Berita Live Scores
Liga 1

WAWANCARA EKSKLUSIF - Firman Utina: Resep Juara Bhayangkara FC

20.04 WIB 27/02/18
Toyota - Firman Utina
Firman mengungkapkan kunci sukses Bhayangkara bisa menjadi juara Liga 1 2017 dan bicara mengenai kans musim 2018.

OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN

Tak bisa dimungkiri, Bhayangkara FC merupakan tim yang mampu tampil mengejutkan pada Liga 1 2017. Bagaimana tidak, mereka yang di awal musim tak masuk hitungan tim kandidat juara Liga 1 musim lalu, justru mampu meraih titel kampiun kompetisi kasta tertinggi di Indonesia itu.

Banyak yang mungkin langsung ingin mencari tahu, apa sebenarnya yang membuat tim berjulukan The Guardian itu bisa tampil begitu solid di bawah pelatih Simon McMenemy. Materi pemain pun bisa dibilang tak terlalu wah.

Memang, mereka dihuni beberapa pemain muda jebolan timnas Indonesia U-19 seperti Awan Setho Raharjo, Evan Dimas Darmono, Ilham Udin Armaiyn, I Putu Gede Juni Antara, Zulfiandi, M. Sahrul Kurniawan, hingga Muchammad Fatchu Rochman. Mereka dipadukan dengan para pemain senior yang sudah kenyang pengalaman seperti Firman Utina, Jajang Mulyana, Suroso, serta Indra Kahfi Ardhiyasa.

Belum lagi, ditambah pemain asing seperti Otavio Dutra, Lee Yoo Joon, serta pemain naturalisasi Guy Junior Nke Ondoua dan Ilija Spasojevic. Performa mereka pun begitu solid di atas lapangan, meski secara dukungan suporter masih kalah dari tim kontestan lainnya.

Kepada Goal Indonesia, Firman yang sudah merasakan kampiun kompetisi kasta tertinggi bersama tiga klub berbeda (Sriwijaya FC, Persib Bandung, dan Bhayangkara FC) membeberkan resep juara Bhayangkara. Selain itu, mantan kapten timnas Indonesia itu juga berbicara mengenai kans Bhayangkara pada musim 2018. 

Berikut petikan wawancara eksklusif dengan pemain yang identik dengan nomor punggung 15 itu;


Bagaimana Anda menjalankan peran sebagai pemain senior di tim Bhayangkara?

Bisa dikatakan, saya sebagai tempat curhat para pemain muda dan saya bisa memberitahu ke mereka bahwa perbedaan kultur antara pelatih asing dengan pelatih lokal. Pelatih asing selalu ingin kita kerja 100 persen, sebenarnya sama dengan pelatih lokal, cuma pelatih asing tegas, sedangkan pelatih lokal mungkin masih menjaga kultur kita sebagai orang Indonesia (dalam memberikan pemahaman kepada pemain). Jadi saya lebih ke situ, agar tim bisa solid semua harus bekerja sama, semua harus saling menerima.

Jadi bagaimana caranya agar tim ini tidak ada miskomunikasi, sehingga bisa jadi satu tim yang solid, yang bisa dibanggakan dan bisa menghasilkan sesuatu.

Pendapat Anda tentang Simon McMenemy?

Dia adalah pelatih yang bisa mengayomi pemain muda maupun pemain senior. Bahkan, dia tak menempatkan diri sebagai pelatih ketika di luar lapangan, dia bersahaja, mau berkumpul dengan pemain, makan bareng pemain. Dia pun kerap memberi tahu mana makanan yang baik dan tidak untuk seorang pesepakbola. 
Intinya, dia mau berbaur dengan pemain, dia ingin tahu apa keluhan pemain, apa yang pemain rasakan saat bertanding. Bahkan, dia sempat menanyakan materi apa darinya yang tidak dimengerti.

Karena pelatih bisa mengayomi dan menyatukan pemain, kami pun sebagai pemain merasa nyaman dengannya dan kami merasa ada yang melindungi. Sehingga kami juga selalu ingin kerja keras di pertandingan untuk memberikan yang terbaik bagi pelatih.

Yang saya senang lagi dari coach Simon adalah dia bisa memotivasi pemain untuk tidak ingin kalah dan terus berpikir untuk menang. Bahkan situasi itu sudah dibuat di latihan, bagaimana si pemain berkompetisi untuk memenangkan pertandingan. Kalau ada tim yang kalah dalam latihan, coach Simon sudah memberikan ganjaran (hukuman). Dia ingin mengubah psikologi kita sebagai pemain petarung yang datang tidak ingin kalah. Itu yang saya senang, sehingga membuat Bhayangkara disegani tim-tim lain.

Jadi, kunci utama Bhayangkara bisa menjadi juara Liga 1 2017? 

Kunci utamanya adalah pelatihnya, manajemennya, terus pemainnya. Kenapa saya bilang manajemen? Karena bhayangkara nggak pernah terlambat masalah gaji untuk pemain. Kedua, kenapa saya bilang pelatih? pelatih bisa mengayomi pemain muda maupun senior. Sebagai pemain, kami juga harus memperlihatkan ke manajemen bahwa kami pantas ada di tim sekelas Bhayangkara, karena kami adalah pemain profesional.

Anda pernah tiga kali juara kompetisi kasta tertinggi di tiga klub berbeda, bisa beberkan resepnya? 

Resepnya hanya satu, tim bisa berbaur dan bisa kompak satu sama lain. Harus dipahami, sebagai pesepakbola penghargaan tertinggi adalah bermain di timnas, yang kedua bisa menjuarai kompetisi tak hanya di satu tim tapi di banyak tim.

Kenapa saya berpindah-pindah klub? Ini adalah bentuk saya mencari tantangan, sehingga saya terjaga secara mental dan psikologi. Itu yang membuat saya bisa bertahan sampai sekarang, dan kalau pun nanti mundur sebagai pemain, saya sudah bisa merasakan apa yang saya kerjakan di lapangan.  

Bagaimana dengan kans Bhayangkara dan persaingan pada musim 2018?

Tetap saya meyakini Bhayangkara bakal menjadi salah satu tim yang diperhitungkan tim lawan. Karena Bhayangkara tidak banyak mengubah komposisi tim juga. Hilangnya Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn ini menjadi salah satu cambuk buat Bhayangkara (untuk memberikan pembuktian). 

Coach Simon pun tidak mengkhawatirkan itu, karena tim ini bukan hanya berpatokan pada satu atau dua pemain saja. Pemain yang baru didatangkan juga karakternya tak seperti Evan Dimas dan Ilham Udin, ada perubahan.

Mungkin, jika masih ada Evan dan Ilham tim lawan sudah mengetahui itu. Dengan adanya pergantian dan sistem baru yang dibuat coach Simon ini bisa jadi tanda tanya bagi tim lain apa yang akan dibuat Bhayangkara pada musim 2018. 

Menurut Anda, siapa pesaing terberat untuk menjadi juara Liga 1 2018?

Mungkin calon lawan yang terberat bagi Bhayangkara adalah Sriwijaya FC. Tidak bisa juga dianggap remeh Persipura Jayapura, karena mereka hampir tak pernah berubah setiap tahun komposisinya. 

Selain itu, ada juga tim-tim baru promosi seperti PSMS Medan dan Persebaya Surabaya yang tentunya ingin menunjukkan bahwa mereka punya kualitas. Mereka juga merupakan tim yang disegani dan bisa disebut tim legenda, hal ini yang membuat Bhayangkara tak boleh besar kepala dan harus waspada. Karena setiap tim tentunya ingin mengalahkan tim juara.