Dejan Lovren: Liverpool Lebih Rindukan Saya, Bukan Saya Rindu Mereka!

Getty Images

Mantan bek Liverpool Dejan Lovren mengklaim Jurgen Klopp pernah menghubunginya untuk memberitahu bahwa tim yang ia latih merindukannya, sedangkan bek Kroasia itu tidak memiliki penyesalan meninggalkan Anfield.

Lovren hengkang dari Liverpool pada Agustus tahun kemarin setelah menghabiskan enam tahun di klub dan mengukir 185 penampilan di semua kompetisi, memenangkan satu trofi Liga Primer Inggris dan Liga Champions.

Runner-up Piala Dunia itu sekarang menjadi pemain kunci di jantung pertahanan Zenit musim ini, selagi Liverpool diterpa krisis cedera di lini belakang.

Virgil van Dijk masih berusaha memulihkan kondisi dari cedera ligamen yang ia alami pada Oktober, sementara Joe Gomez absen dengan masalah lutut serius.

Kurangnya opsi di lini belakang Liverpool memaksa Klopp untuk memainkan gelandang Fabinho dan Jordan Henderson di posisi bek sentral saat jumpa Manchester United.

Lovren menyebut klub Merseyside itu merindukannya, namun ia mengaku bahagia karena telah pindah ke Rusia.

“Tidak, saya tidak menyesalinya. Keputusan saya di musim panas sudah bulat - untuk meninggalkan Liverpool, dan saya tidak menengok ke belakang,” kata Lovren kepada Sport-Express.

“Saya menjadi kecewa musim lalu ketika saya tidak bermain, namun sekarang semuanya berbeda. Saya pikir Liverpool lebih merindukan saya ketimbang saya merindukan mereka. Jurgen Klopp tahu ini, karena kami masih berkomunikasi. Dia belum lama ini menuliskan pesan ke saya: ‘Kami merindukanmu’.”

Jurgen Klopp Dejan Lovren Liverpool

Lovren tak lupa menekankan bahwa ia belajar banyak dari etos kerja Klopp selama waktunya bersama dan ia berusaha untuk mendatangkan mentalitas itu ke Zenit.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Saya akan menyebut itu etos kerja. Klopp menantang pemainnya untuk bekerja keras,” lanjut Lovren. “Itulah yang ingin saya tunjukkan kepada semua orang: itu tidak penting apakah Anda melawan Arsenal Tula, Lazio atau Borussia Dortmund, mood-nya harus sama.

“Itulah yang saya pelajari di Liverpool. Itu tidak hanya melawan Chelsea dan Manchester United di mana Anda harus memberikan yang terbaik. Itu harus terus-menerus dan konsisten dalam mempertahankan sepakbola level tinggi.

“Jadi buat saya, itu tidak penting siapa yang ditemui Zenit - Spartak atau Ufa. Saya selalu mengerahkan seratus persen kemampuan. Saya ingin menyampaikan pendekatan ini kepada generasi yang lebih muda."