Berita Live Scores
Transfer

Dijuluki ‘Messi Baru’ Hingga Kalah Saing Dengan Cristiano Ronaldo - Inilah Kisah Jatuhnya Paulo Dybala

08.25 WIB 13/08/19
Lionel Messi Paulo Dybala Cristiano Ronaldo
Dybala mengalami penurunan karier dalam setahun terakhir sebagaimana Juventus ingin menjual sang penyerang pada musim panas ini.

OLEH  MARK DOYLE   PENYUSUN  ADHE MAKAYASA

Tak lama setelah meninggalkan Palermo untuk merapat ke Juventus pada musim panas 2015, Paulo Dybala kembali ke Sisilia untuk bertemu rekan-rekannya. Selama kunjungannya ke pantai, sang penyerang pergi berenang dan saat itu terjadi sesuatu yang aneh. “Ketika saya hendak keluar dari air, saya melihat banyak orang menanti saya di pantai,” ungkap Dybala.

Dybala sempat takut bahwa warga lokal akan marah menyusul kepindahannya senilai 40 juta euro ke Juventus. Namun nyatanya, mereka justru ingin memberi selamat kepadanya. Itulah efek yang Dybala miliki di mata fans. Mereka tidak hanya mengapresiasi si pemain berkat skill olah bolanya, namun juga gairah yang ia tunjukkan ketika mengenakan jersey suatu klub.

Itulah mengapa suporter Juventus dibuat geleng-geleng dan kesal dengan keputusan klub memasukkan Dybala dalam daftar jual. Dan beberapa jam setelah itu, ia disebut telah mencapai kesepakatan dengan Manchester United dalam paket pertukaran Romelu Lukaku, hingga kicauan #Dybalanonsitocca (Jangan sentuh Dybala) menjadi trending Twitter di Italia.

Hal itu kiranya mengejutkan mengingat Dybala baru saja mengalami musim terburuknya dalam seragam Juventus, di mana ia hanya sanggup mengemas lima gol di Serie A. Akan tetapi, suporter Bianconeri tetap menganggap pemuda 25 tahun itu sebagai No.10 yang hebat.

Dua tahun lalu, Dybala berhasil mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 atas Barcelona di babak perempat-final Liga Champions. Malam itu di Turin, kerumunan penonton menunjukkan mosaik bertuliskan ‘Inilah saatnya!’ dan itu diresapi dengan sangat mendalam oleh sosok kelahiran Cordoba tersebut.

Pemain yang begitu lama dibandingkan dengan Lionel Messi itu lantas memanfaatkan kunjungan rekan senegaranya untuk mengumumkan dirinya sebagai bakat kelas dunia. Tidak ada yang mengklaim bahwa Dybala dapat mencapai level penyerang Barcelona tersebut, tapi segera setelah penampilannya yang dinamis pada malam itu, dia seolah-olah ditakdirkan menjadi hal hebat berikutnya. Juventus pun merasakannya.

Dua hari berselang, Si Nyonya Tua memberi kontrak baru untuk Dybala hingga Juni 2022, sekaligus untuk menjauhkan pemainnya itu dari kejaran Barcelona dan Real Madrid. Dan pada Agustus tahun tersebut, mereka memberinya nomor keramat 10, sebagaimana si pemain menjabarkannya sebagai “impian masa kecil”. Dia mengatakan itu setulus hati; bukan sekadar omong kosong.

Dybala kemudian bermain kesetanan di musim 2017/18, mencetak 26 gol di semua kompetisi yang menjadi musim terbaiknya. ‘La Joya’ lantas menjelma jadi pemain paling berharga Juve. Tapi itu berubah, tak lama setelah kedatangan Cristiano Ronaldo.

Dybala sendiri sempat merasa antusias dengan kedatangan megabintang Portugal itu, dan hal yang sama berlaku untuk fans. Mereka menganggap itu sebagai hal bagus dan, layaknya tandem baru, ada julukan yang disematkan hingga tercetus ‘Dybaldo’.

Itu sama sekali bukan ‘pernikahan’ yang setara. Dybala justru tidak diminta untuk bermain dengan Ronaldo; tapi dia diminta bermain untuk melayaninya. Akibatnya, produktivitasnya menurun. Pada 2017/18, Dybala terlibat dalam 32 gol Juventus di semua kompetisi, tapi angkanya turun jadi 14 saja musim lalu.

Itu juga menjadi ilustrasi sempurna tentang seberapa besar pengaruh Dybala memudar dalam skema penyerangan baru Juventus yang mengandalkan Ronaldo, yang mana tidak mengejutkan karena si pemain diminta untuk bermain lebih ke dalam, malah hampir terasa seperti penyerang tambahan.

