Berita Live Scores
J1 League

Konnichiwa, Osaka! - Mengejar Puncak Musim Gugur

19.55 WIB 30/11/17
Goal Indonesia Goes To Osaka - Autumn In Osaka
Penghujung November adalah momen terbaik untuk menikmati musim gugur di Osaka dan Goal Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan itu.

OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di Twitter

“Musim gugur adalah musim semi kedua ketika setiap lembar daun menjadi bunga.” Demikian filsuf-penulis Prancis Albert Camus menggambarkan keindahan musim gugur ketika pohon-pohon merontokkan daunnya untuk beradaptasi menghadapi minimnya cahaya matahari di musim dingin.

Sebagai negara beriklim subtropis, Jepang tentu saja memiliki musim gugur. Periode musim gugur di Jepang bervariasi, mulai dari akhir September hingga awal Desember. Di Osaka misalnya, musim gugur mencapai saat-saat terbaik untuk dinikmati pada pertengahan November hingga awal Desember.

Saat itulah Goal Indonesia, ditemani oleh Goal Thailand, berkesempatan menjajal momijigari atau berburu musim gugur. Ya, kami memang berada di Osaka pada akhir November ini untuk memenuhi undangan dari klub papan atas J1 League, Cerezo Osaka. Kami seperti berada di waktu dan tempat yang tepat untuk menikmati keindahan aki alias musim gugur di Jepang.

Sulit tidur dalam penerbangan dini hari selama enam jam tidak menghalangi niat kami untuk berkeliling di kota terbesar ketiga di Jepang itu. Tiba di Bandara Internasional Kansai, udara dingin langsung menyergap. Siang hari, suhu menunjukkan 11 derajat Celcius. Itu artinya jaket tebal, celana panjang, dan sepatu menjadi perlengkapan wajib. Tetap saja, tubuh yang terbiasa dengan udara tropis ini kerap menggigil kedinginan.

Ketika menuju tempat penginapan di area selatan pusat kota Osaka, nuansa musim gugur kurang terasa. Dari jendela kereta api, mayoritas pohon tidak menampakkan semburat merah-oranye-kuning khas musim gugur. Kami juga direpotkan dengan sulitnya membaca papan nama petunjuk yang hampir 90 persen hanya berupa tulisan kanji.

Ini diperparah dengan kealpaan kami membeli paket internet saat di bandara. Akibatnya, kami sempat salah berganti kereta hingga tersesat ke wilayah timur Osaka. Kemampuan berbahasa Inggris tidak banyak membantu. Bertanya kepada penduduk setempat sering dijawab tidak jelas dan tidak tuntas. Kami pun seperti bermain tebak-tebakan, berharap bisa segera mencapai tujuan pertama: Osaka Castle.

Penyelamat itu bernama GPS offline di ponsel, yang meski tidak bekerja maksimal karena tanpa jaringan internet, namun tetap memberikan garis besar ke mana kami harus melangkah. Sembari menyeruput teh susu hangat botolan yang dibeli dari vending machine, kami menikmati situasi tak tahu arah di negeri orang. Kota yang sangat bersih dan transportasi yang mudah dijangkau membuat kami tidak khawatir. Tersesat ternyata tidak pernah semenyenangkan ini.

Osaka Castle akhirnya bisa ditempuh selama dua setengah jam, molor jauh dari target awal yang seharusnya bisa dicapai selama 45 menit dari hotel. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan kami hanya punya waktu sekitar satu jam untuk berkeliling Osaka Castle. Pasalnya, di musim rontok seperti ini, matahari sudah enggan menampakkan sinarnya di atas pukul 16.30.

Musim gugur benar-benar terasa di Osaka Castle. Berbagai jenis pohon seperti sakura, palm, maple dan aprikot yang jumlahnya ratusan menyambut kami dengan daun-daun berwarna hangat. Keanggunan “bunga-bunga” di musim gugur, sebagaimana dikatakan Camus, memang benar adanya.

Awalnya, kami berencana ke Kuil Katsuoji dan Minoo Park di area utara Osaka untuk menyempurnakan pengalaman musim gugur kami. Namun mepetnya waktu membuat momijigari di Osaka Castle sepertinya sudah amat memuaskan. Keindahan musim gugur kami tutup dengan berjalan-jalan di seputaran Dotonbori, pusat hiburan, kuliner, dan surga belanja yang menjadi landmark Osaka.

Petang hari di Dotonbori bakal menghadirkan pengalaman terbaik, karena saat itulah lampu pertokoan dan LCD raksasa mulai menyala. Glico Man dan kawan-kawan siap memijarkan cahaya yang memesona lautan pejalan kaki di sekitarnya. Kapal wisata yang melintasi Sungai Dotonbori menambah syahdu malam dingin di pusat keramaian Osaka ini.

Rasa lapar datang, kami pun mampir di salah satu restoran yakiniku. Mencicipi takoyaki juga menjadi pengalaman tersendiri mengingat kudapan ini memang asli Osaka. Kami menjajal Takoyaki Wanaka untuk citra rasa otentik dari takoyaki. Mulut kami sempat terbakar karena langsung memakan panas-panas bulatan tepung berisi gurita ini. Namun, memang itulah cara yang tepat untuk menyantap takoyaki.

Saat memasukkan badan di balik selimut tebal di kamar hotel, kami pun merasa puas. Hari pertama terasa amat mengasyikkan meski dengan berbagai pengorbanan seperti tersesat, kedinginan, dan lidah terbakar. Tidak sabar untuk menyambut hari kedua, ketika kami menyambangi markas Cerezo Osaka dan menonton pertandingan melawan Vissel Kobe.