Berita Live Scores
Goal 50

Treble Di Lyon & Patah Hati Bersama Inggris: Inilah Kisah Dramatis Lucy Bronze Pada 2019

18.29 WIB 15/11/19
Lucy Bronze Goal 50
Dalam keterangan eksklusif, runner-up Goal 50 2019 ini membahas pertandingan favoritnya yang juga ditandai laju dramatis Inggris di Piala Dunia.

Pindah ke Lyon dipandang sebagai jalan mudah untuk meraih sukses di kancah sepakbola wanita.

Tidak ada klub yang berhasil memenangkan Divisi 1 Prancis, Coupe de France atau Liga Champions lebih banyak ketimbang Lyon, yang mencatatkan treble keempatnya pada Mei kemarin.

Akan tetapi, bagi Lucy Bronze, pindah dari utara Inggris membuat dia berada di lingkungan yang tepat; mengingat ekspektasinya adalah untuk menang, dan memenangkan semuanya.

“Orang-orang tidak selalu mengapresiasi betapa beratnya untuk fokus pada banyak kompetisi di waktu bersamaan, terlepas seberapa bagus Anda dan talenta yang Anda miliki,” kata Bronze kepada Goal.

“Ini masih tetap sulit untuk mempertahankan fokus dan ambisi di setiap pertandingan, namun itulah ekspektasinya di Lyon.

“Ambisinya adalah ‘untuk memenangkan setiap pertandingan’, karena Anda harus memiliki itu untuk memenangkan trofi.”

Dengan banyaknya trofi dan sukses yang ia raih, itu kemudian meningkatkan profil Bronze.

Ketika Goal berbincang dengannya di St. George’s Park, itu terjadi setelah kami meminta bertemu dengan pemain yang tak diragukan lagi merupakan bintang terbesar Inggris.

Penghargaan individu dan nominasi bagi pemain 28 tahun ini menjadi refleksi akan kehebatannya, sebagaimana ia menempati urutan kedua di ajang Goal 50 tahun ini, yang mengurutkan pesepakbola pria dan wanita terbaik pada 2018/19.

Mengulas kembali pertandingan terbesarnya dalam 12 bulan ke belakang, Bronze mengingatnya dengan nostalgia.

“Atmosfer di pertandingan tersebut…” kata si bek kanan ini ketika ditanya soal hasil imbang 1-1 Lyon melawan Paris Saint-German pada November tahun lalu.

“Itu adalah pertandingan yang saya ingat karena saya mengambil lemparan ke dalam dan saya waktu itu berada di sisi fans Parisian dan mereka melempari tisu toilet ke lapangan dan hal lainnya, mencoba mengintimidasi kami.

“Itu adalah pertandingan yang benar-benar saya nikmati.”

Yang lebih mengintimidasi, lebih bagus, jelas Bronze. Itu juga sama ketika Inggris mengalahkan Wales untuk mengamankan kelolosan ke Piala Dunia beberapa bulan sebelumnya.

Ketimbang memindahkan pertandingan melawan rivalnya ke stadion yang lebih besar agar fans Inggris bisa hadir, Wales memilih bermain di markasnya Newport County bernama Rodney Parade yang berkapasitas 7.850.

“Saya pikir mereka merasa, ‘Oh, Inggris takkan terbiasa dengan ini’, dan saya berpikir sebaliknya, karena kami bukan superstar,” tegas Bronze.

“Kami tidak bermain di Wembley setiap ada pertandingan. Kami memainkan Liga Super Wanita di stadion-stadion kecil dan Liga Prancis juga dimainkan di stadion kecil.

“Itu sebenarnya lucu saat datang latihan dan mereka  juga memindahkan garisnya sehingga mereka membuat lapangannya menjadi kecil.

“Saya rasa mereka melakukannya untuk mengacaukan kami, padahal kami nilai itu sebagai hal yang lucu. Itu justru membuat kami lebih termotivasi menghadapi pertandingan.”

Tidak ada tantangan yang ia takuti. Pada musim panas, Bronze berkata di sesi konferensi pers yang dihadiri banyak media dan ia memaparkan daftar pemain yang ingin dihadapi - beberapa di antaranya pernah ia lawan belum lama ini.

“Saya bersemangat untuk melawan Marta,” katanya saat Inggris akan bertemu Brasil pada Oktober kemarin. “Sayangnya, dia ditarik keluar setelah 20 menit!”

