Wawancara Eksklusif Bora Milutinovic, Pelatih Pemegang Rekor Tampil Lima Kali Di Piala Dunia

Komentar()
Gettyimages
Bora Milutinovic dikenal sebagai pelatih petualang yang pernah membawa lima negara berbeda berpartisipasi di Piala Dunia.

EKSKLUSIF   NAIM BENEDDRA     ALIH BAHASA   AGUNG HARSYA

Meski tidak pernah mampu melangkah lebih jauh dari babak 16 besar, Velibor "Bora" Milutinovic adalah sosok yang disegani. Pelatih Serbia kelahiran 7 September 1944 itu lima kali berpartisipasi di Piala Dunia dengan tim yang berbeda-beda. Milutinovic hanya kalah dari pelatih asal Brasil, Carlos Alberto Parreira, sebagai pelatih yang mengukir penampilan terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Hebatnya lagi, meski menangani tim-tim tak diunggulkan, Milutinovic hampir selalu berhasil melangkah melewati babak fase grup.

Timnas Meksiko menjadi tempat Milutinovic memulai petualangan di Piala Dunia. Persisnya terjadi pada 1986 atau ketika Meksiko menjadi tuan rumah turnamen. El Tricolor tak pernah mampu melangkah lebih jauh dari fase grup, tetapi Milutinovic mencetak sejarah dengan membawa mereka hingga babak perempat-final.

Empat tahun berselang, giliran Milutinovic menciptakan kejutan bersama Kosta Rika. Negara debutan itu mampu dibawanya ke babak 16 besar. Pelatih yang akrab disapa Bora itu kembali mengulangi catatan yang sama ketika melatih Amerika Serikat saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994. Kemudian, Piala Dunia keempatnya ditandai dengan kiprah atraktif bersama Nigeria.

Piala Dunia terakhir yang dijalani Milutinovic adalah bersama timnas Tiongkok pada Piala Dunia 2002. Stadion Gelora Bung Karno pernah menyambut kedatangan pelatih veteran ini karena Indonesia berada satu grup dengan Tiongkok di babak kualifikasi. Sayangnya, di Jepang dan Korea Selatan, Tiongkok tidak mampu melangkah ke babak gugur.

Milutinovic membagi pengalaman tiada duanya itu bersama Goal menjelang bergulirnya Piala Dunia 2018 Rusia dalam hitungan dua pekan lagi.

Apa kabar Anda hari ini? Apa kesibukan Anda sehari-hari?

Saya masih bekerja karena sepakbola adalah hidup saya. Saya sekarang tinggal di Qatar. Saya menjadi duta Piala Dunia 2022. Saya juga bertugas menjadi penasihat presiden federasi setempat. Saya masih aktif. Saya juga mencoba berbagi pengalaman di level tertinggi, yaitu Piala Dunia yang sangat saya kenal.

Apakah karier melatih sudah selesai buat Anda?

Tidak, Anda tidak boleh mengatakan tidak. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi. Saya masih terus mengikuti sepakbola. Saya terus bekerja. Saya juga mengikuti tim-tim yang pernah saya latih. Misalnya, untuk Piala Dunia nanti saya memantau perkembangan Meksiko, Kosta Rika, dan Nigeria.

Apakah Anda merindukan atmosfer kompetisi, pertandingan, serta turnamen sebesar Piala Dunia? Kami pikir itu yang menjadi semangat dalam karier panjang Anda.

Tentu saja, tapi juga saya sadar mungkin saya tidak lagi berada pada level yang sama. Saya bukan lagi seorang pelatih, ada banyak hal lain yang menarik bagi saya. Saya sangat gembira dengan apa yang saya lakukan sehari-hari, menonton pertandingan dari jauh, dan bisa berbagi dengan mereka yang mempercayai saya.

Sebagai pelatih, Anda lima kali mengikuti Piala Dunia. Terakhir adalah 2002 bersama Tiongkok. Tidakkah Anda tergiur untuk mencoba yang keenam? Pernahkah ada kesempatan melakukannya?

Tidak perlu membicarakan apa yang tidak terjadi. Saya sangat senang bisa berpartisipasi dalam lima Piala Dunia dan hampir semuanya selalu sukses lolos dari fase grup. Itu saja yang penting buat saya. Kita mesti sadar diri dan tidak berlebihan. Dengan lima Piala Dunia saya sudah merasa sangat puas.

