Kisah Tragis Agostino Di Bartolomei - Legenda AS Roma Yang Bunuh Diri Sedekade Usai Final Piala Champions

Komentar()
Getty Images
Semi-final Liga Champions antara Liverpool dan AS Roma, membawa kembali salah satu kisah paling sedih dalam sejarah sepakbola Italia.

OLEH     CARLO GARGANESE

Bentrok antara Liverpool dan AS Roma dipandang sebagai pertemuan spesial antara dua underdog turnamen, yang sama-sama memainkan sepakbola ofensif nan indah. Publik sepakbola dunia, tentu layak menantikan duel ini. Namun fakta lain memaparkan bahwa partai ini juga membawa kita kembali pada salah satu kisah tragis dalam sejarah sepakbola.

Terakhir kali Liverpool dan Roma bertemu di Liga/Piala Champions terjadi pada 1984. Ketika itu sang wakil Inggris secara dramatis sanggup mengalahkan sang wakil Italia lewat babak adu penalti, pada partai final, di Olimpico Roma.

Kapten Roma dalam laga itu merupakan salah satu legenda terbesar klub, Agostino Di Bartolomei – seorang gelandang kreatif brilian layaknya Andrea Pirlo. Tepat sedekade usai malam menyedihkan di tersebut, Di Bartolomei secara mengejutkan ditemukan bunuh diri.

Patut diketahui, sebelum Daniele De Rossi, Francesco Totti, dan Giuseppe Giannini, Di Bartolomei merupakan simbol, la bandiera, untuk Roma. Menghabiskan total 15 musim bersama La Magicca, dia mainkan 308 partai, dengan 148 di antaranya sebagai kapten, dan mengoleksi 67 gol.

Dahulu Di Bartolomei juga dikenal sebagai pemimpin geng gelandang paling ditakui di Eropa pada awal 1980-an, dengan Carlo Ancelotti, Bruno Conti, Toninho Cerezo, dan Paulo Roberto Falcao sebagai "tangan kanannya". Dia mengapteni Roma ketika meraih Scudetto bersejarah pada 1983, yang pertama dalam 40 tahun terakhir, dan yang kedua dalam sejarah klub. 

Agostini Di Bartolomei GFX ID

Di Bartolomei memiliki darah murni Romawi. Lahir dan besar di salah satu daerah paling miskin Kota Abadi, dia bergabung dengan Roma saat menginjak usia 14 tahun. Setelah memenangkan kejuaraan junior, dia menorehan debutnya untuk tim senior empat tahun berselang melawan Inter Milan yang dibela Giancinto Facchetti. Berpostur tinggi nan anggun dengan visi bermain yang fantastis, dia lantas jadi sosok yang tak tergantikan di Il Giallorossi.

Pemain berpostur 180 centimeter ini memiliki peran sebagai regista, sutradara lapangan tengah, posisi yang diperkenalkan oleh legenda Gianni Rivera. Liverpool yang menyoroti permainannya jelang final Piala Champions 1984, kemudian memberi deskripsi istimewa pada Di Bartolomei: "Mendikte permainan dari pusat lapangan, distributor bola yang sempurna, dengan tembakan jarak jauh luar biasa."

Kenyataannya, Di Bartolomei memang rutin melepaskan umpan 60 yard tepat ke kaki rekan setimnya. Namun layaknya Pirlo, sang Romawi jarang tampak lakukan sprint atau lepaskan tekel sehingga kerap dinilai sebagai sosok yang "pemalas" dan "lamban". Bagaimanapun, kebrilianannya tak perlu lagi dipertanyakan. Mantan pelatih Roma, Nils Liedholm, mengatakan "Di Bartolomei tidak pernah lakukan pergerakan tanpa punya alasan. Operannya panjang dan sempurna. Dia juga selalu berlari dengan elegan, dengan kepala tegak."

Pada 1980-an, peran regista bukanlah favorit. Pelatih timnas Italia ketika itu, Enzo Bearzot, lebih suka dengan gelandang energik macam Marco Tardelli atau Gabriele Oriali ketimbang berfantasi dengan Di Bartolomei. Secara mengejutkan, sang kapten Roma tak pernah sekalipun dipanggil Italia sepanjang kariernya! Fakta yang membuatnya jadi salah satu pemain terbaik Negeri Pizza yang tak pernah punya kans membela Gli Azzurri.

Memiliki tembakan jarak jauh mematikan, Di Bartolomei mengoleksi banyak gol lewat cara tersebut. Dia juga seorang algojo penalti yang eksepsional. Paling diingat adalah ketika dia melakukannya dalam semi-final kontroversial Piala Champions 1984, melawan Dundee United. Kalah 2-0 pada leg pertama di Skotlandia, penaltinya memastikan Roma lakukan comeback kontroversial dengan menang 3-0 dan lolos ke final (belakangan terungkap pemilik Roma ketika itu, Dino Viola, menyuap wasit sebelum laga meski akhirnya gagal).