Ronlado sendiri bukannya tak berterima kasih. Ia juga memberi tribut kepada kompatriotnya tersebut dengan menyematkan perayaan ‘topeng gladiator’ ke dalam selebrasi ‘Siu-nya’ yang terkenal saat jumpa Sassuolo pada Februari kemarin. “Di luar lapangan, tidak ada masalah dengan Ronaldo, masalahnya ada di sana; Anda tidak dapat melakukan apa pun dengannya di sana,” kata saudara sekaligus agen Dybala, Gustavo, pada Mei.

Dia juga tidak salah. Meski banyak upaya dari Massimiliano Allegri untuk memasukkan Dybala ke dalam skema penyerangan yang dipimpin Ronaldo, tapi solusi tidak pernah ditemukan. Pelatih baru Maurizio Sarri sempat meyakini pemain internasional Argentina itu bisa menjadi ‘false nine’ namun merasa bingung – setelah Dybala bermain selama 30 menit di peran tersebut sebagai pemain pengganti dalam kekalahan 2-1 kontra Atletico Madrid di International Champions Cup – bahwa “pendapat saya berharga nol”.

Memang, Dybala tidak jadi pindah ke United atau Tottenham Hotspur sebelum bursa transfer ditutup pada 8 Agustus kemarin, namun kiranya masa depan sang penyerang tinggal menghitung hari. Ketika laporan muncul kali pertama pada Februari kemarin terkait kemungkinan Juve menjual Dybala pada musim panas, direktur olahraga Fabio Paratici buru-buru mementahkannya. “Siapa yang lebih baik ketimbang Dybala”? tanyanya.

Sekarang itu tidak lagi penting, para petinggi di Juve menginginkan Dybala keluar, telepas pendapat Sarri. Harus dikatakan, bahwa sang pemain juga patut disalahkan atas penurunannya yang dramatis ini.

Di luar lapangan, pergantian manajemennya – dari Pier Paolo Triulzi ke saudaranya yang bernama Gustavo pada September 2017 – tidak cocok dengan Juve, selagi direktur Pavel Nedved juga mempertanyakan profesionalisme Dybala dan memintanya untuk membuat lebih banyak “pengorbanan dalam kehidupan pribadinya”.

Di atas lapangan, kekurangannya dalam beradaptasi dan fleksibiltas telah diekspos dengan keras selama 12 bulan terakhir. Bahkan ia menghubungkan ketidakmampuannya untuk mendapat tempat reguler di starting XI Argentina adalah karena bentrok posisi dengan Messi.

Dia tidak memiliki alasan seperti itu ketika gagal menemukan celah untuk dirinya sendiri dalam tim yang berisi Ronaldo. Ketidakmampuannya sekaligus menggarisbawahi bahwa ia hanya bisa berkembang sebagai striker pendukung dalam skema dua penyerang atau pemain No.10 dalam formasi 4-2-3-1.

Patut dicatat bahwa pada musim panas ini dia belum pernah didekati oleh klub elite Eropa – Madrid, Barcelona, Manchester City atau Liverpool – melainkan oleh tim lapis kedua seperti United, Tottenham Hotspur, dan sekarang Paris Saint-Germain.

Penampilannya yang luar biasa melawan Barcelona dua tahun lalu sejatinya bisa menjadi awal dari karier yang spesial, namun dia gagal mengulanginya lagi sejak itu. Sebagai gelandang ikonik dan mantan rekan satu tim dari Dybala, Andrea Pirlo pernah menatakan: “Di tim top mana lagi Dybala bisa bermain? Jika dia pergi, dia harus merasa pantas mendapatkan tempatnya. Saya sendiri ingin mempertahankan dia karena dia adalah pemain hebat. Ini bukan berarti dia berubah dari pemain hebat jadi pemain buruk dari satu musim ke berikutnya. Namun dia sekarang kesulitan karena pergantian formasi dan kedatangan Ronaldo.

“Secara mental dan fisik, dia harus memahami bahwa di Eropa ada ritme berbeda, itu bukan karena liga Italia-nya. Jika dia ingin mencapai level tertentu, dia harus terus meningkatkan segala aspek.”

Juve sepertinya tidak akan mengizinkannya melakukan itu di Turin, jadi mungkin Dybala, dan para penggemar Juve, harus bisa menerima bahwa ia perlu pindah ke tim lain untuk menghidupkan kembali kariernya.

Mungkin ini terdengar menyakitkan, tapi sekarang adalah ‘saatnya’ bagi semua pihak untuk move on.