Mayoritas karier kepelatihan Anda terjadi pada akhir abad ke-20. Berandai-andai, apakah Anda betah menjadi pelatih di masa kini?

Sebagai pelatih saya pikir perlu untuk selalu beradaptasi setiap saat. Tidak guna membanggakan sesuatu lebih daripada yang lain. Kita harus selalu mencari cara menerjemahkan pengalaman serta bekerja bersama pemain muda. Saya sangat senang karena saya berkesempatan melakukannya bersama Meksiko pada 1983 dan melanjutkannya bersama Kosta Rika, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Kita terus beradaptasi di setiap era. Karena itulah yang diinginkan sepakbola. Secara pribadi, karena saya berasal dari Yugoslavia dan Partizan Belgrade, itu membantu saya dalam berbagi pengalaman dan mencari jalan terbaik, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Dari semua kiprah Anda, mana yang paling membuat Anda merasa puas tidak hanya sebagai pelatih, tapi juga secara pribadi?

Saya belajar banyak hal positif, terutama rasa bangga. Misalnya, saya menjadi pelatih asing pertama di timnas Meksiko. Tim Meksiko yang saya tangani mampu menembus perempat-final Piala Dunia. Bahkan kami finis di tempat keenam. Hal yang paling saya sukai dari pengalaman ini adalah di dalam tim ada delapan pemain yang saya didik menjadi pemain profesional mulai dari tim Pumas. Tujuh di antaranya menjadi pemain inti. Saya pelatih yang beruntung. Dan itu merupakan kepuasan besar.

Lalu ada pula Kosta Rika, negara kecil yang tidak berpengalaman tetapi mampu tampil mengejutkan pada Piala Dunia 1990. Kami sukses mengalahkan Skotlandia dan Swedia. Saya melanjutkannya bersama Amerika Serikat, ketika mampu menundukkan Kolombia di Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri. Ada pula Nigeria, yang mampu menempati peringkat teratas grup Piala Dunia 1998. Ada banyak rasa puas. Semuanya saya merasa puas.

Anda berpengalaman melatih di empat benua yang berbeda. Apakah setiap kali Anda merasa perlu untuk mempelajari budaya baru? Kami duga selain tantangan di baliknya, itu juga menjadi motivasi Anda, yaitu menemukan sesuatu yang baru di balik cakrawala baru.

Bisa dibilang seperti itu. Tapi, Anda tahu, ketika berlatih dan punya kesempatan ke suatu tempat, tidak ada alasan seperti itu. Tapi yang pasti setiap kali menemukan hal baru adalah sebuah anugerah. Saya seperti petualang yang menaiki sebuah perahu. Saya pergi ke kiri, ke kanan, untuk menemukan daratan baru. Luar biasa. Selalu ada tantangan baru dan kemungkinan untuk mengenal tempat baru. Secara konstan pula saya berbagi pengalaman. Saya sangat senang bisa beradaptasi setiap kali berpindah di semua negara yang saya kunjungi.

Dari lima Piala Dunia yang pernah Anda ikuti, mana yang paling Anda sukai? Mana yang paling sukses?

Semuanya. Semuanya adalah sukses besar. Kalau dianalisis hasilnya satu per satu, jelas Meksiko. Tapi, pada saat bersamaan, saya tidak bisa mengabaikan apa yang saya lakukan bersama Kosta Rika, negara kecil yang melakukan debut di turnamen sebesar Piala Dunia serta lolos ke babak gugur dengan memenangi dua pertandingan. Apalagi saya melakukannya hanya dalam dua bulan dan bekerja bersama skuat yang sangat muda tanpa menjalani pertandingan uji coba. Pengalaman yang unik.

Saya tidak melupakan Amerika Serikat, negara yang sesungguhnya bukan negara besar dalam sepakbola. Saya bisa bilang kami meninggalkan warisan, bersama dengan orang-orang yang bekerja bersama saya, sejak Piala Dunia 1994 "soccer" terus populer di sana. Saya sangat senang bisa berkontrobusi pada kemajuan seperti ini.

Lalu, Nigeria. Menjadi pelatih di negara Afrika selalu menjadi pengalaman luar biasa. Sayangnya, kami tidak bisa melangkah jauh di babak gugur. Tapi senang rasanya bekerja dengan banyak pemain berbakat.