Penaltinya juga tetap masuk dalam adu penalti di final, namun berujung kekalahan karena eksekusi dari Conti dan Francesco Graziani (sosok dalam gambar di bawah) gagal menaklukkan jurus "wobbly legs"  legendaris Bruce Grobbelaars.

Bruce Grobelaar 1984 Roma Liverpool

Di Bartolomei menggambarkan final tersebut sebagai "momen seumur hidup" dan sulit untuk tidak sepakat dengannya. Bermain di hadapan suporternya sendiri, menjadi man of the match, ketika rekan-rekannya membeku, Di Bartolomei tetap menujukkan kelasnya sepanjang laga. Dia adalah pusat dari setiap pergerakan Roma. Seperti pelatihnya, Liedholm, yang dikenal tak pernah luput satu operan pun selama periodenya di Milan, Di Bartolomei begitu dingin dan terkontrol. Dia tak pernah membuang bola dan selalu tampak berbahaya setiap kali menyentuh bola.

Setelah berakhir imbang 1-1 dalam babak perpanjangan waktu, hasil akhir pertandingan ini adalah kekalahan untuk Roma lewat babak adu penalti. Segalanya bisa berbeda dengan Di Bartolomei mempersembahkan "Si Kuping Lebar" untuk kota Roma andai wasit luput melihat pelanggaran keras kiper timnya, Franco Tancerdi, pada gol Phil Neal untuk Liverpool.

Lebih luar biasa karena partai itu juga jadi salah satu pementasan terakhir Di Bartolomei untuk Roma, setelah Sven Goran Eriksson tiba duduki kursi pelatih. Dia dibiarkan pergi dan bergabung ke AC Milan. Sebuah transfer yang tak pernah diinginkannya, karena dia selalu menegaskan kecintaannya pada Tim Serigala di banyak wawancara. Hanya sebulan setelah berkarier di Giuseppe Meazza, dia langsung mencetak gol kemenangan untuk Milan atas mantan klubnya.

Ketika Arrigo Sacchi datang pada 1987, Di Bartolomei kembali disingkirkan hingga akhirnya gantung sepatu pada 1990. Setelah pensiun, Roma tak pernah menawarkan pekerjaan apapun buat Di Bartolomei. Padahal dia sudah mengabdi selama 15 tahun lamanya dan jadi legenda klub. Roma tampaknya tak peduli lagi dengan salah satu pemain terbaiknya ini.

Liverpool Roma 1984

Di Bartolomei kemudian mulai alami depresi berat tatkala berusaha menyesuaikan diri jalani kehidupan di luar sepakbola. Dia lantas diterpa masalah finansial ketika beberapa rencana bisinisnya tidak akurat, termasuk upayanya membangun sekolah sepakbola. Pada 30 Mei 1994, Di Bartolomei berjalan ke balkon vilanya di San Marco di Castellabate dan menembak dirinya sendiri dengan pistol tepat ke arah jantung.

Tanggal bunuh diri Di Bartolomei juga sangat mengejutkan, karena tepat sedekade kekalahan Roma dari Liverpool di final Piala Champions. Waktu yang dipilihnya untuk lakukan bunuh diri bukanlah kebetulan, walaupun alasannya masih belum benar-benar jelas.

Catatan yang ditinggalkan Di Bartolomei sebelum bunuh diri sedikit mengungkap. Isinya bahwa dia mendapat masalah keuangan dengan beberapa pinjamannya alami penolakan. "Saya tak bisa melihat jalan keluar lagi," tulisnya. Banyak teman dan mantan rekan setimnya datang saat pemakaman, yang mayoritas merupakan pemain yang dikapteni Di Bartolomei di final Piala Champions 1984.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Bruno Conti sempat berkata bahwa usai kekalahan di final tersebut, Roma akan mendapat kesempatan lain membalaskan dendam pada Liverpool karena telah menggagalkan kemenangan bersejarah timnya di kota sendiri. Benar saja, 34 tahun berselang momen itu akhirnya tiba. Namun semua orang juga harus ingat bahwa tidak ada yang lebih merasa kehilangan setelah final tragis itu, selain Agostino Di Bartolomei.

 

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Mohamed Salah Samai Rekor Cristiano Ronaldo & Luis Suarez
2. Real Madrid Gigit Jari? Neymar Tak Punya Klausul Bebas Transfer
3. Daftar Skuat Korea Utara & Bahrain Untuk Anniversary Cup 2018
4. Momentum Final Napoli Wujudkan Scudetto
5. Maurizio Sarri Acungkan Jari Tengah Ke Fans Juventus

 

Artikel Selanjutnya:
Ole Gunnar Solskjaer: Alexis Sanchez Nantikan Hujatan Fans Arsenal
Artikel Selanjutnya:
Skuat Persib Bandung Sudah Paham Dengan Taktik Miljan Radovic
Artikel Selanjutnya:
RESMI: John Obi Mikel Gabung Middlesborugh
Artikel Selanjutnya:
Madura United Pesta Gol Di Uji Coba, Dejan Antonic Anggap Biasa
Artikel Selanjutnya:
Legenda Chelsea Ragukan Kondisi Fisik Gonzalo Higuain
Tutup