Nasib Portugal Di Tangan Sang Insinyur

Komentar()
Getty Images
Fernando Santos me-Yunani-kan Portugal, tetapi berhasil membawa mereka di ambang sejarah baru.

Jika Portugal memenangi final dan menjuarai Euro 2016, rasanya seperti melihat hidangan Lebaran yang sudah kita siapkan semalam suntuk dilahap oleh tamu yang masuk lewat pintu belakang.

Fernando Santos menjadi pria yang paling bertanggung jawab atas penampilan nyaris tanpa inspirasi Portugal sepanjang turnamen ini. Sejak awal kedatangannya di timnas Portugal, September 2014 lalu, Santos tak ubahnya seperti petualang tua yang tak diperhitungkan. Padahal, pelatih 61 tahun itu mengantungi resume sebagai salah satu di antara sangat sedikit pelatih yang pernah menangani tiga besar Portugal -- FC Porto, Benfica, dan Sporting Lisbon. Pada musim debutnya di Porto, Santos memberikan gelar juara liga musim 1998/99 sekaligus melengkapi lima titel beruntun yang diraih dua pelatih sebelumnya, Bobby Robson dan Antonio Oliveira.

Di luar Portugal, Santos populer di kalangan publik sepakbola Yunani. Pengalaman panjang selama dasawarsa 2000-an melatih AEK Athena, Panathinaikos, dan PAOK Thessaloniki mengantarkannya pada tugas melatih timnas Yunani usai Piala Dunia 2010. Santos menggantikan Otto Rehhagel, yang pernah memberikan gelar juara Euro 2004 untuk Hellas. Prestasi Santos bersama Yunani termasuk positif. Yunani bermain lebih agresif dengan serangan balik yang tertata. Hasilnya, dengan status underdog, mereka berhasil lolos ke babak 16 besar Euro 2012 dan Piala Dunia 2014.

Penunjukan Fernando Santos disambut pesimisme.

Saat ditunjuk menggantikan Paulo Bento, yang dipecat menyusul kekalahan memalukan dari Albania di kualifikasi Euro, Santos tak disambut dengan suka cita karena dikenal gemar menerapkan gaya sepakbola hati-hati. Apalagi Santos baru saja dijatuhi sanksi delapan pertandingan dari FIFA karena dianggap menyerang wasit secara verbal di Piala Dunia. Sanksi itu akhirnya dikurangi menjadi hanya dua laga.

Kekhawatiran itu bukannya tidak berdasar. Santos dianggap "berhasil" me-Yunani-kan Portugal di Euro. Portugal tampil seperti anak itik buruk rupa (ugly duckling) yang tak diinginkan siapapun. Tiga pertandingan grup dilalui Portugal tanpa kemenangan. Ditahan Islandia 1-1, laga tanpa gol melawan Austria yang juga diwarnai kegagalan eksekusi penalti Cristiano Ronaldo, dan terakhir Portugal bermain 3-3 melawan Hongaria. 

Portugal pun harus puas berada di peringkat ketiga Grup F dan lolos menantang Kroasia di babak 16 besar. Jika Euro masih diikuti 16 tim, tentu penampilan defensif Portugal takkan membawa mereka lebih jauh dari fase grup. Mereka juga dinaungi kemujuran karena hasil pertandingan tim peringkat ketiga di grup lain tidak lebih baik.

"Keberhasilan" Santos lainnya, membelah masyarakat Portugal menjadi dua golongan: mereka yang mencerca penampilan membosankan Selecao dan mereka yang mendukung hasil akhir di atas segalanya tanpa mempedulikan estetika pencapaiannya.

Santos tidak peduli. "Akan senang kalau bisa bermain indah, tapi cara itu tidak selalu menjamin datangnya gelar juara," ujar pelatih 61 tahun itu. Baginya, sepakbola indah takkan memenangkan turnamen.

Nani tampil cemerlang sebagai pendamping Cristiano Ronaldo di lini depan.

Santos pantas percaya diri. Di bawah kepelatihan Santos, Portugal berhasil melalui 13 pertandingan kompetitif tanpa terkalahkan. Setelah kekalahan mengejutkan dari Albania, Portugal meraih tujuh kemenangan beruntun di babak kualifikasi. Semua kemenangan itu diraih dengan selisih satu gol, kecuali laga terakhir melawan Luksemburg yang berakhir 2-0.

Benar, Portugal tampil menjemukan. Tapi, ini tergantung perspektif. Di sisi lain, Portugal menyuguhkan penampilan fit bahkan sepanjang 120 menit pertandingan. Portugal juga mampu menunjukkan kegigihan yang tiada tara di turnamen ini.

Melawan Kroasia -- yang baru saja mengalahkan Spanyol -- di babak 16 besar, Santos menempuh langkah realistis. Apalagi masa istirahat Portugal lebih pendek. Mereka pun bermain bertahan, bertahan, dan lebih baik bertahan. Setelah 117 menit berlalu tanpa sekali pun melepaskan tembakan tepat sasaran, Portugal mendapatkan momentum serangan balik. Ricardo Quaresma menyarangkan gol untuk melangkah ke perempat-final.

Ricardo Quaresma saat menaklukkan keunggulan teknik Kroasia.

Usai mengakali kelebihan teknik Kroasia, Portugal menyingkirkan Polandia melalui adu penalti. Portugal tertinggal lebih dahulu setelah Robert Lewandowski mencetak gol cepat di awal pertandingan, tapi tendangan Renato Sanches yang berbelok menghantam Grzegorz Krychowiak berhasil menyamakan kedudukan. Skor sama kuat bertahan hingga kiper Rui Patricio berhasil menepis eksekusi penalti Jakub Blaszczykowski.

Kroasia dan Polandia pulang dengan rasa penasaran yang masih mengganjal hingga hari ini. Mereka tidak tampil buruk sepanjang turnamen, tetapi tetap saja tersingkir. Semua berkat Portugal dan kehati-hatian Santos.

Di semi-final, Portugal menghadapi Wales yang tampil pincang tanpa Aaron Ramsey akibat akumulasi kartu. Setelah babak pertama yang minim aksi, Cristiano Ronaldo mempersembahkan satu gol dan satu assist untuk membawa Portugal ke final. Untuk kali pertama di turnamen ini, Selecao mampu memetik kemenangan di waktu normal. Rekor minimalis itu sudah cukup untuk membawa si anak itik yang buruk rupa untuk menantang tuan rumah Prancis di final, Minggu (10/7) esok.

Portugal menyamai langkah Argentina dan Italia yang pernah melangkah ke final Piala Dunia 1990 dan 1994 meski mengakhiri fase grup di urutan ketiga.

Gol Cristiano Ronaldo mengantarkan Portugal ke babak puncak.

Dewi fortuna tampaknya menyayangi Portugal. Tapi, mengatakan laju mantap Portugal semata-mata hanya karena kemujuran adalah anggapan yang mendiskreditkan kerja keras Santos. Sang pelatih adalah juga seorang insinyur. Dia mempersepsi tim sepakbola selayaknya sebuah instrumen elektronik, yang membutuhkan sejumlah komponen penting agar dapat bekerja dengan baik.

Santos membangun kekuatan tim dari lini belakang. Dia juga tidak segan melakukan perubahan komponen jika dianggap perlu. Bek tengah Jose Fonte dimainkan sebagai pemain inti sejak fase gugur karena dinilai lebih cekatan daripada Ricardo Carvalho. Begitu juga dengan Cedric Soares yang menggantikan Vieirinha -- yang lebih bernaluri menyerang -- di posisi bek kanan.

Kekuatan Portugal sebenarnya terletak pada dua dinamo lini tengah mereka. Secara bergantian, posisi itu dirotasi kepada tak cuma satu dua pemain. William Carvalho, Andre Silva, Joao Moutinho, dan Danilo bergantian melapis lini pertahanan Portugal. Ketika Carvalho tak bisa dimainkan menghadapi Wales karena sanksi akumulasi kartu, misalnya, Danilo menggantikannya dan tampil impresif. Santos memiliki jaminan pilihan di sektor ini.

Portugal tak memiliki materi sekaya itu di lini depan. Tapi, sepanjang Cristiano Ronaldo tampil prima, itu tak masalah. Formasi Portugal dapat dibaca seperti ini: "4-2-Cristiano Ronaldo", tapi dalam beberapa kesempatan peran Nani tak boleh dikesampingkan. Catatan tambahan, Santos pun tak segan meminta Ronaldo agar bermain membantu pertahanan -- seperti yang dilakukan bintang Real Madrid itu pada laga melawan Kroasia.

Cristiano Ronaldo sekalipun diharuskan membantu pertahanan.

Kini, bersama sang insinyur yang pragmatis itu, Portugal menantang tuan rumah Prancis di laga pamungkas. Bagi Portugal, Prancis adalah sang hantu maut -- "basta negra". Mereka tak pernah mampu mengalahkan Prancis dalam tiga pertemuan di turnamen besar, yaitu di Euro 1984, Euro 2000, dan Piala Dunia 2006. Semua terjadi di babak semi-final. 

Pencapaian terbaik Portugal adalah menjadi finalis Euro saat menjadi tuan rumah. Santos berpeluang mengukir sejarah baru di Saint-Denis. Tantangan terakhirnya adalah menumpas sang basta negra. Membuat kecewa para pendukung tuan rumah seperti halnya saat Yunani merusak pesta yang sudah disiapkan Portugal, 12 tahun lalu.

"Sasaran saya adalah menjadi juara," ujar Santos dalam konferensi pers perkenalan dirinya sebagai pelatih baru timnas Portugal.

Ucapan penuh percaya diri waktu itu disambut sinis fans Portugal. Ketika sang insinyur terlihat mulai mampu membuktikan ucapannya, niscaya takkan lagi ada yang dapat meledek si anak itik buruk rupa. Lalu, apakah final akan berlangsung membosankan? Saat tim peringkat ketiga grup seperti Argentina dan Italia mencapai final Piala Dunia, pertandingan hanya menghasilkan satu gol -- itupun melalui titik putih. Jawabannya, kembali lagi, itu semua masalah perspektif. Dan, Santos takkan mempedulikan anggapan Anda tentang penampilan Portugal. 

 

Tutup