Berita Live Scores
Internazionale

Kisah Adriano 'The Emperor': Bintang Serie A Yang Tak Bisa 'Berdamai' Dengan Kematian Sang Ayah

15.29 WIB 20/09/20
Adriano Inter
Striker Brasil itu tampak ditakdirkan untuk bersinar dalam jangka panjang, tetapi kariernya menjadi hancur setelah tragedi keluarga.

Di awal milenium baru, Adriano tampaknya ditakdirkan untuk menjadi penerus Ronaldo di Brasil tetapi terlepas penampilan gemilangnya, kariernya yang menjanjikan terhenti secara signifikan setelah ada ‘kemunduran’ di luar lapangan.

Setelah hengkang dari Flamengo sebagai pemain muda pada 2001, striker potensial itu membuat gebrakan di Serie A saat ia menjadi bintang di Parma, Fiorentina dan akhirnya Inter Milan.

Adriano juga tidak butuh waktu lama untuk meninggalkan jejaknya di tim nasional Brasil saat ia melakukan debutnya pada usia 18, sebelum membentuk kuartet penyerang yang singkat bersama Ronaldo, Ronaldinho dan Kaka.

Di performa terbaiknya, sang penyerang muda adalah paket lengkap di depan gawang. Diberkati dengan kecepatan, kontrol bola yang luar biasa, dan penyelesaian yang kuat, Adriano tampaknya memiliki dunia di kakinya.

Tapi saat dia mendekati level bintang pada 2004, penyerang Brasil itu menerima panggilan telepon yang pada akhirnya akan melumpuhkan kariernya dan membuatnya berjuang sendirian melawan kecanduan alkohol yang parah.

"Adriano memiliki seorang ayah yang sangat menjaganya dan membuatnya tetap waras. Tetapi pada awal musim [2004-05], sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi. Dia mendapat telepon dari Brasil dan diberi tahu bahwa ayahnya telah meninggal," ungkap mantan rekan setimnya di Inter Javier Zanetti pada 2017.

"Saya melihatnya menangis. Dia membanting telepon itu ke bawah dan mulai berteriak bahwa itu tidak mungkin. Sejak hari itu, [Massimo] Moratti dan saya memutuskan untuk menganggapnya seperti saudara dan melindunginya.

“Dia terus bermain, mencetak gol dan mendedikasikan gol untuk ayahnya. Tapi, setelah telepon itu, dia tidak pernah sama lagi.

"Kami akan mengatakan kepadanya bahwa dia adalah perpaduan Ronaldo dan [Zlatan] Ibrahimovic dan bahwa dia bisa lebih baik dari keduanya. Tapi, terlepas dari segalanya, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami tidak menyembuhkan depresinya dan itu masih menghantui saya."

Seperti yang dicatat Zanetti, Adriano awalnya bertekad untuk membuat ayah tercintanya bangga dan memberikan penghormatan dengan dua musim yang luar biasa di depan gawang yang membuatnya mencetak 47 gol untuk Inter dan 19 gol untuk Brasil.

Gol-gol tersebut membantu Selecao mengklaim gelar Copa America pada 2004 dan Piala Konfederasi setahun kemudian, sementara di level klub ia membantu memantik dominasi Nerazurri selama empat musim di Serie A.

Meskipun Adriano tampaknya menjaga kewarasannya di lapangan, dia sejatinya hancur dari dalam.

"Hanya saya yang tahu betapa menderitanya saya. Kematian ayah saya meninggalkan lubang besar," aku Adriano pada 2018 kepada acara TV R7.

“Saya merasa sendirian dan saya mengisolasi diri saya sendiri ketika dia meninggal. Saya sedih dan tertekan di Italia, dan saat itulah saya mulai minum.

"Saya hanya merasa senang minum, saya meminum semua yang ada di depan saya: anggur, wiski, vodka, bir... Saya tidak tahu bagaimana menyembunyikannya. Saya biasa pergi ke tempat latihan dalam keadaan mabuk di pagi hari."

Pada musim 2006/07, karier Adriano mulai menurun secara tragis sebagai akibat dari godaan iblis di luar lapangan, dengan pemain Brasil itu tidak dipanggil ke tim nasional karena berperilaku buruk dan pelatih Inter Roberto Mancini dikabarkan mencadangkannya setelah berpesta berlebihan.

Karena ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga yang dia tinggalkan, Adriano diizinkan untuk kembali ke Brasil pada musim berikutnya dengan cuti yang tidak dibayar sebelum memastikan peminjaman ke Sao Paulo dan kemudian bergabung dengan klub masa kecilnya, Flamengo, pada musim berikutnya.

Kembali ke tanah airnya, Adriano menunjukkan dia masih bisa menembak di depan gawang, mencetak 51 gol dalam tiga tahun sebelum memastikan kembali ke Italia bersama AS Roma pada 2010.

Sayangnya, kepindahan itu terbukti menjadi kesalahan besar karena ia gagal memberikan gol dalam delapan penampilan sebelum kontraknya dihentikan hanya tujuh bulan setelah menandatanganinya.

Kembali ke Brasil bersama Corinthians pada 2011, Adriano kemudian mengalami robek tendon Achilles, yang membuatnya absen selama enam bulan dan semakin merusak harapannya untuk bangkit.

Periode singkat bersama Flamengo, Atletico Paranaense dan bahkan Miami United kemudian menyusul, tetapi menjadi jelas di masing-masing klub bahwa Adriano telah melewati masa terbaiknya dan tidak memiliki dorongan semangat untuk memanfaatkan keterampilannya yang tersisa.

Masih berusia 38 tahun, Adriano sudah tidak bermain secara profesional selama lebih dari empat tahun dan bahkan harus mengklarifikasi di media sosial pada awal tahun ini bahwa dia sebenarnya masih hidup setelah muncul laporan palsu tentang kematiannya.

Sementara Ibrahimovic, yang seumuran dengan Adriano dan masih mencetak gol untuk AC Milan, mengaku senang bermain bersama pemain Brasil itu di Inter dan yakin karier mantan rekannya itu harusnya bisa jauh lebih besar.

"Saya bermain dengan juara. Saya bermain dengan pemain yang waktu itu sudah... wow! Saya bermain dengan pemain yang saya lihat adalah bakat dan bisa menjadi.. wow! Tapi saya rasa dia bisa [bermain di atas] lebih lama, tapi dia tidak melakukannya, itu adalah Adriano ketika saya masih di Inter," kata Ibrahimovic kepada SPORTbible pada 2017.

"Ketika saya datang ke Inter, hal pertama yang saya katakan kepada presiden adalah 'Saya meminta [Adriano] untuk bertahan karena dia adalah pemain yang ingin saya ajak bermain' karena, dengan gaya bermainnya, dia adalah seekor binatang. Dia bisa menembak dari setiap sudut. Tidak ada yang bisa menekelnya, tidak ada yang bisa mengambil bola, dia murni binatang.

"50 persen dari semua yang Anda lakukan adalah soal mental. Jika Anda tidak memilikinya, itu sulit. Dalam kasusnya, saya senang untuk bermain dengannya, saya melihatnya, saya senang saya bermain dengannya dan melawan dia...

"Sayang sekali itu berlangsung sesingkat itu."