Berita Live Scores
Liga Champions

Membedah Kelemahan Juventus & Real Madrid

20.54 WIB 01/06/17
Cover Artikel UCL JUVMAD Allegri Zidane
Juve dan Madrid mentas di final Liga Champions karena miliki banyak keunggulan, tapi keduanya tentu masih punya kelemahan untuk dieksploitasi.

OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR  &  GUNAWAN WIDYANTARA

Juventus dan Real Madrid segera jalani bentrok akbar dalam final Liga Champions musim 2016/17, di Cardiff Stadium, Wales, pada Minggu (4/6) dini hari WIB.

Kedua tim sudah membuktikan diri bahwa merekalah yang pantas tampil di final ajang antarklub paling prestise Benua Biru tersebut. Juve menyingkirkan lawan-lawan hebat macam Sevilla, Barcelona, sampai AS Monaco. Sementara Madrid tak kuasa dibekap Borussia Dortmund, Bayern Munich, hingga Atletico Madrid.

Berdasar pejalanan yang sudah dilaluinya menuju final, adalah mutlak menyebut Juve dan Madrid memiliki banyak keunggulan dibanding kompetitornya musim ini. Namun tidak pula sekonyong-konyong menyebut mereka sebagai tim yang sempurna.

Baik dari sudut pandang teknis maupun non-teknis, Juve dan Madrid tentu masih memiliki kelemahan. Sesuatu yang nantinya bisa dieksploitasi lawan dan berpotensi lenyapkan kans juara mereka.

Secara mendetail Goal Indonesia lantas membedah apa saja kelemahan yang dimiliki Juve dan Madrid, yang bisa jadi alasan kekalahan mereka di final nanti.

SIMAK JUGA: Ketika Madrid Taklukkan Si Perkasa Juve


JUVENTUS


Sulit menemukan di mana kelemahan tim yang jarang kebobolan, layaknya Juve. Seperti pernah diungkap Sir Alex Ferguson bahwa tim yang menyerang akan memenangkan laga, tapi tim yang bertahan bakal jadi juaranya.

Faktanya musim ini Juve merupakan pemilik pertahanan terkukuh di Serie A juga Liga Champions. Jika diakumulasi untuk semua kompetisi, mereka sejauh ini baru kebobolan 38 gol dari 55 partai yang sudah dilakoni.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada satu titik lemah Juve yang menyebabkan mayoritas dari jumlah kebobolan itu terjadi. Kelemahan tersebut terletak di sisi kiri pertahanan, yang biasanya ditempati Alex Sandro dan Kwadwo Asamoah. Total 20 dari 38 gol yang bersarang ke gawang Juve terjadi akibat kelalaian di sektor tersebut.

Transisi yang kadang kurang sempurna dari Sandro atau Asamoah dalam bertahan dan menyerang jadi penyebab utama. Mereka jadi kerap terlambat turun, untuk mencegah lawan melakukan tusukan dari sisi tersebut. Pada momen itu, Giorgio Chiellini, kerap jadi korbannya karena miliki kekurangan dalam hal kecepatan.

Dengan daya serang terkuat Madrid terletak di sektor sayap melalui tusukan eksplosif Marcelo dan Dani Carvajal, ini jelas jadi kabar gembira buat Madrid. Belum lagi mobilitas super tinggi trio BBC (Bale, Benzema, Cristiano Ronaldo) di lini depan, yang sudah ceploskan 20 gol di Liga Champions musim ini.

Khusus di Liga Champions, Juve memang baru kebobolan tiga gol dalam perjalanan 12 partai menuju final. Namun patut diperhatikan bahwa keiga gol tersebut, kesemuanya terjadi akibat situasi bola mati. Satu lagi angin segar buat Madrid, yang sudah koleksi lima gol dari total 32 gol mereka di Liga Champions musim ini.

Satu faktor lain terletak di elemen non-teknis, yakni trauma Juve ketika tampil final Liga Champions. La Vecchia Signora tercatat sebagai tim yang paling sering kalah di final Liga Champions, sebanyak enam kali. Satu di antaranya pernah diderita dari Los Merengues, pada final musim 1997/98.

SIMAK JUGA: Enam Takhayul Yang Hantui Madrid Di Final UCL


REAL MADRID


Membicarakan kelemahan Real Madrid sebenarnya tidak terlalu sulit karena fans El Real sekalipun bakal melontarkan keluhan yang sama yaitu pertahanan.

Jika benteng pertahanan jadi modal kuat untuk meraih kesuksesan bagi Juventus, tidak demikian bagi Los Blancos. Kekuatan tim ibu kota Spanyol ini terletak pada lini serang, sementara pertahanan justru sebagai titik terlemah.

Gawang Madrid dibobol 41 kali di La Liga Spanyol dari 38 pertandingan, jumlah ini terbanyak di antara tiga besar klasemen akhir; Barcelona (37) dan Atletico Madrid (27). Sementara dalam perjalanan menuju final Liga Champions dari babak grup, Sergio Ramos cs juga harus harus kebobolan 17 kali dari 12 pertandingan.

Jika dilihat lebih ke dalam, benteng pertahanan Madrid sebenarnya dihuni oleh sederet pemain top seperti Sergio Ramos, Raphael Varane, Pepe, Danilo, Dani Carvajal hingga Marcelo, jika demikian mengapa gawang Madrid sering dibobol lawan?

Tentu saja ini tak lepas dari strategi menyerang frontal yang diusung pelatih Zinedine Zidane. Terbukti, tim ibu kota Spanyol ini punya kemampuan mencetak gol di atas rata-rata hingga mereka sanggup menggaransi gelar La Liga sekaligus melangkah ke final Liga Champions.

Tidak main-main, Madrid mengumpulkan total 106 gol di La Liga dan 32 gol di Liga Champions yang menjadi bukti betapa mengerikannya lini serang mereka. Celakanya, kelebihan mereka ini bisa jadi bumerang yang memperburuk kelemahan di sektor pertahanan. Apalagi kalau bukan serangan balik. 

Asyik menyerang mencari gol kemenangan bisa berbalik menyakitkan bagi Madrid jika mereka gagal mengonversikannya menjadi gol. Rasa frustrasi bakal melanda tim, konsentrasi buyar, skema permainan berantakan yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan oleh lawan untuk mengembangkan permainan dan balik menguasai lapangan, bahkan tidak jarang musuh bisa meraih kemenangan melalui sekali serangan balik mematikan.

Parahnya, tim yang akan dihadapi Madrid adalah Juve, sebuah tim yang dipandang banyak pihak punya kekuatan kelas dunia di segala lini. Melangkah ke Cardiff, Bianconeri mencatat sembilan clean sheet dengan jumlah kebobolan yang cuma tiga, sebagai bukti betapa kuatnya benteng pertahanan tim asal Turin ini. Sedangkan di sektor serangan mereka bisa mengumpulkan 21 gol dari 12 pertandingan. 

Sederet catatan di atas tentu saja bisa membuat loyalis Los Blancos cemas tetapi apakah harus sepenuhnya khawatir tim kesayangan bakal hancur lebur di Wales? Tunggu dulu...

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah tim untuk menapaki tangga juara. Jangan lupa, Madrid sudah berulangkali lulus ujian ketika harus berhadapan dengan tim yang menumpuk banyak pemain di sektor pertahanan, korban terakhir siapa lagi kalau Atletico Madrid -sebuah tim yang juga dikenal punya pertahanan kuat luar biasa- di semi-final Liga Champions.

Faktor mental juga akan sangat mempengaruhi. Membicarakan hal ini Madrid sudah sangat teruji punya mental juara di level Eropa. Dari 14 final yang pernah dilalui, 11 kali Los Galacticos menikmati indahnya juara berbanding dua milik Juve dari delapan final.