Kristian Adelmund Blak-Blakan Tentang 'Borok' Sepakbola Indonesia

Komentar()
Goal / Abi Yazid
Adelmund sangat berharap bisa kembali berkarir di Indonesia dengan banyak episode positif dan negatifnya. Simak kisahnya di sini!

OLEH   TEGAR PARAMARTHA     Ikuti di twitter

Cerita sepakbola di Indonesia memang selalu menarik untuk dikupas, terutama dari sudut pandang pemain asing yang harus beradaptasi dengan 'budaya' lapangan hijau ala Nusantara. Dan salah satu kisahnya bisa kita dapat dari sosok Kristian Adelmund yang kini menetap di Belanda sebagai seorang pebisnis perabotan dan bermain di sepakbola amatir.

Adelmund merupakan mantan penggawa Persela Lamongan, Madura United, PSIM Jogja, dan juga PSS Sleman, di Negeri Kincir Angin tersebut ia menceritakan secara blak-blakan kepada Vice Sports apa yang ia lalui selama beberapa tahun di Indonesia.

Ia membagi pengalaman unik dan menggelitik ketika pertama kali membela klub Indonesia, yaitu PSIM Jogja. Ia mengaku tidak bisa merasa terbiasa dengan perjalanan jauh untuk laga tandang dan fasilitas latihan yang kurang memadai.

"Salah satu pertandingan pertama saya adalah permainan di Sumatera. Dua setengah jam pertama terbang dan kemudian dengan bus kecil selama sepuluh jam dalam gelap melalui pegunungan. Sopirnya benar-benar aneh. Dia mengemudikan mobil dengan kencang hingga mengancam nyawa. Sering terlihat tidak ada pagar pembatas,  sehingga jurang dalam berada di sebelah saya. Rekan-rekan setim tidur nyenyak, sementara saya melotot selama sepuluh jam.

"Kami kemudian harus berlatih di lapangan, di mana kami memainkan pertandingan. Tetapi serius, masih ada sapi yang merumput di sana."

Bagaimanapun juga, tidak semua kisah diwarnai kekonyolan, ia juga menjadi saksi bagaimana bobroknya sepakbola Indonesia, terutama terkait masalah uang dan juga netralitas wasit akibat tekanan dari klub.

"[Di Madura United] Semuanya berjalan baik dan para fans sangat menghargai saya. Namun tiba-tiba saya didepak tanpa belas kasihan. Dengan cara ini pelatih bisa mengambil pemain baru dan memasukkan sejumlah uang ke kantongnya sendiri," ungkapnya.

"Meski keadaan semakin membaik saat ini, korupsi tetap menjadi masalah utama sepakbola Indonesia. Sebagai contoh, saya pernah melihat bos lawan membawa pistol di ruang ganti wasit. Anda tidak perlu heran dengan hal itu di Indonesia."

Bagaimanapun juga, Adelmund mengaku masih belum bisa melupakan sepakbola Indonesia dan sangat ingin kembali berkarir di Tanah Air apabila situasi dan kondisi mendukung untuk hal tersebut.

"Hidup di Belanda sangat membosankan setelah semua yang saya alami di Indonesia," ujarnya. "Di Indonesia saya mendapat perlakukan yang layak dan hidup seperti dewa. Rasanya membuang-buang waktu menghabiskan hari-hari dengan bisnis. Saya sering berpikir, apa yang saya lakukan di sini?"

"Saya tidak sabar untuk kembali lagi. Mungkin saja saya akan pergi dalam waktu enam bulan. Tentu saja saya berharap kembali bermain sepakbola, sejumlah klub sudah menginformasikan. Jika tidak, saya juga berencana memasang saluran youtube. Saya bisa berbicara bahasa Indonesia dan benar-benar ingin membuat saluran tentang sepakbola dan perjalanan saya. Saya sudah memiliki 70.000 pengikut di Instagram, yang merupakan keuntungan besar.

"Saya telah memiliki motto hidup : 'Di manapun Anda berada di dunia ini, Anda bisa merasa berada di rumah di mana saja.' Begitulah rasanya bagi saya. Tidak harus di Belanda, bisa di Afrika, Amerika Selatan atau Indonesia. Saya merasa bahwa saya harus pergi ke sana lagi. Karena jika saya jujur, saya masih merindukan Indonesia setiap hari. "

Tutup