Berita Live Scores
Juventus

Maurizio Sarri Si 'Kambing Hitam': Mengapa Juventus Pecat Pelatihnya Itu Dua Pekan Setelah Juara Serie A?

20.25 WIB 11/08/20
Maurizio Sarri Andrea Agnelli Cristiano Ronald Juventus 2019-20
Bianconeri meraih Scudetto kesembilannya beruntun pada 26 Juli, namun Sarri telah lama kehilangan dukungan dari para pemain dan jajaran petinggi.

Pemecatan Maurizio Sarri pada akhir pekan kemarin tidak terlalu mengejutkan mengingat Juventus juga baru saja tereliminasi dari Liga Champions. Kedua hal itu bisa diprediksi, dan kekalahan kemarin membuat hal itu tidak terhindarkan.

Meski begitu, seseorang harus disalahkan atas ketersingkiran yang memalukan ini, terlebih melawan tim Lyon yang punya keterbatasan - dan sosok itu selalu pelatih.

Ini mungkin terdengar berlebihan untuk beberapa orang karena kurang dari dua pekan sebelumnya, Sarri merayakan gelar Scudetto pertamanya.

Akan tetapi, gelar Serie A rupanya tidak begitu dipandang di klub yang telah memenangkannya untuk kali sembilan beruntun. Sarri sendiri memang dihadirkan untuk menambah kesuksesan Juve.

Adapun juara, sepreti yang kita tahu, justru tidak terlalu dipandang di Turin; Bianconeri sekarang juga ingin timnya memainkan sepakbola indah dan sejatinya siap memberi waktu bagi Sarri untuk mewujudkannya.

Fabio Paratici menegaskan bulan lalu bahwa ia tidak punya keraguan bahwa Sarri akan tetap melatih Juve musim depan. Tapi tidak ada orang yang mempercayai ucapannya itu.

Masa depan Sarri selalu bergantung pada hasil dari kampanye klub di Liga Champions.

Seperti yang dikatakan presiden klub Andrea Agnelli, trofi Eropa "bukan lagi mimpi; itu adalah tujuan" dan salah satu yang tidak pernah terlihat bisa direalisasikan Juve musim ini.

Bianconeri boleh merasa tidak beruntung setelah gugur lewat aturan gol tandang, mengingat Lyon hanya berhasil melakukan satu tembakan tepat sasaran di leg kedua di Turin.

Namun, Juve kembali menampilkan performa yang sangat tidak meyakinkan, ketergantungan mereka pada Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala lagi-lagi tampak sangat jelas.

Ronaldo menyumbang kedua gol Juve, sementara Dybala yang jelas tidak fit terpaksa dimainkan pada pertengahan babak kedua dengan Si Nyonya Tua secara mengejutkan berjuang untuk menciptakan peluang tanpa pemain inovatif.

Sedih rasanya melihat pemain Argentina itu menangis ketika dia meninggalkan lapangan, dipaksa keluar beberapa menit setelah diturunkan karena cedera paha, yang menghambatnya untuk dimainkan sebagai starter.

Akan tetapi tidak akan ada air mata yang menetes untuk Sarri. Setidaknya tidak di Juve. Kedatangannya disambut dengan skeptis; sedangkan kepergiannya menghadirkan sukacita.

Pemain sayap Brasil Douglas Costa bahkan 'menyukai' postingan Juve yang mengonfirmasi pemecatan Sarri. Sementara itu, yang secara terbuka memberikan penghormatan kepada pelatih berusia 61 tahun itu adalah Leonardo Bonucci, Paulo Dybala dan Danilo.

Ini mungkin terlihat sepele, tetapi itu menunjukkan hubungan Sarri yang buruk dengan pasukannya. Alih-alih kian dekat seiring musim berjalan, pelatih dan para pemainnya itu justru semakin menjauh.

Dybala, yang dinobatkan sebagai MVP Serie A musim 2019/20, mungkin harus berterima kasih kepada Sarri karena telah menghidupkan kembali kariernya di Juventus, tetapi yang utama, kapten Giorgio Chiellini tidak pernah mreasa yakin pada mantan bos Napoli itu, sementara Cristiano Ronaldo sudah mati dalam melawan upaya untuk menempatkannya sebagai seorang penyerang tengah.

Bonucci pernah mengakui bahwa dia dan rekan satu timnya telah "berjuang keras untuk menafsirkan filosofi pelatih". Hasilnya adalah bahwa Juve menjadi, seperti yang dikatakan oleh Gazzetta dello Sport setelah kekalahan di final Coppa Italia dari Napoli, "karikatur menyedihkan Sarrismo”.

