Berita Live Scores
NxGn

St George’s Park, Wujud Oxford & Cambridge-nya Sepakbola Inggris

14.40 WIB 23/03/19
England Rashford
Ketika Howard Wilkinson ditunjuk sebagai direktur teknik pertama FA pada 1997, ia muncul dengan rencana menjadikan Inggris sebagai pusat talenta muda.

Bahwa Inggris yang sekarang memproduksi banyak pemain muda berkelas bukan suatu kebetulan. Juara Piala Dunia U-17 dan U-20, kesuksesan terkini Federasi Sepakbola Inggris (FA) merupakan bukti bahwa cara mereka bekerja dan usaha untuk menetapkan standar dan mengembangkan pembinaan usia muda sudah terbayar.

Targetnya muncul pada 1997 lalu ketika Howard Wilkinson menjadi direktur teknik pertama FA, yang mendirikan "sebuah Oxford dan Cambridge" untuk edukasi sepakbola di Inggris. Dengan rencana yang koheren dan kepelatihan yang tepat, masa depan bagi para pemain muda Inggris sekarang akan tampak aman.

Skuat senior Gareth Southgate - yang disiapkan untuk kualifikasi Euro 2020 - telah diisi kembali dengan banyak pemain dari sektor usia muda. Inggris mengirimkan skuat termuda ketiga berdasarkan rata-rata usia ke Piala Dunia di Rusia musim panas lalu dan sang manajer juga telah memberikan penampilan senior kepada sembilan bemain di bawah usia 21 tahun selama 18 bulan terakhir.

Di antaranya adalah pemenang penghargaan Goal NxGN 2019, Jadon Sancho, yang bersinar di Bundesliga Jerman bersama Borussia Dortmund setelah meninggalkan Manchester City guna mencari kesempatan bermain di tim utama.

Sancho - bersama dengan deretan bintang muda yang telah muncul seperti Dele Alli, Marcus Rashford dan Trent Alexander-Arnold - bakal menjadi andalan tim nasional untuk satu dekade ke depan, juga tampil reguler bersama klub masing-masing memasuki pengujung Liga Primer Inggris dan Liga Champions musim ini.

"Ketika saya menghadap ke FA, saya datang dengan pandangan bahwa pembinaan usia muda bisa ditingkatkan secara dramatis," ungkap Wilkinson kepada Goal soal penunjukkannya.

Ia telah mencapai kesuksesan bersama Leeds United - tetap menjadi orang Inggris terakhir yang memenangkan gelar juara kasta tertinggi sebagai manajer - dan merupakan bagian integral dalam mendirikan akademi terkenal Leeds yang menghasilkan deretan pemain seperti Gary Speed, David Batty dan Harry Kewell, dan terus berlanjut sampai hari ini memproduksi banyak pesepakbola muda berkualitas.

"Ketika saya bergabung dengan Leeds, mereka telah merekrut 18 anak sekolah, yang hanya satu di antaranya menjadi profesional. Saya pikir dalam tahun terakhir kami merekrut tujuh, yang semuanya menjadi profesional," kenangnya.

"Lima di antara mereka tampil untuk Leeds dan, memang, menjadi bagian dari skuat yang mencapai semi-final Liga Champions [2001]."

Menggunakan pengalamannya bersama Leeds, Wilkinson dan tim ahli yang telah dikumpulkan di FA menggarap rancangan tentang bagaimana cara mengembangkan para pemain muda untuk dibawa ke tim nasional.

"Sebagai sebuah negara, kami harus mulai menangani pengembangan usia muda sehingga kami mendapatkan banyak pemain yang lebih baik dan para pemain tersebut - tidak semuanya menjadi bersama Inggris - tapi di antaranya akan menguntungkan tim-tim Inggris," jelasnya.

"Bukan hanya saya. Ada banyak orang penting dalam perjalanan menuju ke sana."

"Saya sendiri, Robin Russell, Les Reed, John McDermott - salah satu pengembang talenta muda terbaik di Britania jika tidak di Eropa. Saya memiliki pasukan yang sangat berbakat yang bekerja bersama saya."

Wilkinson ingin berbagi ide dengan pemain baru Inggris - dan semua orang yang terlibat dalam pengembangan talenta muda - bahwa mereka yang mewakili tim nasional akan memulai jalur karier internasional yang dapat melengkapi jalur karir yang mereka harapkan akan dinikmati bersama klub mereka .

"Apa yang saya inginkan, dan apa yang kami ciptakan, adalah jalur di mana ada konsistensi dalam apa yang kami lakukan dengan para pemain," katanya.

"Jika kami mengidentifikasi pemain terbaik di Inggris pada usia 15, kami ingin para pemain itu memiliki pengembangan paralel."

"Saya pernah memberitahu mereka, 'Anda punya dua jalur karier sekarang. Anda punya jalur profesional di level klub dan juga sepakbola internasional, dan keduanya saling terkait. Jika Anda melakukan satu dengan baik, maka Anda akan melakukan yang lain dengan baik pula."

