Kembali Ke AS Roma, Tantangan Besar Menanti Eusebio Di Francesco

Komentar()
Getty Images
Di Francesco sukses meraih Scudetto dan tampil dalam 129 laga untuk AS Roma sebagai pemain, kini ia kembali bertugas membawa klub berjaya.

OLEH DIMAS PANJI SETYADI     Ikuti di twitter

Pada Rabu (14/6), AS Roma telah resmi menunjuk pelatih baru . Mantan pemain mereka Eusebio Di Francesco akan menangani klub runner-up Serie A 2016/17 itu mulai musim depan.

Kedatangan pelatih baru semakin memperlihatkan keinginan Roma membangun era baru. Sebelumnya mereka juga telah menunjuk direktur olahraga baru. Monchi, yang sebelumnya sukses sebagai juru transfer di Sevilla telah mulai bekerja untuk Giallorossi sejak April lalu.

Di Francesco menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan Giallorossi. Pelatih berusia 47 tahun itu akan terikat dengan Roma hingga Juni 2019.

Monchi merupakan sosok yang merekomendasikan Di Francesco untuk menjadi pelatih baru kepada Presiden Roma. Sehingga diprediksi keduanya bisa bekerja sama dengan baik dalam merekrut  pemain untuk membangun tim yang kuat.

SIMAK JUGA - RESMI: Eusebio Di Francesco Besut AS Roma

Eusebio Di Francesco Roma

Presiden AS Roma Jim Pallotta berharap Di Francesco bisa membawa klub ibu kota Italia itu bangkit. Tidak hanya itu, sang pelatih baru juga diharapkan bisa turut membantu mengembangkan talenta muda dari akademi klub.

Gaya bermain ngotot dan atraktif yang Di Francesco terapkan di klub yang ia latih sebelumnya, Sassuolo, juga membuat Palotta percaya ia adalah pilihan tepat.

"Ketika kami berdiskusi tentang kandidat ideal untuk menjadi pelatih Roma, kami menginginkan seseorang yang bisa menampilkan yang terbaik dari para pemain di tim utama dan juga membantu talenta muda hebat dari akademi kami bersinar," ujar Pallotta kepada situs resmi Roma.

"Direktur olahraga kami yang baru Monchi, menunjuk Eusebio Di Francesco. Dengan gaya permainannya kami yakin dia cocok untuk Roma."

Setelah Luciano Spalletti memilih hengkang dan kini telah resmi menjadi pelatih Inter, Roma memang harus menunjuk pelatih baru, tapi pada akhirnya mereka memilih Di Francesco yang merupakan muka lama di klub tersebut.

Di Francesco kembali ke Roma setelah sebelumnya pernah membela klub tersebut saat masih berkarir sebagai pemain. Gelandang kelahiran Pescara itu bermain untuk Giallorossi selama empat musim. Pada 1997 ia bergabung dari Piacenza dan kemudian hengkang untuk kembali ke klub tersebut pada 2001. 

Eusebio Di Francesco former Roma player

Total Di Francesco mencatatkan 129 penampilan dan mencetak 16 gol untuk Roma. Ia juga menjadi bagian dari skuat Giallorossi yang sukses meraih gelar juara Serie A 2000/01.

Dalam karirnya sebagai pemain profesional ia juga pernah memperkuat timnas Italia sebanyak 12 kali. Setelah pensiun sebagai pemain pada 2005, ia kembali ke Roma untuk menjabat sebagai manajer operasional tim pada musim  2005/06.

Kini ia kembali ke Roma sebagai pelatih kepala. Tanggung jawab besar menantinya di klub yang telah tiga kali finis sebagai runner-up dalam empat musim terakhir di Serie A. Giallorossi kini tentu menargetkan gelar juara yang terakhir kali mampu mereka raih pada 2000/01 itu, kala Di Francesco masih menjadi pemain di sana.

Atau setidaknya meraih trofi juara lagi setelah terakhir kali sukses meraih gelar juara Coppa Italia pada 2007/08.

SIMAK JUGA: Gabung AS Roma, Hector Moreno Sudah Lama Jadi Incaran Monchi

Di Francesco merasa senang bisa kembali ke Roma dan siap memberikan segalanya demi kesuksesan klub yang sangat berarti baginya itu.

"Saya sangat senang bisa kembali ke Roma, untuk melatih klub yang selalu sangat berarti bagi saya. Saya berterima kasih kepada Presiden Palotta dan semua direktur untuk kesempatan ini," ujar Di Francesco.

"Saya akan memberikan segalanya yang saya punya untuk memastikan tim ini meraih hasil yang terbaik."