Miralem Pjanic termasuk di antara mereka yang paling antusias dengan penunjukan Sarri musim panas lalu, mengakui bahwa dia berharap mendapatkan "150 sentuhan dalam satu pertandingan". Tapi, yang jelas, pemain Bosnia itu menjadi simbol kesulitan Juve dengan taktik bos baru mereka.

Dia dimaksudkan untuk menjadi pusat dari rencana permainan Juve; tapi dia terpinggirkan pada akhir musim - dan benar-benar bingung mengapa para pemain Juve gagal memahami Sarrismo.

Mereka seharusnya memeragakan permainan passing yang pendek dan tajam; tapi sebaliknya mereka bisa diprediksi oleh lawan saat membangun serangan dan keropos dalam bertahan.

"Ini mengejutkan, mengingat cara pelatih bermain di Napoli, di mana semua orang terlibat dan berkomitmen penuh untuk proyek itu," kata Pjanic kepada Sky Sport Italia.

"Kami memainkan jenis sepakbola yang berbeda. Saya bukan satu-satunya yang mengatakan itu, itu jelas. Tapi butuh waktu untuk mengembangkan gaya permainan itu."

Itu poin yang sangat valid.

Agnelli dan Paratici menuntut Sarri untuk merevolusi gaya permainan Juve - namun mereka tidak mau bersabar maupun memberi para pemain yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ambisius itu.

Tim Napoli arahan Sarri yang fantastis didirikan di atas lini tengah yang seimbang. sempurna, yang berisi Marek Hamsik, Jorginho dan Allan; Juve memiliki Pjanic, Rodrigo Bentancur dan Blaise Matuidi.

Hasil bersihnya hampir sepenuhnya bergantung pada kecemerlangan individu dari pemain seperti Ronaldo dan Dybala, dengan lini tengah hampir tidak menambahkan apa pun baik dari perspektif defensif maupun ofensif.

Seperti yang dikatakan Claudio Marchisio kepada Gazzetta, "Lini tengah tidak berada pada level seperti ketika ada saya, [Andrea] Pirlo, Arturo Vidal dan Paul Pogba."

Memang, ini adalah tim Juve terlemah, secara gaya dan statistik, sejak 2011, ketika mereka finis di urutan ketujuh. Sialnya, mereka semakin jauh dari memenangkan gelar Liga Champions ketimbang sebelum Ronaldo tiba dua tahun lalu.

Karena itu, rumor yang mengemuka pada Sabtu bahwa Paratici juga akan dipecat terbilang masuk akal. Bagaimana pun, dialah yang mendorong penunjukan Sarri; dan dia yang mengumpulkan skuad tua yang tidak memiliki perlindungan di bek sektor sayap, lini tengah, dan penyerang tengah.

Namun, Paratici sekarang selamat sementara Sarri dikambinghitamkan.

Jadi, selagi sosok Tuscan itu sekarang dapat menyebut dirinya sebagai pemenang Scudetto, dia akan dimaafkan setelah bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang tepat untuk pindah ke Turin.

Keduanya jelas tidak pernah terlihat cocok dan sumber yang dekat dengan Sarri mengatakan kepada Gazzetta pada Minggu bahwa "dia tidak pernah benar-benar bahagia di Juve".

Juve, tentu saja, sudah move on, dengan menunjuk pelatih pemula Andrea Pirlo sebagai bos baru mereka, yang berarti masa depan Si Nyonya Tua sama tidak pastinya seperti Sarri.

Pada akhirnya, baik Bianconeri maupun Sarri tidak mendapatkan keuntungan dari kondisi ini.

"Agnelli mencoba mematahkan masa lalu dengan merekrut Sarri," tulis mantan pelatih AC Milan Arrigo Sacchi di Gazzetta, Minggu. "Dia mencoba untuk bergerak menuju masa depan tetapi sayangnya tidak memiliki kesabaran untuk melihatnya.

"Sarri telah menerima 'Misi: Tidak Mungkin' di Juventus. Dia membutuhkan kesabaran dan kolaborasi dari klub, tetapi direktur Juventus selalu percaya pada nilai-nilai yang berbeda. Moto ,erela adalah: menang adalah satu-satunya hal yang penting.

"Seperti ini, Anda mengabaikan faktor-faktor seperti prestasi, keindahan, emosi, hiburan, harmoni, budaya, dan evolusi."

Pada dasarnya, Juve ingin berubah. Tapi mereka terlalu kaku.