Kunci untuk itu adalah cara berpikir bersama di semua kelompok umur tim nasional, dengan pendekatan yang jelas untuk kepelatihan dan permainan yang bisa diterapkan di semua level.

"Ada perbedaan besar; jumlah hari Anda di pusat latihan Inggris dan jumlah hari di klub, dan jumlah waktu yang Anda dapatkan," ucapnya.

"Penting untuk mengidentifikasi mereka pada usia 15 tahun, mereka mulai belajar. Seharusnya tidak seperti dulu: Saya bermain dengan para pemain berusia 18 tahun-an, saya sekarang berusia 21-an - mereka ditangani manajer yang berbeda dan melakukannya dengan para pelatih mereka sendiri."

"Para pelatih harus menjadi diri mereka sendiri, tetapi mereka harus melakukannya dengan cara yang sama di seluruh Inggris."

Di antara proposal Wilkinson adalah rencana untuk membuat pusat sepak bola nasional, yang dapat berfungsi sebagai markas besar untuk pengajaran dan pembelajaran. St George’s Park akhirnya diresmikan oleh 'Duke and Duchess of Cambridge' pada 2012 dan dibuka pada 2013, lebih lambat dari jadwal semula.

"Itu adalah strategi yang komprehensif, tapi kami membutuhkan hati yang simbolis," ujarnya. "Kami membutuhkan rumah. Saya berkata bahwa saya ingin menjadikannya sebagai Oxford dan Cambridge-nya sepakbola Inggris; itu penting untuk keseluruhan rencana."

"Saya mengidentifikasi lokasi St George’s Park. Pada 2002, kami mulai meletakkan pijakan dan kemudian, secara tiba-tiba, saya pergi pada 2002 dan pada 2003, pandangan saya lepas dari sepakbola. St George’s Park terbengkalai, Wembley yang baru diinisiasi dan biaya pembangunan Wembley baru membengkak."

"Tidak sampai 2008 St George’s Park dan segalanya kembali masuk dalam agenda dan itu terpilih melalui proses yang minimal. Lalu, itu dibuka pada 2013 dari awalnya direncanakan pada 2002 atau 2003."

"Seluruh hikayat - apakah kami akan memiliki St George’s Park atau tidak? - sempat diambil alih untuk kebutuhan membangun Wembley baru, yang biayanya membengkak tiga kali lipat. Kami membayar harga yang mahal untuk itu."

Keunggulan Prancis dalam pengembangan usia muda telah lama berdiri dan pusat mereka di Clairefontaine telah dikategorikan sebagai standar tinggi. Inggris sekarang punya salah satunya, St George’s Park memiliki 13 lapangan, fasilitas kelas dunia dan menjadi rumah bagi 28 tim Inggris - mulai dari kategori pria dan wanita dewasa serta anak-anak.

Namun, tanpa rencana yang digagas pada 1997, St George’s Park hanya akan menjadi situs lain. Yang membuatnya efektif adalah rencana pendukungnya.

"St George’s Park penting karena merupakan penghubung, itu simbolis," katanya. "Anda tak bisa memiliki organisasi apa pun apabila Anda tak punya tempat yang bisa dijadikan sebagai rumah."

"Yang penting dari simbolisme adalah rencananya. Itulah yang krusial, rencananya, dan pastikan itu diimplementasikan secara tepat."

Pembentukan lencana kepelatihan UEFA Pro Licence dan penghargaan FA Charter Standard Awards bagi klub di usia dini - ini termasuk dalam pengembangan sepakbola Inggris dalam dua dekade terakhir yang sekarang menjadi bukti dari performa tim nasional.

"Itu adalah proposal yang saya bawak ke FA dan dikembangkan," paparnya. "Dan mereka menerimanya."

"Adalah akademi sepakbola. Kami mengenalkan standar dan aturan untuk klub-klub usia dini. Asosiasi kepelatihan FA diperkenalkan. Kami mengenalkan lisensi pro."

"Dan, tentu saja, strategi pengembangan untuk tim nasional pria dan wanita. Itu penting. Saya menunjuk Hope Powell sebagai pelatih penuh pertama untuk tim nasional wanita Inggris."

"Jadi, segalanya tak akan mungkin tampa sebuah rencana yang komprehensif."

"Ambilah dari saya, Anda tak akan mendapatkan sekolah yang bagus selama Anda tak mendapatkan guru yang bagus. Dan Anda tak akan mendapatkan sekolah yang bagus tanpa pemimpin dan kepala yang bagus. Itulah yang kami miliki sekarang, mentor yang bagus."

"Dasar-dasarnya harus ada di sana. Dan ketika anak-anak melalui pengembangan di sekolah, jalur pembelajaran harus sebisa mungkin bagus dan sesuai dengan tujuan."