Kemudian Tiongkok, yang tidak pernah lolos Piala Dunia, sebelum dan bahkan sesudah kiprah kepelatihan saya. Saya merasa beruntung bisa menjadi direktur teknik ketika mereka lolos Piala Dunia. Itu merupakan kisah respek dari para pemain dan pemimpinnya.

Semuanya adalah sebuah sukses. Kepuasan besar. Saya tidak bisa mengistimewakan satu di atas yang lain. Lima kali partisipasi adalah hal yang luar biasa. Saya pun tidak melupakan pengalaman melatih timnas Irak ketika tampil di Piala Konfederasi 2009 dan kami tampil baik. Dengan semua tim ini, saya memetik banyak hasil positif.

Jadi, barangkali percuma menanyakan apakah ada pengalaman Piala Dunia yang Anda sesali...

Tidak, tidak ada penyesalan. Bahkan untuk Piala Dunia 2002. Tiongkok berpartisipasi untuk kali pertama. Saya tidak mau mencari dalih, tapi peluangnya sangat kecil untuk melakukan hal yang lebih baik daripada pencapaian kami. Sulit untuk tim yang baru saja terjun ke kompetisi seperti itu. Saya bahagia dengan perjalanan saya bersama mereka, termasuk kesukesan kami lolos. Masyarakat Tiongkok pun tidak melupakannya.

Ada perasaan yang mengganjal saat Piala Dunia 1998 di Prancis, benar?

Masuk akal kalau setelah mengalahkan Spanyol dan Bulgaria seharusnya Anda melangkah lebih jauh dari babak 16 besar. Namun, harus diakui Denmark yang mengalahkan kami [Nigeria] adalah tim yang jauh lebih baik. Tapi, saya punya banyak kenangan indah. Saya berhubungan akrab dengan para pemain Nigeria. Hal-hal seperti ini akan terus saya kenang selamanya.

Pada saat itu, banyak yang mengatakan akhirnya ada tim asal Afrika yang bakal memenangi Piala Dunia. Sekarang kita berada pada 2018 dan hal itu belum terjadi. Apa yang hilang dari negara Afrika supaya bisa menjadi juara?

Tentu saja untuk menjuarai Piala Dunia Anda harus memiliki tim yang bagus, tapi khususnya semangat tim merupakan hal yang penting. Semua pemain harus memiliki rasa tanggung jawab. Banyak hal yang diperlukan untuk berprestasi di ajang ini, yaitu efisiensi, pengalaman, serta pelatih yang bagus. Banyak hal yang bisa menjadi pembeda. Itu kenapa saya selalu bilang keterampilan sepakbola saja tidak lah cukup. Semuanya datang dengan satu paket. Semuanya harus dirangkai sehingga para pemain bisa tampil pada taraf terbaik mereka. Kita memerlukan lingkungan dengan orang-orang kompeten dan bekerja dengan para pemain muda berbakat. Membangun sebuah tim. Saya bukan pakar sepakbola Afrika, tapi saya tahu semua hal ini harus dirangkai supaya tim bisa mencapai prestasi tertinggi.

Di antara tim yang pernah Anda latih, apakah ada penyesalan bahwa Anda seharusnya bertahan lebih lama?

Tidak juga. Waktu yang saya habiskan di setiap tim sudah cukup. Kita tidak boleh melebihi batas. Misalnya, bersama Kosta Rika saya hanya bertahan 90 hari. Itu sudah cukup. Setiap kali, apa yang sudah terjadi, terjadi lah. Saya memanfaatkan betul setiap kesempatan yang saya dapatkan sebagai pelatih tim-tim tersebut.

Apa pujian terbaik yang Anda dapatkan selama karier kepelatihan?

Pujian terbaik? Entahlah. Tapi ada sebuah situasi yang membuat saya bangga. Itu ketika setelah bertahun-tahun, saya bertemu dengan salah satu pemain yang pernah saya latih, lalu dia memanggil saya dengan penuh respek, "pelatih saya". Ketika mendengarnya, saya sangat merasa senang.

Meksiko, Nigeria, dan Kosta Rika berpartisipasi di Piala Dunia kali ini. Mana di antara tim ini yang akan melangkah lebih jauh?

Mudah membahasnya, tapi pada kenyataannya di lapangan bisa saja berbeda. Ada Meksiko, yang punya banyak kualitas, dan mereka punya peluang lolos. Itu ditentukan oleh hal-hal kecil. Kalau dilihat jadwalnya, mereka tak terlalu diuntungkan. Pertandingan pertama melawan Jerman. Itu grup yang sulit, apalagi ada Swedia yang punya gaya bermain sama sekali berbeda.

