Profil Shola Shoretire: Wonderkid Manchester United Penerus Tongkat Estafet Marcus Rashford & Mason Greenwood

Shola Shoretire NXGN
Getty/Goal
Pemain 17 tahun ini baru saja melakoni debut senior untuk United, hanya beberapa hari setelah menyepakati kontrak profesionalnya.

Segalanya berjalan sesuai rencana buat Shola Shoretire. Setelah masuk dalam skuad Manchester United di Liga Europa kontra Real Sociedad pekan lalu, sang youngster akhirnya mencatatkan debut senior saat melawan Newcastle United, Senin (22/2) dini hari WIB.

Shoretire masuk di pengujung laga menggantikan Marcus Rashford seiring dengan kemenangan 3-1 yang dipetik Setan Merah. Di usia 17 tahun 19 hari, dia jadi pemain termuda kedua yang pernah memperkuat United di Liga Primer Inggris, hanya kalah dari Angel Gomes (16 tahun 263 hari).

Dengan debutnya itu, Shoretire menambah panjang daftar pemain United yang mampu melewati jembatan akademi klub dan tim utama. Beberapa pekan sebelum debutnya, penyerang bertalenta ini telah membuat momen penting dalam kariernya

Hanya berselang seminggu setelah merayakan ulang tahun ke-17 pada 2 Februari lalu, Shoretire resmi menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama United di tengah ketertarikan dari Barcelona, Paris Saint-Germain, Juventus, dan Bayern Munich.

Pemain timnas junior Inggris ini pun langsung dipromosikan ke tim utama dan diawasi langsung oleh Ole Gunnar Solskjaer. Debut melawan Newcastle juga terasa emosional buat Shoretire karena dia sempat berkarier bareng The Magpies.

Lahir di area North East di Inggris, Shoretire mengawali pendidikan formal sepakbola di usia enam tahun bersama Wallsend Boys Club, yang memiliki sejarah kaya karena berhasil melahirkan alumni top seperti dua legenda United, Michael Carrick dan Steve Bruce, dan tentu saja Alan Shearer.

Kini, Shoretire sah menjadi pemain Wallsend ke-83 yang mencatatkan debutnya di level top dan mengikuti jejak para legenda tersebut.

Shola Shoretire NXGN GFX

Ian Riley, yang melatih Shoretire di Wallsend U-8, menceritakan kepada Goal soal talenta besar sang pemain. "Ketika seseorang memiliki bakat top, Anda akan tahu sendiri. Sulit untuk menjelaskan, tapi bakat itu sudah ada dalam dirinya."

"Jika Anda memberinya bola, bakat itu langsung terlihat. Anda bisa mengajarkan cara mengontrol bola dan melakukan sentuhan, tapi beberapa orang memiliki kemampuan alami. Shola adalah salah satunya."

"Di mana pun Anda menempatkan dirinya, dia akan baik-baik saja karena dia memiliki determinasi dan selalu percaya diri. Shola paling sering dimainkan sebagai sayap kanan. Dia suka mendribel dan melewati lain, memberikan umpan silang, dan mencetak gol. Dia adalah paket komplet yang mungil."

Riley menambahkan, "Ada banyak pemain yang sangat bertalenta tapi pada akhirnya gagal bersaing karena tak memiliki daya juang. Shola memiliki hal tersebut sejak usia dini. Dia pendiam, mau mendengarkan, selalu ngotot dan ingin menang."

Shoretire cuma satu tahun bersama Wallsend dan mampu mempersembahkan satu gelar liga. Lalu, dia bergbaung dengan akademi Newcastle United dan dengan cepat mampu membuat terkesan pelatih junior The Magipes kala itu, David Ballantyne.

"Ketika dia datang, posturnya terlihat kecil tapi dia begitu kuat seperti kerbau, dan yang paling menonjol darinya adalah atletismenya," kata Ballantyne kepada Goal.

"Saya telah melatih ribuan anak selama bertahun-tahun, tapi yang punya potensi besar untuk mencapai level profesional hanya bisa dihitung dengan jari. Meski di usia semuda itu, ada sesuatu yang spesial tentang dirinya."

"Dia begitu cepat, seperti orang yang terlahir sebagai atlet. Sedikit orang yang bisa merebut bola dari dirinya karena kecepatan, skill, dan kekuatannya. Dia mengingatkan saya pada Micah Richards muda, yang begitu kuat, cepat, tapi juga punya teknik bagus.

"Sikapnya juga sangat bagus, dia nyaris seperti seorang perfeksionis. Dia sering frustrasi jika dia gagal melakukan sesuatu," imbuh Ballantyne yang memiliki perusahaan pelatihan sepakbola, Feet4Football.

2018_12_14_Shoretire

Saking bersemangatnya untuk menjadi yang terbaik, Shoretire bahkan mau dilatih privat oleh Ballantyne di sebuah taman lokal. Ballantyne bercerita, sesi latihan itu kerap berlangsung molor hingga malam hari.

Satu-satunya hal yang membuat Ballantyne frustrasi adalah ketidakmampuannya menahan kepergian Shoretire dari North West. Ballantyne meyakini, jika Shoretire tetap bertahan, dia seharusnya sudah bermain reguler untuk tim utama Newcastle.

Pada akhirnya, sang penyerang muda pergi ke Manchester setelah dua tahun bersama The Magpies. Awalnya, pemandu bakat Manchester City yang pertama kali meminatinya sebelum akhirnya memilih bergabung bersama Red Devils.

Sejak bersama United, dia selalu bermain di atas kelompok usianya. Pada 2018, dia jadi pemain termuda yang tampil di UEFA Youth League. Dalam kompetisi U-19 tersebut, dia mencatatkan debut di usia 14 tahun dan 315 hari!

Musim lalu, dia bersinar bersama United U-18, membawa mereka lolos ke semi-final FA Youth Cup. Salah satu performanya yang paling berkesan adalah saat dia mencetak gol di perempat-final melawan Wigan. Padahal, Shoretire bersekolah pada pagi hingga siang sebelum bertanding pada malam harinya.

Di musim ini, dia menjadi figur kunci United U-23 arahan Neil Wood, dengan sudah mencetak enam gol dan tiga assist dari 13 penampilan starternya, termasuk mencetak hat-trick dalam kemenangan 6-4 atas Blackburn Rovers. Shoretire menciptakan kombinasi maut di tim U-23 bersama Amad Diallo dan Hannibal Mejbri.

Di tengah perkembangan pesatnya, pertanyaan paling mendesak soal Shoretire adalah posisi utamanya. Pasalnya, dia telah bermain di kedua sayap, striker sentral, hingga  playmaker di sepanjang musim ini. Kemampuan serbabisa Shoretire membuatnya disandingkan dengan sensasi remaja United lainnya, Mason Greenwood.

Terlepas dari posisi apa yang akhirnya dia tempati kelak, Shoretire terlihat siap untuk meledak. "Seiring berjalannya musim, Anda bisa melihat sendiri bakatnya," kata Wood baru-baru ini.

"Etos kerjanya saat tanpa bola sangat bagus. Dalam beberapa menit, dia bisa terus-terusan mengejar lawan. Anda juga bisa melihat kualitas teknik dan sentuhannya. Dia nyaman bermain di ruang sempit, dan bisa berbelok begitu cepat."

Artikel dilanjutkan di bawah ini

"Dia sedang berjuang keras. Dia baru saja berusia 17 tahun, tapi sudah harus bermain melawan para pemain yang lebih tua. Jadi dia harus menemukan cara untuk mengatasinya dan dia melakukannya dengan sangat baik."

"Jika melihat dari debutnya hingga sekarang ini, dia telah menyelesaikan pekerjaannya dengan brilian. Dia adalah bakat besar dan Anda harus bersabar dengannya. Jangan berharap terlalu banyak dan terlalu cepat. Biarkan dia berkembang dan terus bekerja," imbuh WOod

Debut selama beberapa menit melawan Newcastle hanyalah sebuah salam perkenalan Shoretire kepada dunia. Dalam waktu dekat, talenta spesial ini siap menorehkan gebrakan lainnya untuk membuat semua fans United jatuh hati.

Tutup