Sejarah Enggan Memihak Juventus Maupun Real Madrid

Komentar()
Duel final Liga Champions musim ini semakin sulit diprediksi, tatkala sejarah bahkan enggan memihak salah satu di antara Juventus maupun Real Madrid.

OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR       Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Juventus dan Real Madrid bakal jalani duel hidup-mati untuk rengkuh gelar Liga Champions musim 2016/17, di Cardiff Stadium, Wales, Minggu (4/6) dini hari WIB.

Akan ada banyak faktor yang menentukan kelayakan salah satu dari mereka untuk kecup "Si Kuping Lebar" di podium Cardiff nanti. Salah satu yang paling menarik untuk diulik tentu saja balutan sejarah jelang bentrok besar ini. Statistik yang kemudian membentuk mitos, jadi elemen penting di dalamnya.

Berbicara satistik, tentu tidak afdal jika tak menyinggung rekor pertemuan kedua tim. Sepanjang sejarahnya, Juve dan Madrid sudah bertemu sebanyak 18 kali. Kesemuanya terjadi di Piala/Liga Champions.

Sekalipun Madrid mengoleksi trofi Pala/Liga Champions nyaris enam kali lipat dari Juve, hasil duel keduanya ternyata seimbang. I Bianconeri dan Los Galacticos berbagi delapan kemenangan dan sepasang hasil imbang. Rekor gol-nya pun ketat, karena Juve (20) hanya unggul satu gol dari Madrid (19).

Bentrok di Cardiff esok juga bukan kali pertama keduanya dipertemukan di partai final. Sebelumnya Juve dan Madrid pernah bertemu di final Liga Champions 1997/98. Hasilnya, walau La Vecchia Signora menguasai mutlak jalannya pertandingan, Los Galacticos-lah yang keluar sebagai kampiun.

Meski punya kenangan buruk, menariknya dalam sepuluh pertemuan terakhir Juve unggul dengan lima kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga kekalahan. Pertemuan terakhir terjadi di leg kedua semi-final Liga Champions 2014/15.

Kala itu bomber Madrid kini, Alvaro Morata, membuat duel di Santiago Bernabeu berakhir imbang 1-1 yang loloskan Juve ke final lewat keunggulan agregat 3-2.

SIMAK JUGA: Membedah Kelemahan Juve & Madrid

SIMAK JUGA: Ronaldo, Momok Baru Buffon

Keengganan untuk memihak juga tersaji tatkala kita menyinggung mitos yang menyelimuti pertemuan kedua kubu.

Pertama adalah rekor Madrid dan Juve di final Liga Champions, karena kebetulan keduanya merupakan tim yang paling sering lolos ke partai puncak sejak turnamen dibranding ulang pada musim 1992/93.

Madrid unggul jauh karena selalu menang di lima final yang dilakoninya. Sedangkan Juve secara mengenaskan hanya mampu raih satu trofi dari jumlah final yang sama.

Namun patut diingat pula bahwa dalam sejarah Liga Champions, tak ada satu pun tim yang mampu pertahankan gelar dua musim beruntun. Seperti yang berpotensi Los Merengues lakukan, jika sanggup taklukkan La Vecchia Omcidi nanti.

Selanjutnya, dengan laga yang dimainkan di Cardiff, Wales, sejatinya Madrid punya peluang lebih baik untuk jadi juara. Hal itu terjadi karena sepanjang sejarahnya tim asal Spanyol selalu memenangkan final Piala/Liga Champions, jika dimainkan di Britania Raya. Mereka sudah melakukannya empat kali, terbanyak di antara wakil federasi lainnya.

Walau begitu tim asal Italia punya siklus tujuh tahunan bawa pulang trofi Liga Champions. Dimulai dari AC Milan pada musim 1988/89, Juve musim 1995/96, Milan 2002/03, Inter 2009/10, dan jika tradisi terus berlanjut Juve-lah yang bakal keluar sebagai juara di kampanye 2016/17 ini.

Dengan paparan di atas, setidaknya bakal terdapat dua mitos yang lenyap di final nanti. Ya, makin tak sabar rasanya menanti final ini karena sejarah saja bahkan enggan menyatakan keberpihakannya pada Juve maupun Madrid.

 

Tutup