Tak Ada Fantasi Di Tubuh Azzurri

Komentar()
Getty
Antonio Conte membuat satu keputusan berani dengan meninggalkan gelandang legendaris, Andrea Pirlo, dalam skuat yang dipersiapkan untuk Euro 2016 esok.

Jika dilihat dari sudut pandang fisik, wajah cantik bukanlah faktor mutlak bagi wanita untuk memenangkan hati pria. Masih banyak banyak hal lain yang bisa wanita tawarkan dari keindahan fisiknya.

Mulai dari warna kulit, model rambut, hingga bentuk tubuhnya. Ya, segala hal yang bisa membuat kaum adam berfantasi sekalipun wajah sang hawa tergolong biasa saja.

Dan analogi itulah yang tepat bagi timnas Italia. Sejak tim nasional sepakbolanya lahir 118 tahun silam, semua orang sepakat La Nazionale tak pernah punya wajah cantik dalam permainannya.

Filosofi catenaccio yang menitikberatkan pertahanan dalam sistem taktikalnya, membuat permainan Italia seakan haram untuk dibilang cantik. Namun dengan filosofi itu, mereka justru mampu raih predikat sebagai salah satu tim paling elite di dunia lewat koleksi empat gelar Piala Dunia dan satu Piala Eropa.

Hal itu terjadi karena di balik wajahnya yang tak cantik, Italia selalu sanggup menghadirkan fantasi dalam permainannya. Satu hal yang hanya bisa divisualisasi oleh pemain dengan aura fantasista dalam skuatnya.

Pemain yang memiliki teknik berkelas, penjelajah lapangan, pengatur tempo, dan punya visi yang luar biasa dalam melepas umpan serta tembakan. Pemain yang selalu diidamkan pelatih manapun dan Italia selalu berhasil memproduksinya dari masa ke masa.

Lazimnya mereka berposisi sebagai trequartista atau regista. Dan sejauh mata memandang, maka akan muncul deretan fantasista legendaris asal Italia, mulai dari Giuseppe Meazza, Gianni Rivera, Roberto Baggio, Francesco Totti, Andrea Pirlo, hingga yang terbaru Marco Verratti.

Sayangnya kini dalam 30 nama sementara yang dirilis Italia untuk Euro 2016, tak ada satu pun pemain yang memiliki aura fantasista. Situasinya memang memaksa pelatih mereka, Antonio Conte, melakukan hal tersebut.

Marco Verrati, generasi terbaru fantasista, yang sejatinya sudah otomatis masuk skuat, urung dipanggil karena menderita cedera serius di waktu yang salah. Hal serupa terjadi pada Claudio Marchisio, sosok gelandang petarung yang baru-baru ini cukup sukses menjalani peran baru sebagai fantasista di pos regista.

Meski begitu, Conte sejatinya masih memiliki satu nama terakhir yang akhirnya ditinggalkan, siapa lagi kalau bukan Andrea Pirlo

Alasan Conte tak memanggilnya memang cukup masuk akal. Usia Pirlo sudah 37 tahun, level fisiknya tak lagi prima, plus berkompetisi di dunia ketiga sepakbola. Tapi ayolah, sang legenda belum benar-benar habis. Hal itu ditunjukkan dari peran krusialnya dalam beberapa partai di babak kualifikasi lalu.

Pirlo juga mungkin jadi fantasista terbaik yang pernah dimiliki Italia. Puing-puing kejayaannya masih ada. Setiap sentuhannya pada bola, meski hanya dimainkan sejenak, bisa menghadirkan fantasi liar terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu pengalaman segudangnya di kancah internasional, akan membuat Gianluigi Buffon tak harus didampingi si labil, Daniele De Rossi, untuk bangkitkan semangat di ruang ganti.

“Saya sudah berbicara dengan Andrea. Kami mengevaluasi kondisinya, dan sangat normal jika mereka memilih bermain di sana [Amerika Serikat], akan ada konsekuensi dalam aspek sepakbola. Kami mengevaluasi mereka dari aspek teknis, dan kami melihat mereka tidak berada dalam level permainan yang kami harapkan,” ungkap Conte, soal alasannya meninggalkan Pirlo.

Tanpa adanya fantasista yang rutin hadirkan fantasi dalam permainan Italia, apa yang akan dilakukan Conte di Euro 2016 nanti?

Ditilik dari progres terkini, pemain yang dipanggil, dan latar belakang belakangnya di dunia kepelatihan, maka Conte bakal mengubah wajah permainan Italia menjadi cantik. Azzurri akan miliki identitas baru pada ajang akbar yang dihelat di Prancis tersebut.

Skema ofensif 3-4-3 kemungkinan besar bakal jadi formasi utama. Tanpa adanya gelandang jangkar, gaya permainan akan lebih melebar mengandalkan kedua sisi lapangan.

Tempo permainan juga mau tak mau harus lebih cepat, karena akan jadi bunuh diri ketika aliran bola jadi terpusat ke tengah. Gaya itu amat khas dengan filosofi sepakbola Conte yang terbuka dan eksplosif, seperti yang ditampakkannya dalam tiga musim sukses bersama Juventus.

Namun harus diingat, Conte hanya punya waktu singkat untuk melakukan transisi identitas. Terlebih juru taktik berusia 46 tahun itu juga sejatinya tak terbiasa meracik taktik tanpa fantasista. Ketika di Juve dia punya Pirlo yang on fire, sementara saat babak kualifikasi ada Verratti atau Marchisio.

Tinggalkan Pirlo, beban Conte tampak makin berat

Hasil prematur dalam beberapa duel uji coba terbaru jadi bukti sahih transisi yang buruk. Dari empat partai yang dilakoni, Italia tak pernah menang dengan dua kali seri dan dua kali kalah.

Tim Biru Langit takluk secara telak dari Belgia, bermain konyol dengan hanya seri melawan Rumania, kelimpungan hadapi Spanyol yang dalam masa transisi parah, dan terakhir dihajar habis-habisan oleh Jerman, yang tak pernah menang dari mereka selama 21 tahun terakhir!

Niat Conte untuk mengubah identitas tim lewat permainan yang cantik memang brilian. Namun ia juga tebentur pada ketersediaan pemain Negeri Pizza yang kualitasnya kini tak bisa lagi disebut spesial. Ia jelas butuh sosok pembeda di dalam skuat dan pemain seperti Pirlo adalah jawaban daruratnya.

"Kami tim yang tak cukup dikenal, kami harus mengakuinya bukan? Italia kini hanya memiliki sedikit pemain juara atau pemain dengan bakat sebenarnya," ujar Marchisio beberapa waktu lalu, meski dirinya percaya Conte bisa melakukan sesuatu yang eksepsional.

Kini dengan keputusan meninggalkan Pirlo, beban sepenuhnya ada di tangan Conte. Ia memang akan pergi dari Italia usai Euro 2016, tapi tentu dirinya tak ingin dikenang sebagai pecundang di negaranya sendiri bukan?

Dengan tak adanya fantasi di tubuh Gli Azzurri, mari kita nantikan wajah cantik macam apa yang bisa dihadirkan Conte untuk menjaga martabat Italia di Prancis nanti.

 

Tutup