San Paolo, Surga & Neraka Gonzalo Higuain

Komentar()
Goal
Pernah dirasa sebagai surga, akhir pekan ini San Paolo siap menjelma jadi neraka dunia buat Gonzalo Higuain.

OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter

27 Juli 2013, publik Kota Naples gempar akibat berita transfer dari klub kesayangannya, Napoli. Getaran yang terakhir dirasakan tiga dekade silam, tatkala I Partenopei mendatangkan legenda terbesarnya, Diego Maradona.

Pada momen itu Napoli resmi merekrut bintang Real Madrid, Gonzalo Higuain, lewat banderol €40 juta. Nilai transfer paling tinggi sepanjang sejarah klub. Sungguh, sebuah geliat transfer yang sama sekali di luar dari kebiasaan mereka, apalagi setelah sempat bangkrut pada 2004.

Padahal kala itu Higuain yang berusia 25 tahun, sedang panas-panasnya secara performa. Dia juga mendapat tawaran serius dari Arsenal, yang dilihat dari sisi glamoritas lebih menjanjikan. Tapi Napoli yang akhirnya jadi pilihan.

Bukan hanya Higuain, Napoli juga memboyong deretan "pemeran pendukung" lainnya, seperti Pepe Reina, Raul Albiol, Jose Callejon, dan Dries Mertens. Tak heran bila kemudian semangat sepakbola masyarakat Italia selatan, khususnya Naples, semakin memuncak.

SIMAK JUGA: PREVIEW Napoli - Juventus

Tercatat 50 ribu tifosi Napoli memadati stadion kebanggaan klub, San Paolo, yang berkapasitas 10 ribu lebih banyak, tatkala Higuain dan kawan-kawan diperkenalkan. Tujuan utama mereka, tentu saja melihat seperti apa impresi pertama sang superstar.

Buat Higuain sendiri,  baru sekali ini dirinya mendapat sambutan semewah itu. Maklum ketika datang ke Madrid, dia hanya dikenal sebagai youngster berusia 19 tahun sehingga hanya diperkenalkan di hadapan media.

Melihat sambutan hangat nan antusias publik San Paolo, Higuain pun dibuat begitu terkesan dan berjanji akan memberikan yang terbaik. "Sambutan di San Paolo membuat saya merinding. Ini luar biasa, saya berterima kasih sepenuhnya untuk Neapolitan (sebutan penduduk asli Naples). Saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk mereka!" serunya, seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.

Sesaat kemudian Naples, khususnya stadion San Paolo, menjelma tak hanya jadi rumah kedua Higuain, tapi sebagai surga dunia. Gelontoran gol, tawa kebahagiaan, dan tangisan mewarnai kisah legendaris El Pipita selama tiga musim masa edarnya di stadion yang dibuka pada 1959 tersebut.

Raungan khas Higuain ketika merayakan gol, jadi momen paling dinanti publik San Paolo. Seruan nama "Higuain" usai mencetak gol, juga mendadak jadi kata ganti "gol" buat mereka. Atmosfer stadion lantas terasa sunyi ketika Higuain tak masuk dalam skuat, entah karena cedera atau skorsing.

SIMAK JUGA: Lawan Napoli, Higuain Dikawal Ketat

Siapa pun tentu paham, termasuk Higuain sendiri bahwa dirinya tak pernah dicintai seperti ini oleh suporter sebuah tim. Tidak di River Plate, tidak di Real Madrid, apalagi di Timnas Argentina yang justru lebih kerap mengecamnya.

Karenanya tak pernah ada yang menyangka jika di suatu hari nanti, kota Naples khususnya San Paolo bakal berubah jadi neraka dunia untuk Higuain. Lebih-lebih saat melihat cara idola kelahiran Prancis itu memainkan laga terakhirnya di San Paolo.

Kala itu di giornata pamungkas Serie A Italia musim 2015/16, secara fantastis Higuain melesatkan hat-trick dalam kemenangan 4-0 atas Frosinone. Gol pamungkasnya diciptakan lewat tendaangan salto spektakuler, yang membuat San Paolo meledak.

Gelontoran gol tersebut memastikan Higuain jadi capocannoniere Serie A, lewat koleksi 36 gol. Jumlah itu jadi yang terbanyak dalam semusim di Serie A, mengalahkan rekor 35 gol Gunnar Nordahl.

Bak seorang raja, usai laga Higuain diarak oleh timnya mengelilingi San Paolo, untuk merayakan keberhasilannya sekaligus kesuksesan Napoli kembali ke Liga Champions. Melihat pemandangan tersebut, sungguh sulit membayangkan bahwa itu menjadi laga pamungkas Higuain.

SIMAK JUGA: Jelang Pulang Ke Napoli, Higuain Tenang

Tak hanya jadi partai perpisahan, tapi beberapa bulan berselang Higuain menjelma sebagai musuh nomor satu Kota Naples. Keputusannya menerima pinangan rival utama klub, Juventus, di bursa musim panas lalu jadi penyebabnya.

Ketika kepergian Higuain resmi diumumkan, sontak Neapolitan dibuat murka. Mereka menyobek, membakar, hingga membuang jersey Higuain ke toilet. Segala banner dan spanduk bergambar Higuain dirusak. Sampai-sampai ada sebuah toko pizza yang akan menghargai produknya €1 jika Higuain cedera di Juve.

Walikota Naples, Luigi De Magistris, sampai-sampai memberi peringatan pada Higuain. "Saya pikir Higuain tidak bisa berjalan begitu saja melewati jalanan kota ini. Sebab saya yakin tidak akan ada sambutan hangat untuknya," ungkapnya, seperti dikutip Radio Kiss Kiss Napoli.

"Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi datang ke kota ini dengan kawalan 1000 orang dan dikelilingi detektor logam. Saya berpendapat Higuain harus melakukan cara yang sama," sarannya.

Dari titik itu, menjadi sesuatu yang sangat dipahami jika khalayak sepakbola amat menantikan kembalinya Higuain ke Naples, ke stadion San Paolo, dengan balutan jersey Juve. 

SIMAK JUGA: Crespo Ungkap Masalah Higuain Di Timnas

Momen itu akhirnya tiba akhir pekan ini, Minggu (2/4), dalam tajuk giornata 30 Serie A Italia. Seperti sudah diduga, aura panas sudah menyelimuti Neapolitan menyambut kepulangan Higuain. Melebihi intimidasi yang mereka lakukan pada Madrid bulan lalu.

Seperti dilansir Corrie dello Sport, beberapa toko di Naples mulai menjual tisu toilet dengan wajah Higuain. Mereka yang hadir di San Polo juga akan membentangkan spanduk raksasa, dengan karikatur pengkhianatan Higuain. Tak lupa siulan setiap kali "sang pengkhianat" memegang bola bakal dilakukan.

Mendengar atmosfer itu, pihak Juve bahkan merealisasikan saran dari Walikota Naples. Gazzetta melaporkan I Bianconeri mengundang pengawal tambahan khusus untuk Higuain. Setidaknya akan ada dua pengawal yang menjaga setiap lantai di hotel Corso Vittorio Emanuele, tempat mereka menginap.

Dari situ sudah tampak akan seperti apa "siksaan" San Paolo pada Higuain. Akan seperti apa tempat yang tadinya dirasa bagai surga, berubah seketika jadi neraka. Ya, entah seperti apa hasil yang didapat bersama Juve nanti, yang pasti San Paolo kini sudah menjelma jadi neraka dunia buat Higuain.

 

Tutup