'Singkirkan Cristiano Ronaldo!' - Bintang Juventus Kembali Dikecam Jelang Duel Krusial Lawan Atalanta

Cristiano Ronaldo Juventus Genoa Serie A GFX
Getty/Goal
Sang superstar Portugal kerap mendapat kritikan, namun semakin frustrasi di Turin usai Bianconeri tersingkir dari Eropa dan perburuan Scudetto.

Cristiano Ronaldo sudah lama terbiasa dengan sorotan media yang intens dan serangan publik yang begitu keras.

"Saya tahu bahwa orang-orang berdiri dengan senapan mereka menunggu saya melewatkan penalti atau gagal dalam pertandingan yang menentukan," katanya kepada La Repubblica pada Mei 2019.

"Tapi itu bagian dari hidup dan saya harus siap menerimanya. Dan saya sudah siap selama bertahun-tahun."

Meski begitu, ada tanda-tanda bahwa ia merasakan tekanan dari yang diperkirakan memang akan diterimanya sejak tersingkirnya Juventus dari babak 16 besar Liga Champions.

Memang, jelas bahwa ia ingin mengirim pesan kepada para pengkritiknya ketika ia menunjuk ke arah telinganya usai mencetak hat-trick ke gawang Cagliari pada 14 Maret - hanya lima hari setelah disingkirkan oleh Porto di Liga Champions.

Jika ia merasa sikapnya telah membungkam para pengkritiknya, itu terbukti salah.

Perdebatan tentang apakah Juventus harus mempertahankan Ronaldo selama satu tahun lagi atau mencoba menyingkirkannya dan paket gajinya yang membebani finansial tim kini semakin meningkat.

Sebagai dalih pemain berusia 36 tahun itu, Ronaldo telah melakukan apa yang dituntut darinya sejak tiba di Italia pada 2018, dengan mencetak banyak gol dan meningkatkan nilai merek Bianconeri.

Namun, Juve masih kewalahan, baik dari erspektif keuangan dan olahraga, yang membuat banyak pakar mengklaim bahwa 'proyek CR7' telah gagal dan karena itu harus ditinggalkan.

Statistiknya memang tidak bagus. Juve belum pernah melaju ke perempat-final Liga Champions sejak Ronaldo menandatangani kontrak, dan sekarang merasakan dampak dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh virus corona, di dalam dan di luar lapangan, dengan gaji sang striker sebesar €31 juta per tahun semakin menambah kesengsaraan moneter mereka.

GFX Massimiliano Allegri Cristiano Ronaldo

Mantan pemain internasional Italia, Antonio Cassano hanyalah salah satu dari beberapa pakar yang percaya superstar Portugal itu sekarang juga menjadi masalah dalam aspek taktik tim, sama sekali tidak sesuai dengan filosofi sepakbola yang dianut oleh pelatih Andrea Pirlo.

Ronaldo sendiri mengaku telah mengubah gaya permainannya seiring bertambahnya usia. Ia tidak lagi banyak menggiring bola dan berkontribusi lebih sedikit dalam pembangunan serangan tim. Target satu-satunya sekarang ini baginya adalah mencetak gol - dan ia memang terus menonjol untuk urusan itu.

Memang, Ronaldo saat ini berada di jalur untuk memenangkan penghargaan Capocannoniere pertamanya, setelah mencetak 25 gol yang mengesankan hanya dalam 27 penampilan Serie A. Namun, musim terbaiknya sejak bergabung juga berarti adalah musim terburuk Juve selama 10 tahun belakangan ini.

Juve sudah tersingkir dari Liga Champions dan perebutan Scudetto. Mereka praktis kini mengalihkan fokus pada upaya finis di empat besar Serie A. Kekalahan dari Atalanta pada Minggu (18/4) besok bisa membuat mereka terlempar ke urutan kelima.

Tuttosport bahkan mengklaim pada Selasa (13/4) bahwa Ronaldo kemungkinan akan meninggalkan Turin jika Juve gagal lolos ke Liga Champions musim depan, dan itu hanyalah salah satu dari berbagai rumor yang diterbitkan oleh pers Italia minggu ini yang hanya berfokus pada masa depan Ronaldo.

Saat ini, setiap gerak geriknya tengah dianalisis - lebih daripada tahapan sebelumnya dalam kariernya di Juve - dan beberapa konklusinya dipertanyakan.