Sebagai pemain Di Francesco pernah merasakan kejayaan Roma. Kini ia diharapkan bisa kembali membawa klub tersebut berjaya. Akan tetapi jika melihat pengalamannya sebagai pelatih mungkin akan muncul keraguan.

Di Francesco mengawali karirnya sebagai pelatih saat mengangani klub kecil seperti Virtus Lanciano pada 2008, ia kemudian melatih Pescara dan Lecce.

Ia mulai mencuri perhatian sejak sukses menciptakan sejarah dengan membawa Sassuolo promosi setelah menjuarai Serie B pada 2013. Tidak hanya sekedar tampil di kompetisi teratas, I Neroverdi bahkan kemudian juga berhasil ia bawa lolos ke Liga Europa untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.

Perjuangan Di Francesco tidak terus berjalan mulus di Sassuolo. Ia sempat dipecat sebelum kembali lagi untuk membawa klub tersebut selamat dari jurang degradasi.

Sassuolo head coach Eusebio Di Francesco

Pada musim pertamanya di Serie A (2013/14), Di Francesco membawa Sassulo finis di peringkat 17, hanya unggul dua poin dari zona degradasi. Pada musim itu sang pelatih bahkan sempat dipecat pada Januari 2014 karena klub tersebut menderita enam kekalahan dalam tujuh laga di ajang liga.

Akan tetapi sekitar dua bulan kemudian, tepatnya pada 3 Maret 2014, Di Francesco kembali ditunjuk untuk menangani Sassuolo, setelah klub tersebut tidak juga sukses meraih hasil yang lebih baik.

Sejak saat itu Sassuolo memperlihatkan performa yang lebih baik. Mereka berhasil meraih 13 poin dalam tujuh laga terakhir di liga sehingga selamat dari degradasi.

Di musim selanjutnya Neroverdi mulai memperlihatkan kemajuan, mereka sukses finis di papan tengah, tepatnya di peringkat 12.

Musim yang luar biasa terjadi pada 2015/16. Pelatih yang selalu tampil modis dan berkacamata di pinggir lapangan itu berhasil membawa Sassuolo finis di peringkat keenam klasemen Serie A.

Posisi tersebut membuat mereka tampil di babak kualifikasi Liga Europa 2016/17. Sassuolo kemudian berhasil lolos ke babak play-off dan bahkan berhasil menembus fase grup. Tapi perjalanan mereka tidak panjang karena hanya mampu finis sebagai juru kunci Grup F.

Sassuolo celebrating Sassuolo Austria Vienna Europa League 3112016

Dengan skuat terbatas sulit untuk membagi fokus ke kompetisi Liga Europa, Sassuolo pun kembali finis di papan tengah Serie A, di posisi ke-12.

Di Francesco berhasil membuat beberapa pemain muda bersinar di Sassuolo. Para pemain asli Italia yang kerap dipandang sebelah mata juga mampu menjelma menjadi bintang baru dan bahkan menjadi langganan tim nasional.

Salah satu pemain Italia yang bersinar di Sassuolo adalah Simone Zaza yang kemudian memilih hengkang ke Juventus pada 2015. 

Karir Francesco Acerbi yang sempat terbenam di AC Milan juga kembali bersinar sejak bergabung dengan Sassuolo. Sang bek tengah itu juga sempat didiagnosa menderita kanker testis namun kini telah mampu pulih dan telah melakoni debut bersama timnas Italia pada 2014.

Ada pula pemain yang kini baru berusia 22 tahun tapi sudah tercatat sebagai top scorer sepanjang masa Sassuolo, Domenico Berardi. Selain menjadi salah satu pemain yang paling konsisten sekaligus bintang dan juga ikon klub, Berardi saat ini dianggap sebagai salah satu talenta muda terbaik Italia.

Domenico Berardi Sassuolo Serie A

Sejak menembus tim utama pada 2012, Berardi telah mencetak 59 gol dalam 159 penampilannya bersama Sassuolo. Ia menjadi pemain yang diprediksi akan Di Francesco bawa ke Roma musim depan.

Selain itu, pada musim 2016/17 ada gelandang muda jebolan akademi Roma yang berhasil bersinar di Sassuolo. Pemain tersebut adalah Lorenzo Pellegrini. Gelandang berusia 20 tahun itu hengkang dari tim junior Giallorossi pada 2015. Kini ia dikabarkan akan mengikuti jejak Di Francesco untuk kembali ke Roma.

Terkait gaya permainan, Di Francesco sangat mengandalkan formasi 4-3-3. Ia merupakan pelatih yang dikenal bisa membuat timnya tampil kompak dengan semangat juang tinggi. Ia kerap membuat timnya bermain disiplin dan efektif, namun tetap atraktif.