Dia juga sama antusiasnya ketika pelatih kepala Inggris Phil Neville memberi tahunya bahwa dia bakal bermain di posisi berbeda, di gelandang, melawan Amerika Serikat pada Maret di turnamen SheBelieves - yang waktu itu berhasil dimenangkan oleh Inggris untuk kali pertama.

“[Neville] bilang pada saya beberapa pekan sebelumnya dan saya tak sabar untuk itu,” jelas mantan bintang Liverpool dan Manchester City ini.

“Meski Megan Rapinoe dan Tobin Heath bermain di sektor sayap, mereka sering berlari lewat gelandang, jadi saya terlibat untuk melawan semua pemain terbaik mereka. Itu menyenangkan.”

Soal babak perempat-final Liga Champions yang berjalan seru melawan Wolfsburg hingga menang agregat 6-3, Bronze melanjutkan: “Itu sungguh menyenangkan,” jelasnya dengan senyum. “Saya ingat leg pertama kami bermain di kandang di stadion kami yang besar dan babak pertama kami luar biasa, namun kami sedikit kacau di babak kedua dan performa lawan di babak kedua mengesankan!

“Pertandingannya benar-benar gila. Kami mengawalinya dengan ganas, kami mendapatkan gol-gol tandang, mereka kembali mengejar setelah jeda dengan dua gol lain dan kemudian itu berakhir 4-2 atau sejenisnya.

“Saya menikmati pertandingan melawan PSG, saya senang bertemu Wolfsburg, karena mereka adalah tim papan atas yang bisa menyulitkan Anda.”

Setelah melewati tantangan seperti itu, dan kemenangan tipis atas Chelsea di semi-final, Bronze menjadi frustrasi karena orang-orang mempertanyakan final Liga Champions yang disebut kurang kompetitif - di mana Lyon mengalahkan Barcelona dengan skor 4-1, selagi mereka mencetak empat gol tersebut di satu jam pertama.

“Barcelona adalah tim yang sangat bagus. Kami kesulitan melawan mereka tahun lalu di Liga Champions,” ujarnya.

“Kami menghormati mereka dan kami sudah mempersiapkan diri. Saya pikir bermain melawan mereka di tahun sebelumnya membuat kami jadi lebih fokus, karena kami tahu kami harus bermain baik untuk mengalahkan mereka.

“Kami sangat fokus dan sangat senang ketika semuanya berjalan sesuai rencana. Semuanya serasi dan dalam 25-30 menit pertama, pertandingannya sudah berakhir, tuntas, beres, tuntaskan 90 menit dan angkat pialanya.”

Itu adalah jalur yang sempurna bagi Bronze untuk menatap Piala Dunia bersama Inggris.

Dengan memuncaki babak grup lewat tiga kemenangan dari tiga pertandingan, the Lionesses kemudian melaju ke babak empat besar, mengalahkan Kamerun dan Norwegia dalam prosesnya untuk bertemu dengan Amerika Serikat, sang juara bertahan.

Terlepas keyakinan mereka bisa menjadi juara, itu justru menghadirkan kisah pilu bagi Bronze dan negaranya, yang kalah 2-1.

“Setiap kali saya melihat keputusan VAR di Liga Primer, saya memikirkan gol Ellen White yang dianggap offside meski tipis,” ujarnya sembari memberi gerakan tubuh.

“Itulah alasan mengapa kami gagal ke final. Ya, itu harusnya 2-2 namun saya pikir di momen kritis pertandingan, kami tampil lebih baik.

“Mereka adalah tim papan atas, juara dunia dua kali sekarang, dua kali beruntun, namun saya pikir itu adalah pertandingan yang akan menghantui saya di sisa hidup karena hal-hal kecil semacam ini tidak memihak kami.

“Selisihnya tipis. Kami berakhir di posisi keempat dan mereka pertama, namun di pertemuan kami.. perbedaannya ‘hanya ini’,” terangnya dengan memberi gesture jari.

Bronze kemudian diakui performanya. Bola Perak Piala Dunia menjadi miliknya yang diikuti penghargaan Pemain Terbaik Wanita oleh UEFA, dan masuk dalam FIFPRO XI tahun ini - dengan banyak nominasi yang masih akan datang.

Namun, tanpa medali pemenang Piala Dunia, dia belum bisa puas.

“Saya tidak menikmati penghargaan individu,” jelas Bronze datar.

“Bola Perak tidak ada artinya buat saya, karena yang terpenting dari penghargaan ini adalah menjuarai Piala Dunia.

“Pada akhirnya, saya ingin menukar setiap penghargaan ini, setiap penghargaan yang saya miliki di rumah, hanya untuk menjuarai Piala Dunia.”