Wawan 'Spiderwan' Hendrawan, Si Pencuri Perhatian Yang Ingin Tuntaskan Penasaran

Komentar()
Goal / Abi Yazid
Wawan bertekad tak ingin gagal lagi pada partai final keduanya di Piala Presiden.

LIPUTAN    ABI YAZID      DARI    GIANYAR     

Stefano Lilipaly boleh sukses sebagai topskor Bali United dengan lima golnya di turnamen ini. Demerson Bruno bisa dikatakan sebagai penentu kesuksesan Bali ke final. Namun, jangan lupa semuanya itu akan percuma tanpa kehadiran Wawan 'Spiderwan' Hendrawan di bawah mistar.

Aksi Wawan sudah mampu mencuri perhatian sejak perhelatan Piala Presiden tahun lalu. Ketika itu, dirinya masih berstatus sebagai kiper Borneo FC.  

Salah satu aksinya yang paling diingat, adalah saat menggagalkan sepakan bek Madura United, Fachruddin Wahyudi Aryanto, dalam babak adu penalti di fase perempat-final. Dengan sigap, tembakan Fachruddin yang diarahkan ke sisi kanan dia gagalkan. 

Tahun ini, dengan baju yang berbeda namun lawan yang sama, Wawan kembali melakukan aksi heroik. Kali ini, dia menggagalkan tembakan Marcel Sacramento untuk membawa Bali United melenggang ke babak semi-final lewat drama adu penalti. 

Usai timnya menang adu penalti, sosok dengan nomer punggung 59 itu langsung memanjat mistar gawang. Dirinya seolah membuat tanda tentang julukannya yang sudah terpatri. Spiderwan, begitu suporter dan komentator televisi menyebutnya.

Julukan itu dilatarbelakangi kemampuan Wawan yang punya refleks luar biasa. Secara tiba-tiba, dia bisa melompat menepis dan menangkap bola di saat kondisi yang sebenarnya tidak memungkinkan untuk diraih. Tetapi itulah Wawan, julukan Spiderwan terasa pas untuknya.

"Pertama, karena memang banyak suporter atau orang-orang yang menjuluki saya Spiderwan, ya saya memberikan apresiasi. Saya kan tidak punya kesaktian seperti mengeluarkan jaring laba-laba, kemudian loncat dari gedung juga tidak bisa. Jadi yang bisa saya lakukan ya manjat ke gawang saja buat menyenangkan mereka (fans). Walau rada konyol mungkin, ya ekspresi saja sih," kata Wawan, kepada Goal Indonesia tentang aksinya memanjat tiang.

Wawan Hendrawan - Bali United

Tidak heran, pada babak semi-final Bali United benar-benar mengandalkan dirinya manakala melawan tim kuat Sriwijaya FC (SFC). Wajar karena di Palembang Bali United melakukan pendekatan permainan yang berbeda. Mereka banyak menunggu serangan Laskar Wong Kito dan kemudian melakukan serangan balik. Cara bermain seperti ini membutuhkan pemain belakang dan kiper yang bagus.

Benar saja, pada menit ketiga striker SFC, Manuchekhr Dzhalilov, sudah mengancam melalui tembakannya tapi bisa ditepis Wawan. Begitu juga tembakan Makan Konate pada menit ke-29, dan sejumlah peluang emas lain milik Laskar Wong Kito yang sama-sama dicegah untuk gagal melewati garis gawang Serdatu Tridatu. Pendek kata, 90 menit leg pertama tugas Spiderwan tuntas. 

Sebelum menjalani leg kedua, Bali United terlebih dulu melawan Yangon United pada laga perdana grup G Piala AFC 2018. Hasilnya sudah sama-sama diketahui, mereka kalah dengan skor telak 3-1. Kekalahan yang membuat nada sumbang mengalir deras di tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, yang menyayangkan tim mereka kalah di kompetisi antarklub Asia. 

Wawan sendiri tidak bermain di laga itu, dan dirinya bertekad membahagiakan penonton saat besoknya dimainkan melawan SFC pada leg kedua semi-final Piala Presiden.

"Tetapi kekalahan ini tidak membuat kami ada beban. Semua mengalir saja semuanya dijalani dan dilalui. Berusaha dan bekerja keras sekuat tenaga, selanjutnya biar Tuhan yang menentukan menang atau kalah. Saya selalu fokus di setiap pertandingan, mencoba santai agar pemain belakang tidak tegang," ucap Wawan, jelang semi-final leg kedua.

Dan Wawan membuktikan ucapannya. Dia kembali tampil memukau di bawah mistar gawang tim Serdadu Tridatu. Bali United pun bisa tersenyum puas di akhir pertandingan. Hal itu tidak lepas dari gol sundulan yang dibuat Demerson pada menit ke-81. Praktis, Bali United melaju ke final dan akan bertemu Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (17/2) malam.

Melenggang ke final, bukan berarti tugas pria berusia 35 tahun itu selesai. Dirinya menyatakan rasa sesal kalah melawan Arema FC pada final tahun lalu masih membekas. Sehingga pada tahun ini dia ingin menuntaskan rasa penasarannya untuk mengangkat trofi juara Piala Presiden.

"Kemenangan ini bukan karena saya, ini kemenangan tim. Melawan Persija besok saya masih penasaran untuk menjadi juara. Sudah kepalang tanggung rasanya setelah melihat perjuangan sebelumnya. Tahun ini dengan pemain yang lebih bagus saya optimistis bisa juara," tegasnya.(gk-48)

Tutup