"Jalur pengembangan untuk para pemain Inggris sejauh ini adalah jalur yang koheren dan kohesif."

Wilkinson memuji keterlibatan Dan Ashworth - yang diangkat menjadi direktur teknik pengembangan elite FA pada 2012 dan salah satu penulis program 'DNA Inggris' - sebagai salah satu sosok penting di balik kebangkitan proyek ini.

"Syukurlah, Dan mengambil tongkat estafet," katanya. "Ketika St George’s Park terbengkalai, rencananya tidak tertunda tapi melambat secara dramatis."

"Proposal dihidupkan kembali pada 2008 hanya karena disetujui secara minimal oleh dewan FA. Itu tidak seperti tanah longsor. Untungnya, kami sekarang kembali ke jalur."

Dengan trofi yang memang tidak biasanya dipandang sebagai tujuan akhir sepakbola usia dini, Wilkinson puas mengatakan bahwa munculnya banyak pemain muda menjadi bukti bahwa rencananya sudah membuahkan hasil.

Dalam nada yang sama, performa tim senior di Rusia pada musim panas lalu - di mana mereka melaju hingga semi-final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun - seharusnya memberikan banyak keyakinan bagi para pemain bahwa Inggris sudah berada di jalur yang benar.

"Pada saat ini - mulai dari U-17 hingga U-21 - kami memuncaki peringkat dunia," ujarnya. Itu juga menjelaskan bahwa tiga dari empat teratas daftar pemain Goal NxGn berasal dari Inggris.

"Trofi memang penting karena mereka menjadi bukti atas apa yang sedang Anda lakukan. Faktanya bahwa sekarang kami peringkat pertama dalam usia U-21 ke bawah adalah pembenaran atas apa yang kami lakukan dan itu penting."

"Apa yang dilakukan Gareth [Southgate] di Moskwa sangat besar, membawa kami ke tempat di mana kami berada sekarang ini. Yang diketahui oleh para pemain yang pernah berada di pembinaan Inggris adalah kami mampu berada di sana, melihatnya dan melakukannya."

"Itu adalah pembenaran atas apa yang kami lakukan. Itu menceritakan bahwa metode kami benar. Itu telah melewati hambatan yang telah muncul sepanjang waktu."

Kesulitan yang dialami Jerman di level klub dan internasional menunjukkan bahwa rencana terbaik pun bisa serba salah. Itulah sebabnya FA berusaha untuk melindungi segala kerusakan yang bisa datang di masa depan.

"Kualitas dan kuantitas edukasi pelatih dari usia muda hingga level profesional adalah kelas pertama," terang Wilkinson. "Bisakah itu dikembangkan? Segala hal selalu bisa dikembangkan."

"Jika Anda punya kepemimpinan bagus dalam organisasi apa pun, itu akan bisa menjaga Anda dari kepuasan diri. Akan selalu ada pertanyaan: Apa yang bisa kita lakukan lebih baik lagi?"

Itu adalah salah satu alasan mengapa, dalam opini Wilkinson, Southgate adalah kandidat ideal untuk memimpin tim dan membawa semua talenta ketika waktunya tepat.

"Gareth sudah bersama tim U-21," jelasnya. "Ia berada di dalamnya. Sekarang ia bersama tim senior Inggris. Ia memberikan Anda bab dan ayat tentang apa program pembelajaran itu, bagaimana mereka terus dikembangkan."

Dengan ledakan Liga Primer, itu berarti para pemain muda elite secara potensi mendapatkan menit bermain sedikit di klub-klub top Inggris. Sampai sejauh itu, Wilkinson melihat sisi positif dalam para pemain seperti Sancho - juga Reiss Nelson di Hoffenheim dan Emile Smith Rowe di RB Leipzig - pergi ke mancanegara untuk mengembangkan sepakbola mereka.

"Akhir 90-an, melewati 2000, Inggris menjadi sekolah akhir bagi para pemain Prancis," ujarnya. "Mereka mendapatkan pelatihan di Prancis sampai usia 18 tahun dan kemudian klub-klub Inggris membeli dan membawa mereka ke sini. Mereka menguji keberanian di liga kami."

"Sekarang hampir sebaliknya. Kami mengubah persepsi. Fakta bahwa kami memiliki anak-anak yang dididik di Inggris bermain di Bundesliga sangat besar. Bundesliga adalah liga yang tangguh."

Dan itu semua memberikan bukti bahwa perkembangan para pemain muda Inggris sekarang dapat dianggap sebagai yang terbaik di dunia.

 

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1. UEFA Jatuhkan Sanksi Untuk Cristiano Ronaldo
2. Permen Karet Bekas Kunyahan Sir Alex Ferguson Laku Rp7 Miliar
3. Jose Mourinho Siap Comeback Setelah Tolak Banyak Tawaran
4. Maluku Kecam Penunjukkan Gusti Randa
5. 50 Pelatih Terbaik Dunia Sepanjang Masa
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia