GoalPedia Piala Dunia: Fasisme & Wacana Turnamen Tandingan

Komentar()
Propaganda fasisme yang dilakukan Italia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934 membuat negara-negara Britania Raya menolak berpartisipasi.

Kalau edisi debut Piala Dunia pada 1930 diwarnai kejadian unik berupa penggunaan dua bola dalam laga final, gelaran berikutnya empat tahun berselang kental dengan aroma politis.

Italia yang paling getol mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah akhirnya memperoleh hak untuk menggelar Piala Dunia kedua.

Kendati Perdana Menteri Italia Benito Mussolini diketahui hendak memanfaatkan turnamen untuk mempromosikan fasisme - paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter - FIFA pasrah menyerahkan status tuan rumah kepada Negeri Piza lantaran sebelumnya sudah menetapkan PD 1934 harus dihelat di Eropa setelah gelaran perdana menjadi milik Uruguay.

“Demi menyukseskan Piala Dunia 1934, pemerintah Italia mengucurkan dana 3,5 juta lira,” demikian ungkap David Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football.

Estampa Mundial 1934. (Mal cortada)

Mussolini bahkan turun tangan dalam komite persiapan turnamen. Figur yang menjuluki dirinya sendiri Il Duce (Sang Pemimpin) itu memilih langsung delapan lokasi penyelenggaraan, yaitu Bologna, Firenze, Genoa, Milan, Napoli, Trieste, Roma, dan Turin. Di kota yang disebut terakhir, bukan kebetulan kalau ada stadion yang menyandang nama sang diktator, yakni Stadio Benito Mussolini.

Rakyat kelas pekerja dimanjakan dengan disediakannya tiket kereta api gratis menuju stadion. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan ribuan tiket dengan harga murah meriah.

Menariknya, Uruguay sebagai juara bertahan menolak ambil bagian dalam kompetisi. Ini merupakan bentuk protes Los Charruas karena pada turnamen sebelumnya beberapa negara Eropa emoh melakukan perjalanan ke Amerika Selatan untuk berpartisipasi.

Absensi Uruguay sekaligus menjadikan Italia 1934 satu-satunya Piala Dunia yang tidak diikuti kampiun bertahan. Tapi, bukan Uruguay saja yang menolak berpartisipasi.

Negara-negara Home Nations alias Britania Raya juga enggan menyemarakkan perhelatan ini meski FIFA menawarkan kesempatan kepada Inggris dan Skotlandia untuk langsung lolos ke putaran final tanpa kualifikasi.

Pada periode ini, Home Nations tengah mengasingkan diri dari FIFA dan mengklaim tim sepakbola mereka superior. Charles Sutcliffe, anggota komite FA (federasi sepakbola Inggris), bahkan menyebut turnamen di italia "lelucon" dan menegaskan "asosiasi sepakbola Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia sudah cukup disibukkan dengan Kejuaraan Internasional mereka sendiri yang menurut saya jauh lebih baik dari Kejuaraan Dunia yang diadakan di Roma."

World Cup 1934

Kejuaraan Internasional yang dimaksudkan sebagai Piala Dunia tandingan tersebut tak lain adalah British Home Championship, turnamen sepakbola yang khusus melibatkan tim-tim Britania Raya.

Meski tercatat sebagai kompetisi internasional tertua di sepakbola, tentu saja pamor turnamen ini kalah jauh dari Piala Dunia, dan akhirnya dihapuskan pada 1984.

Fakta menarik lain dari PD 1934 adalah, terlepas dari status mereka sebagai tuan rumah, Italia harus melewati fase kualifikasi sebelum berlaga di panggung utama, dan dalam sejarah menjadi satu-satunya host yang tidak memperoleh privilese lolos otomatis.

Gli Azzurri pada akhirnya sanggup bertakhta sebagai jawara dunia berkat kemenangan 2-1 atas Cekoslowakia pada laga puncak di Roma. Tidak usah kaget kalau Mussolini punya andil menghadirkan gelar pertama Italia.

Selain campur tangan dalam seleksi tim dengan memanggil paksa para pemain oriundi (keturunan Italia) dari Argentina dan Brasil agar pelatih Victorio Pozzo dapat menampilkan komposisi terbaik, Il Duce dicurigai merekayasa kemenangan Italia dengan cara kotor. Sebelum final, Mussolini mengundang Ivan Eklind, tak lain wasit Swedia yang ditunjuk memimpin pertandingan, untuk makan malam.

“Eklind diduga sudah disuap dan kemudian memang terbukti bahwa dia dan Mussolini makan malam bersama di malam sebelum final untuk membicarakan taktik dalam tanda kutip,” tulis Kevin E. Simpson dalam Soccer Under Swastika.

Tak cuma itu, sang PM menyampaikan ultimatum maut guna melecut motivasi pemain Italia menjelang bentrokan kontra Cekoslowakia. Ditujukan kepada kapten tim Gianpiero Combi melalui faksimile, Mussolini menulis surat berisi kalimat pendek: “juara atau mati.”

 

GoalPedia Piala Dunia adalah artikel berseri dari Goal Indonesia tentang fakta-fakta menarik dalam sejarah Piala Dunia yang diterbitkan sejak H-30 sampai kick-off Piala Dunia 2018. Simak daftar lengkapnya di sini!

 

Artikel dilanjutkan di bawah ini
LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Persib Siap Jadi Tuan Rumah Lebih Dulu Lawan Persebaya
2. Thailand Pastikan Uji Coba Kontra Indonesia U-23
3. Neville Doakan Ronaldo Cetak Hat-Trick Kontra Liverpool
4. Klub Ezra Walian Selangkah Lagi Promosi
5. Deretan Klub Yang Tak Pernah Terdegradasi

 

 

Artikel Selanjutnya:
Alexis Sanchez Pertimbangkan Hengkang?
Artikel Selanjutnya:
Luke Shaw: Tahun Lalu, Kontrak Baru Ini Mustahil
Artikel Selanjutnya:
Daniel Sturridge Siap Perpanjang Kontrak
Artikel Selanjutnya:
Klub Brunei Darussalam Ingin Gabung, Ini Jawaban Liga Thailand
Artikel Selanjutnya:
Dua Gol Witan Sulaeman Untuk Masyarakat Palu
Tutup