Berita Live Scores
Indonesia

Rahmad Darmawan Nilai Tiga Pelatih Ini Layak Untuk Timnas Indonesia

13.46 WIB 05/12/19
Rahmad Darmawan - PS Tira-Persikabo
RD juga menuturkan pelatih dengan nama besar dan kualitas dunia lebih baik fokus untuk pembinaan usia muda.

Eks pelatih TIRA Persikabo, Rahmad Darmawan (RD), angkat bicara mengenai siapa saja pelatih yang dinilainya layak untuk melatih tim nasional (timnas) Indonesia. Seperti diketahui, beberapa pelatih kelas dunia saat ini menjadi kandidat dan sedang dijajaki PSSI.

Mulai dari Shin Tae-yong, Luis Milla, hingga Ruud Gullit. Shin dan Milla sudah memaparkan presentasenya kepada PSSI. Sedangkan Gullit belakangan dimunculkan namanya oleh ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan, sebagai kandidat baru.

RD berpendapat, pelatih dengan nama besar di atas seharusnya tidak dimanfaatkan untuk timnas senior. 

"Menurut saya, pelatih dengan nama besar dan kualitas fokus pada youth development (pengembangan usia muda) kita. Memberi fundamental teknik, taktik, mental pada anak-anak. Lalu federasi memfasilitasi dengan kompetisi berjenjang dan berkualitas. Itulah yang sebetulnya kita butuhkan," kata RD. 

Lantas, siapa saja yang menurut eks pelatih timnas Indonesia U-23 itu layak untuk melatih timnas senior saat ini? RD pun menyebut tiga nama.

"Soal pelatih timnas, cukup coach Teco (Stefano Cugurra, Bali United), coach Indra (Sjafri, timnas Indonesia U-22), coach Fakhri (Husaini) yang lebih paham dengan kualitas dan budaya sepakbola kita," jelasnya.

RD menilai, pelatih kelas dunia belum tentu bisa langsung mendongkrak prestasi skuad Garuda dalam waktu dekat. Menurutnya, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya.

Pertama, terkait dengan pemberian materi latihan kepada para pemain di timnas harus proporsional. Sehingga diharapkan para pemain bisa mendapatkan performa puncak bukan kelelahan fisik dalam sebuah pertandingan.

"Saya sering protes terhadap kebijakan pemanggilan pemain timnas dengan waktu lebih lama dari ketentuan FIFA match day. Karena saya khawatir pelatih akan melakukan improvisasi program yang saat pemain masuk TC beban kelelahannya berbeda, karena liga kita main dalam waktu yang tidak tetap (Sabtu - Minggu) seperti Liga Primer Inggris atau La Liga misalnya," ucapnya.

"Contoh, Persebaya main tanggal 1 Januari, TIRA Persikabo tanggal 2 Januari, Bali United tanggal 3 Januari, TC dimulai 4 Januari dan pertandingan 10 Januari. Sebetulnya ada waktu untuk memanage kondisi ini, tapi kalau program latihan tanggal 4 atau 5 Januari dibuat sama untuk semua pemain dari klub di atas tadi, maka dampaknya bisa berbeda. Yang main tanggal 1 tidak masalah buat intensitas tinggi, tapi yang tanggal 2 dan 3 ada tanding akan jadi masalah." 

"Karena itu lah kalau TC sesuai FIFA match day H-3 dan H+1 pemain masuk dan keluar, maka pelatih tentu hanya memberi porsi latihan taktik saja dan itu seharusnya buat kualitas pemain timnas di semua negara." jelas eks pelatih Persipura Jayapura itu.

Faktor kedua, masih menurut RD, jika pelatih sudah memberikan porsi latihan dengan benar dan memotivasi pemain tapi hasilnya tetap sama saja, berarti harus dilihat hal lain. Di antaranya kualitas kompetisi yang meliputi pemain lokal, asing, wasit, infrastruktur, jadwal, finansial, dan lain-lain.

"Kalau masalahnya ini, apakah kita masih perlu panggil pelatih-pelatih seperti tadi di atas (Shin Tae-yong, Luis Milla, Ruud Gullit)? Oke kita panggil (Jose) Mourinho, apa ada jaminan bawa level sepakbola kita setara Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dalam waktu 1 atau 2 tahun? Bisa menjamin kita jadi delapan besar Asia? Bahkan apa bisa jaminan juara AFF 2020? Lalu kalau jaminan itu tidak ada apa urgensinya kita ambil mereka?" tuturnya.