Berita Live Scores
Football's forgotten men

Roda Nasib Anderson: Dari 'Anak Emas' Ferguson Hingga Pensiun Dini

08.30 WIB 17/05/21
Anderson - Pemain Terlupakan
Anderson menyudahi kariernya di usia 31 setelah gagal memenuhi potensi penuhnya di sepakbola.

Pada November 2005, di suatu malam yang lembab di Recife, seorang remaja berusia 17 tahun bernama Anderson mengukir namanya dalam cerita rakyat Gremio dengan mencetak gol penentu di pertandingan melawan Nautico yang sekarang dikenal sebagai 'Batalha dos Aflitos' (‘Pertarungan Para Pesakitan').

Gremio sendiri terpaksa bermain dengan tujuh pemain dalam pertandingan play-off Serie B tersebut ketika mereka dihukum penalti menjelang injury time dengan skor masih sama kuat.

Tim Anderson sudah hampir menyerah tapi penalti Ademar berhasil diselamatkan oleh kiper dan bola serangan balik kemudian sampai ke kaki remaja berambut panjang Gremio itu, yang dengan cepat mengubah air mata menjadi kemenangan.

Setelah memulai serangan tak lama usai penalti, Anderson dilanggar di sayap kiri. Tendangan bebas berikutnya diambil dengan cepat, memungkinkan Anderson memotong bola di depan dua pemain bertahan dan menceploskan bola ke gawang pada menit ke-16 waktu tambahan.

Duel yang sudah kacau balau itu berubah menjadi kegilaan saat Gremio memastikan promosi ke Serie A dalam situasi yang paling luar biasa.

"Itu adalah pertandingan terbaik dalam hidup saya," kata Anderson kepada The Guardian pada 2008 silam. "Rekan setim saya benar-benar percaya pada saya dan mengatakan kepada saya bahwa saya akan mencetak gol yang akan membuat kami menang."

Itu adalah momen luar biasa bagi seorang pemain yang kariernya akan lepas landas tetapi tidak pernah mencapai potensi yang seharusnya.

Hanya beberapa bulan sebelum play-off promosi tersebut, Anderson telah memenangkan Bola Emas di Piala Dunia U-17 untuk Brasil, meski negaranya kalah di final dari Meksiko setelah pemain bintang mereka ditarik keluar di 15 menit pertama.

Setelah melupakan kesedihan itu dan menjadi pahlawan bagi Gremio, sang gelandang mengamankan kepindahan senilai €7 juta (£6,2 juta / $7,6 juta) ke Porto pada Januari 2006.

Pindah dari Amerika Selatan ke Eropa bukanlah transisi yang mudah, terlebih bagi pemain yang masih sangat muda, tetapi Anderson waktu itu sudah dianggap lebih dewasa ketimbang kebanyakan anak seusianya.

Dia kehilangan ayahnya pada 2001 dan telah melihat banyak teman lamanya menjadi korban penyalahgunaan narkoba. Dia sudah tahu betapa sulitnya hidup.

"Saya dulu adalah bocah yang sangat muda," jelasnya. "Ketika saya berusia 15 tahun, saya sudah berpikir seolah-olah saya berusia 22, 23 atau 24 dan membuat keputusan yang sangat sulit tentang masa depan saya.

"Saya harus membantu keluarga dan itu masih saya lakukan hari ini dan berharap dapat melakukannya sampai saya berusia 60 tahun.

"Sepakbola membantu saya dalam hidup saya. Saya dapat memberitahu kalian bahwa dari kelompok teman pertama saya, hanya dua atau tiga orang yang masih hidup.

"Yang lainnya meninggal, kebanyakan karena kecanduan narkoba atau terlibat dalam perdagangan narkoba. Saya mengambil jalan kebahagiaan."

Meski mengalami patah kaki selama waktunya bersama Porto, Anderson tampil luar biasa ketika fit sepenuhnya sehingga Manchester United membayar €30 juta (£26 juta / $32 juta) untuk jasanya pada Mei 2007.

Mendapat penilaian tinggi dari Sir Alex Ferguson, pemain Brasil itu dengan cepat meraih tempat di starting XI dan membawa timnya ke final Liga Champions 2008, bahkan menyepak penalti dalam kemenangan dramatis atas Chelsea di babak tos-tosan.

Pada akhir 2008, Anderson dianggap sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan di dunia sepakbola, dan itu digarisbawahi oleh kemenangannya dalam penghargaan Golden Boy, yang tiga tahun sebelumnya dimenangkan oleh Lionel Messi, Cesc Fabregas dan Sergio Aguero.

Hype di sekitar Anderson bahkan mencapai titik di mana seorang Ferguson, seorang pria yang tidak takut untuk meledakkan gelembung harapan, hampir tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

“Anderson benar-benar luar biasa. Bocah ini pasti memiliki sesuatu yang istimewa,” kata pria Skotlandia itu.

Namun, seiring berlalunya waktu, Anderson kesulitan untuk tetap konsisten.

Dari 105 penampilannya di Liga Primer, ia hanya mencetak lima gol dan menyumbang delapan assists - catatan yang buruk untuk pemain yang umumnya ditempatkan sebagai gelandang tengah.

Meski statistiknya dipertanyakan, Anderson tetap menjadi favorit Ferguson dan itu berlaku sama untuk si pemain.

"Dia adalah dewa sepakbola," kata Anderson tentang mantan bosnya itu dalam wawancara dengan ESPN pada 2018.

"Saya bermain dengan kondisi cedera untuknya, tetap berada di lapangan saat kaki saya terluka. Dia memperlakukan para pemain dengan sangat baik. Saya merasa dia peduli terhadap saya.

"Saya tidak bisa merasa cukup untuk berterima kasih kepadanya atas apa yang dia lakukan untuk saya. Dia mempercayai saya dalam pertandingan besar ketika saya berusia 18 tahun."

Kepergian Ferguson secara efektif mengakhiri karier Anderson di Old Trafford, dengan David Moyes meminjamkannya ke Fiorentina pada 2014 sebelum Louis van Gaal membiarkannya pergi ke Internacional secara gratis setahun kemudian.

Kembali ke Brasil hampir satu dekade setelah kepahlawanannya di Gremio, gelandang itu gagal memenuhi ekspektasi seperti sebelumnya sebagaimana ia membuat kesan pertama yang buruk pada penggemar barunya.

Setelah gagal mengeksekusi penalti saat debut, pertandingan keduanya hanya berlangsung 36 menit karena ia membutuhkan masker oksigen setelah merasa kesulitan untuk bermain di dataran tinggi Bolivia.

Segalanya tidak membaik untuknya ketika ia diusir dari lapangan dua kali berturut-turut sebelum digantikan pada babak pertama dalam kekalahan 5-0 dari mantan timnya, Gremio.

Sekalipun menemukan beberapa performa terbaik di tanah airnya, Anderson memilih untuk pindah ke klub divisi dua Turki Adana Demirspor pada 2018.

Namun, setelah hanya mengukir 14 penampilan di musim pertamanya, dia memutuskan untuk tidak bermain di musim berikutnya, dengan presiden klub Adana mengonfirmasi bahwa Anderson telah menukar peranya untuk bekerja di luar lapangan.

Setelah gantung sepatu pada usia 31 dan dengan sedikit keriuhan, karier yang dimulai dengan ledakan dahsyat kini berakhir sunyi.

Tetapi bagi penggemar Gremio, dia akan selalu dikenang sebagai pemain muda yang menghadirkan kemenangan paling manis.