Setelah kemenangan akhir pekan lalu atas Genoa, Ronaldo diduga telah melepas jerseynya dan melemparkannya ke lapangan karena muak, hanya karena tidak mencetak gol.

Ia jelas tampak frustrasi selama pertandingan, sementara ada perbandingan langsung dengan sikapnya yang membanting ban kapten Portugal karena marah golnya tidak disahkan wasit dalam hasil imbang kontroversial lawan Serbia saat jeda internasional lalu.

Namun, koresponden Goal untuk Juventus, Romeo Agresti, dengan cepat mengklarifikasi, Ronaldo sebenarnya melempar jerseynya kepada seorang anak gawang.

Sayangnya, pesan itu tidak sampai ke Pirlo sebelum ia menghadapi kamera TV dalam jumpa pers, dengan sang pelatih tampak terpaksa membela sikap Ronaldo yang ketika itu dianggap kurang ajar dan lantas mengaitkannya dengan mentalitas kemenangannya.

"[Frustrasi] adalah bagian dari sikap juara, yang selalu ingin meninggalkan jejak mereka," kata mantan gelandang itu kepada Sky Sport Italia.

Yang lebih buruk pun datang.

Pada Senin (12/4), Gazzetta dello Sport mengklaim bahwa Ronaldo sangat marah dengan permainan versus Genoa sehingga meninju dinding ruang ganti Allianz Stadium selepas pertandingan, meski tuduhan itu dibantah keras oleh Juve.

Keesokan harinya, La Repubblica melaporkan bahwa sebelum berpisah dengan Juventus pada 2018, Massimiliano Allegri mengatakan kepada presiden klub Andrea Agnelli: "Singkirkan Ronaldo. Ia menghalangi pertumbuhan tim."

Di Bergamo, sementara itu, Hans Hateboer dan rekan-rekannya tertawa terbahak-bahak setelah mempersembahkan jersey Ronaldo ke Robin Gosens, setelah pemain Jerman itu mengungkapkan dalam otobiografinya awal bulan ini bahwa sang pemenang lima Ballon d'Or pernah menolak permintaannya untuk bertukar jersey sebelum ini.

Bahkan Gosens, yang merasa "malu" dan "tersipu" oleh penolakan tersebut, tidak bisa menahan tawanya. Tapi orang-orang bertanya-tanya apakah Ronaldo akan melihat sisi lucunya, terutama dalam seminggu pemberitaan negatif semacam itu.

Memang, statusnya sebagai pemain terbaik di Serie A bahkan ikut dipertanyakan, dengan pemenang Piala Dunia, Luca Toni berargumen bahwa Romelu Lukaku sekarang adalah "striker yang lebih komplet".

Mantan gelandang Juventus, Massimo Mauro juga tak ketinggalan memberikan opininya, mengatakan bahwa klub akan jauh lebih baik tanpa pemain dengan karakter yang menurutnya hanya tertarik pada kepentingan pribadi.

"Ronaldo tidak pernah menjadi pemimpin di mana pun ia bermain dan tidak akan pernah," kata pria 58 tahun itu kepada Gazzetta. "Ia lebih seperti bisnis dan segala sesuatu mengenai dirinya lebih penting daripada kesuksesan tim."

"Cristiano tidak akan membuat rekan-rekan setimnya bermain bersamanya, ia selalu ingin mereka memberinya bola untuk mencetak gol. Ia seorang individualis yang hebat, bukan pemain yang bermain untuk tim."

Artikel dilanjutkan di bawah ini

"Dari sudut pandang pencapaian, Juventus bersamanya tidak lebih baik dari sebelumnya, mereka bahkan tampil lebih buruk di Liga Champions. Itulah mengapa hal terbaik bagi mereka berdua adalah berpisah."

Terlepas dari persepsi luas tentang Ronaldo sebagai sosok yang arogan, ia tidak kebal terhadap kritikan. Ia sebelumnya mengakui bahwa terkadang kritikan sampai langsung kepadanya, dan, sekarang, pasti terasa seolah-olah orang-orang mengantre untuk mengecamnya habis-habisan.

Namun, pada Minggu besok di bergamo, ia sekali lagi punya kesempatan untuk membalas, dan mengubah narasi-narasi yang telah beredar luas sekarang ini.

Tutup