Daripada Jamie Vardy Dan Daniel Sturridge, Roy Hodgson Lebih Pantas Dipuji

Komentar()
Getty Images
Pelatih Inggris itu sudah membuat keputusan yang sangat tepat kala timnya menemui kebuntuan di laga melawan Wales.

Gareth Bale mencetak gol mengesankan, sementara Jamie Vardy menyamakan kedudukan sebelum kemudian Daniel Sturridge muncul sebagai pahlawan.

Ketiga pemain itu pun muncul sebagai pemain yang paling mencuri perhatian di laga Inggris kontra Wales di Lens, yang berkesudahan 2-1 untuk kemenangan The Three Lions.

Tak pelak, puja puji pun bermunculan untuk tiga pemain tersebut. Bale misalnya, yang sukses menjebol gawang Joe Hart dengan tendangan bebas dari jarak 32 meter. Pemain Real Madrid itu menyamai rekor Michel Platini dan Thomas Hassler sebagai pemain yang mencetak dua gol dari tendangan bebas langsung dalam satu turnamen Piala Eropa.

Sementara Vardy mendapat pujian karena torehan golnya bersama Inggris berjalan sangat cepat. Tercatat penyerang Leicester City tersebut sudah mencetak empat gol buat Inggris di lima pertandingan terakhir. Produktivitasnya itu membuat Vardy pantas mendapat pujian tersendiri.

Sedangkan Sturridge dipuji karena bisa mencuri kesempatan dan memecah kebuntuan untuk memberikan poin maksimal buat Inggris di Lens.

Tapi pada akhirnya, adalah Roy Hodgson yang seharusnya mendapat pujian paling tinggi. Pelatih Inggris itu sudah membuat keputusan yang tepat dengan melihat situasi yang terjadi di skuatnya.

Pada babak pertama, skuat Inggris bermain tanpa arah yang jelas. Wayne Rooney sebagai pengatur serangan dan pemimpin sektor tengah skuat Inggris tampak kesulitan mengembangkan permainan. Hal ini berimbas pada performa tim, dengan Harry Kane yang berada di depan dengan Adam Lallana dan Raheem Sterling membantunya dari lini kedua, juga tak banyak mengancam pertahanan Wales.

Secara statistik, di babak pertama Inggris hanya mendominasi penguasaan bola, sementara jumlah ancaman ke gawang Mark Hennessey bisa dikatakan nol. Kane, yang didaulat sebagai penyerang utama Inggris, juga tak menunjukkan kontribusi berarti, sementara Sterling sama sekali tak bisa menunjukkan potensi dan kecepatan yang dimilikinya.

Sadar ada kartu mati di skuatnya, Hodgson melakukan pergantian pemain di 45 menit kedua. Pemain dengan mobilitas yang lebih baik dan kreativitas yang mumpuni dimasukkan, dengan sedikit perubahan dilakukan di sektor tengah.

Vardy masuk menggantikan Kane, sementara Sturridge untuk Sterling. Formasi sedikit diubah dari 4-3-2-1 menjadi 4-4-2. Lallana diplot sebagai pemain sayap dengan Rooney tetap beroperasi di sektor tengah, dibantu Dele Alli dan Eric Dier sebagai penyeimbang bertahan dan menyerang.

Hasilnya, gol penyama kedudukan oleh Vardy. Bukan dari skema serangan yang baik memang, namun lebih pada tekanan ke jantung pertahanan Wales, Vardy bisa menjebol gawang Hennessey dengan tendangan jarak dekat, memaksimalkan kemelut di depan gawang.

Sementara gol penentu kemenangan dilesakkan oleh Sturridge. Hodgson tahu timnya membutuhkan pemain yang bisa memberikan kejutan, pergerakan yang dinamis dan kemampuan penetrasi yang baik. Sturridge menunjukkannya dan membawa Inggris meraih tiga angka.

Sturridge pun disebut pahlawan karena golnya itu, tapi Hodgson adalah aktor utama kesuksesan Inggris meraih tiga angka penuh di laga ini.

 

Tutup