Beberapa pelatih berpengalaman memandang Di Francesco sebagai pelatih muda bertalenta.

SIMAK JUGA: Luciano Spalletti: Eusebio Di Francesco Pantas Latih AS Roma

"Di Francesco adalah salah satu pelatih yang membuat sepakbola Italia lebih atraktif lewat penampilan Sassuolo yang ia latih," kata Luciano Spalletti.

Sementara Arrigo Sacchi yang sukses membawa AC Milan berjaya mengatakan, "Di Francesco adalah pelatih muda dengaan ide-ide hebat."

Zdenek Zeman, yang pernah menjadi pelatih Di Francesco di Roma juga memuji kemampuan melatih mantan anak asuhnya itu.

"Dia adalah pelatih yang sangat bagus. Dia sangat mengenal Roma karena dia bermain bersama Giallorossi dalam beberapa tahun. Saya pikir dia bisa membantu tim untuk menjadi lebih baik lagi," ungkap pelati asal Republik Ceko yang kini telah berusia 70 tahun tersebut.

Komentar-komentar positif juga berdatangan dari rekan-rekan setim Di Francsesco saat masih bermain untuk Roma. Mereka optimistis sang pelatih baru Roma bisa sukses.

Damiano Tommasi yang merupakan rekan Di Francesco di lini tengah Roma pada 1997-2001 melihat sang pelatih baru Giallorossi itu sebagai pemain yang unik dan bisa tetap berkontribusi meski sedang tidak bermain.

Damiano Tommasi Roma

"Dia adalah pemain yang agak unik. Anda bisa tetap merasakan kehadirannya baik di saat ia menjadi starter ataupun tidak. Ketika kami meraih Scudetto di bawah arahan [Fabio] Capello pada musim 2000/01, Di Francesco tidak banyak bermain karena mengalami cedera tapi ia turut berkontribusi menjaga spirit tim kami. Dia selalu membantu meningkatkan standar di latihan dan juga di lapangan," ungkap Tommasi, yang kini merupakan presiden asosiasi pesepakbola profesional Italia.

"Roma merupakan ujian untuknya karena memiliki target yang lebih tinggi. Tapi, itu bagus untuk seorang pelatih yang sedang naik daun seperti dia. Ia harus menyesuaikan diri. Namun, saya pikir dia sudah bekerja keras untuk mencapai posisi ini dan ini adalah waktu yang tepat baginya untuk naik level," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Cafu.  Mantan bek Roma asal Brasil itu merasa tidak terkejut Di Francesco bisa menjadi pelatih hebat.

"Dia selalu tertarik kepada taktik dan punya kemampuan membaca pertandingan di saat tidak sedang bermain. Saya tidak terkejut dia bisa menjadi pelatih top,"

CAFU ROMA

"Tentu saja kondisi dan skuat Sassuolo sangat berbeda dengan Roma. Itu tidak akan mudah, tapi saya yakin dia akan bekerja dengan sangat baik di Roma dan bisa menerapkan ide-idenya," kata Cafu.

Jika melihat pencapaiannya dan pendapat-pendapat positif dari beberapa pelatih berpengalaman dan para rekan setimnya, Di Francesco tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ia memulai karir kepelatihannya dari bawah. Tapi secara bertahap levelnya terus meningkat. Musm depan akan menjadi tantangan terbesar dalam karir Di Francesco.

Menarik untuk melihat bagaimana Di Francesco, yang sudah menegaskan tidak akan mengubah gaya permainannya di Roma, meramu taktik dan menangani para pemain yang lebih berkualitas.

​SIMAK JUGA: Tangani AS Roma, Eusebio Di Francesco Tidak Akan Ubah Gaya Permainan

Berawal dari direktur olahraga ternama, pelatih yang sudah mengenal klub dan memiliki ide-ide hebat, ditambah rekrutan pemain yang berkualitas, kebangkitan Roma mungkin saja tinggal menunggu waktu.

Roma telah mengumumkan rekrutan pertamanya jelang musim 2017/18. Bek tengah berpengalaman asal Meksiko Hector Moreno telah resmi bergabung. Tidak menutup kemungkinan para pemain berkualitas lainnya akan segera bergabung demi membangun skuat sesuai gaya permainan Di Francesco.

"Saya telah berdiskusi tentang Hector Moreno dengan Monchi. Saya bekerja dengan pihak klub dan direktur olahraga kami demi meningkatkan kekuatan tim," ungkap Di Francesco.

"Saya dan pihak klub berada di kapal yang sama, kami tidak berada di jalur yang terpisah. Kami semua bekerja untuk kebaikan Roma dan akan berjuang membangun tim bersama-sama."

 

 

Tutup