. Robson menganggap intensitas Arteta sebagai tindakan yang mementingkan diri sendiri, sambil mempertanyakan tujuan dari tindakannya. "Apa yang seharusnya dilakukan seorang pelatih di pinggir lapangan? Tugasnya adalah melatih tim, memberikan instruksi," kata Robson. Dia juga bilang bahwa perilaku Arteta itu cuma akting, sambil menambahkan: "Semua yang Arteta lakukan, menurutku dia melakukannya untuk dirinya sendiri: 'Lihat aku, aku hebat, aku yang memimpin klub ini, aku melakukan ini, aku melakukan itu... Itu benar-benar menyedihkan."

    Kritik-kritik ini tampaknya tidak akan mengganggu Arteta saat dia merayakan pencapaian bersejarah bagi klub. Fokus utamanya tetap pada membawa Arsenal ke final Liga Champions kedua mereka, dan yang pertama sejak 2006. Saat The Gunners menanti pemenang dari laga antara Bayern Munich dan Paris Saint-Germain, Arteta berada di ambang potensi untuk membawa gelar Piala Eropa pertama bagi klub.