Lalu Kosta Rika, mereka satu grup bersama Serbia. Saya orang Serbia dan dengan segudang pengalaman saya tetap mendukung negara saya [tertawa]. Di sisi lain, tugas mereka kian berat karena masih ada Brasil. Begitu juga dengan Swiss, yang dilatih Vladimir Petkovic, yang juga berasal dari mazhab Yugoslavia.

Terakhir, Kosta Rika yang satu grup bersama Argentina, Kroasia, dan Islandia. Saya pikir di antara tiga tim yang pernah saya latih, tim ini lah yang punya peluang lebih baik.

Amerika gagal lolos Piala Dunia, apakah ini hal yang mengkhawatirkan?

Anda harus tanya mereka. Saya tidak dalam posisi membahasnya. Saya bukan tipe orang yang mengomentari pekerjaan orang lain.

Dari banyak negara, Anda tidak pernah melatih di Yugoslavia dan kini Serbia. Apakah ini menjadi semacam ganjalan bagi Anda?

Saya meninggalkan negara saya dalam usia yang sangat muda. Saya sadar hal itu dan saya tetap mensyukuri apa yang saya dapati. Saya pernah bermain untuk timnas B Yugoslavia. Jangan lupa juga Partizan Belgrade, cinta pertama saya. Takdir membawa saya ke jalur lain. Tapi saya tetap orang Serbia dan akan tetap demikian. Anda tahu, mendiang kakak saya, Milos, melatih timnas Yugoslavia di kualifikasi Piala Dunia 1986. Seorang Milutinovic sebagai pelatih saja sudah cukup bagi keluarga kami [tertawa].

Mungkinkah panggilan melatih timnas Serbia akan membuat Anda membatalkan rencana pensiun?

Saya tetap menjadi suporter terdepan tim ini. Wajar karena itu negara saya. Lalu, jangan pernah mengatakan tidak. Namun, sulit membayangkan ada orang yang berpikiran untuk mengajak Bora pada usia seperti sekarang ini.

Siapa tim favorit Anda menjuarai Piala Dunia?

Masih sama di setiap edisi. Banyak tim punya mimpi menjadi juara dunia. Di Amerika Selatan, ada Brasil dan Argentina, meski Argentina tidak menjalani periode kualifikasi yang baik. Mereka punya pemain hebat pada diri Lionel Messi. Di Eropa, ada Prancis, Jerman, dan Spanyol. Saya kira lima tim ini lah yang akan bersaing. Saya berharap ada kejutan, tapi akan sulit.

Anda pernah bermain lima tahun di Prancis. Masih punya banyak teman di sana?

Dari periode waktu itu, tidak banyak. Saat itu, tidak banyak koneksi di antara orang-orang sepakbola. Zamannya berbeda. Tapi, yang jelas, saya sangat bersimpati dan bersahabat dengan orang-orang Prancis.

Apakah pernah mendapat tawaran melatih di Prancis?

Tidak pernah. Tidak ada tawaran. Tapi, lagipula saya jauh sekali, di Meksiko. Kemudian petualangan bersama tim nasional tidak pernah berhenti. Sayang sekali saya tidak berkesempatan melatih di Prancis. Meski demikian, saya terus mengikuti hasil pertandingan mantan tim saya, yaitu AS Monaco atau OGC Nice.

Apakah Anda juga menyesal tidak pernah melatih klub top Eropa dalam karier?

Saya benar-benar tidak punya penyesalan. Tim-tim yang saya latih, semuanya memetik hasil besar. Mungkin saja rasanya senang bisa melatih tim besar, tapi saya senang dengan karier saya. Bisa melatih banyak tim nasional, berpartisipasi di banyak Piala Dunia. Saya juga senang dengan pengalaman saya di Honduras, Jamaika, dan Irak. Saya sudah melatih delapan negara, rasanya seperti mimpi. Saya tidak bisa minta lebih dari ini.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. RESMI: Zinedine Zidane Mundur Dari Real Madrid
2. Alasan Emre Can Hijrah Ke Juventus
3. Bukan Sergio Ramos, Mohamed Salah Cedera Karena Kesalahan Sendiri
4. Ini Penampakan Jersey Baru Timnas Indonesia!
5. Sepuluh Calon Pengganti Zinedine Zidane Di Real Madrid

 

Tutup