Firza Andika, Sempat Ingin Masuk Tentara Hingga Menembus Eropa

Komentar()
Goal Indonesia/ Ahmad Reza Hikmatyar
Sunardi mengakui terharu Firza kini bisa dikontrak klub asal Belgia, AFC Tubize.


LIPUTAN    DONI AHMAD     DARI    MEDAN     

Perjuangan Firza Andika menembus sepakbola Eropa bukan hal instan. Pemuda 20 tahun ini sudah memupuk mimpi besarnya itu sejak kecil. Dari sebuah rumah sederhana di Jalan Murni gang Warga Mesjid no.14, Firza mulai merajutnya hingga saat ini bisa berkostum tim Belgia, AFC Tubize.

Sang Ayah, Sunardi, dari dulu memang ingin anaknya bisa menjadi pesepakbola. Mewarisi mimpinya yang dulu tak pernah kesampaian. "Memang dulu saya juga ingin jadi pesepakbola. Tapi tidak dikasih orang tua. Jadi saya ingin anak saya yang jadi. Abangnya sempat main bola, tapi sebentar saja. Melihat bakatnya sejak kecil, saya mewarisi impian saya itu ke dia. Saya ingin lihat dia main di PSMS, bisa lihat dia di televisi. Itu sudah cukup. Tapi yang terjadi sekarang melebihi itu," kata Sunardi, saat ditemui Goal Indonesia di kediamannya, Minggu (27/1).

Mata pria 58 tahun itu berkaca-kaca menahan tangis kebanggaan melihat Firza kini sudah menjejak Eropa. Dia turut menjadi saksi Firza menjalin kerja sama dengan klub yang dulu juga menempah bintang Chelsea, Eden Hazard itu. "Ini baru pulang mendampingi Firza teken kontrak. Bangga sekali saya. Mau nangis rasanya," bebernya.

Didit, sapaan akrabnya, mengisahkan kisah masa kecil Firza yang memang punya tekad kuat menjadi pesepakbola. "Dari kecil dia memang sudah bakat. Dia sering main dengan anak-anak yang lebih besar. Dari SSB Tasbi dan Asam Kumbang dia mulai berlatih," bebernya.

Didit sempat kesulitan membelikan Firza kecil sepatu bola. Bukan karena uang, namun ukuran kakinya yang sangat kecil. "Ya susah sekali cari ukuran kakinya. Jadi akhirnya dapat di monza (pedagang bekas) seharga Rp50 ribu. Sepatu itulah dipakainya," kenangnya. 

Keluarga Firza Andika

Sunardi menunjukkan sepatu sepakbola milik Firza.

Posisi Firza awalnya bukan bek, tapi gelandang. Bahkan dia pernah jadi kiper dadakan di sebuah turnamen saat SSB. "Jadi kiper pernah, karena enggak ada kiper. Badannya kecil begitu. Tapi hebatnya dalam tujuh laga tidak pernah kebobolan," bebernya.

Posisi full back kiri akhirnya menjadi posisi spesialisasi Firza setelah berdiskusi dengan pelatihnya, Bang Ucok di Panca Budi. "Saran dari pelatihnya, dulu kalau di gelandang akan sulit bersaing. Jadi bek kiri saja. Lagipula dia kidal," tambahnya.

Menjelang SMA, Didit mendapat informasi jika ada seleksi untuk masuk akademi Semen Padang. Firza lalu mencobanya dan akhirnya berhasil masuk hingga menamatkan sekolah di sana. 

"Lalu dia kembali dan tamat, dapat informasi ada seleksi timnas U-19 di Medan. Tapi minta izin dulu ke Semen Padang. Mereka bilang tidak usah, disuruh balik ke sana dulu," bebernya.

Ternyata dari Akademi Semen Padang beberapa bulan berselang, Firza bersama dua pemain lainnya direkomendasikan untuk ikut seleksi dari sana. Firza akhirnya menembus timnas U-19 besutan Indra Sjafri tahun 2016. 

Ada cerita menarik saat baru memperkuat timnas U-19, Firza ternyata masih kesulitan untuk membeli sepatu bola. "Ya namanya dulu baru tamat sekolah. Uang saku pun enggak seberapa. Jadi dia pakai sepatu yang itu-itu saja sampai jebol. Coach Indra Sjafri memberikan dia sepatu bola. Agak kebesaran sedikit. Pesan dia sepatu itu tidak boleh diberi ke siapapun. Sekarang masih tersimpan di lemari," ucapnya.

Usai memperkuat timnas U-19 di AFF Myanmar, tak lantas karier Firza mulus. Dia sempat kesulitan dapat klub. Dia pun rajin latihan di klub-klub lokal Medan memperkuat USU, Asam Kumbang, Gumarang dan lainnya. "Karena itu wajar banyak yang merasa Firza anak didiknya. Tidak apa-apa karena dia memang latihan di banyak klub. Tapi aslinya memang dari Tasbi, Asam Kumbang dan Akademi Semen Padang," ucapnya.

Firza menunggu panggilan dari Semen Padang, namun tak kunjung ada. "Ada turnamen Wali Kota Padang, teman seangkatannya dipanggil. Firzanya enggak. Dia bahkan sempat frustrasi mau masuk tentara saja. Saya bilang 'sabar, mungkin Tuhan punya jalan lain'," katanya.

Ternyata jalan Firza ke klub muncul dari ajakan Edy Syahputra yang kala itu masih menjadi asisten Djadjang Nurdjaman di PSMS yang berhasil promosi ke Liga 1. "Diajak bang Edy dia ke PSMS. Firzanya mau. Tapi coach Edy dua hari kemudian enggak dipakai lagi. Ternyata namanya sudah masuk di PSMS. Tapi malah Semen Padang telepon minta dia ke sana. Di situ sempat bingung karena sudah ke PSMS. Saya bilang ke Semen Padang, suatu hari nanti Firza pasti balik ke sana," tambahnya. 

Sejak awal memperkuat PSMS, Djadjang Nurdjaman berbicara ke Ayahnya agar Firza bersedia berada di bawah naungan North Cliff. "Dari awal memang coach Djadjang minta dia ke North Cliff karena mau dikirim ke Eropa nanti. Saya mau sekali, karena demi kemajuan anak. Sekarang ternyata sampai ke Eropa. Alhamdulillah," pungkasnya.(gk-71)

 

 

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Ini Hasil Undian Fase Grup Copa America 2019
2. Paul Pogba Akan Gabung Barcelona Atau Real Madrid
3. Laos Dipastikan Ikut Mundur Dari Piala AFF U-22 2019
4. Gabung Chelsea, Leonardo Sindir Gonzalo Higuain
5. Frenkie De Jong & 20 Pembelian Termahal Barcelona
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia

Footer - Liga 1

Tutup