Berita Live Scores
NxGn

Daniel Maldini - Menanti Kelanjutan Kisah Trah Paling Disegani Di AC Milan

17.13 WIB 23/08/19
Daniel Maldini NxGn
Remaja 17 tahun ini bersinar dalam pramusim bersama Rossoneri dan berpeluang mendapat kesempatan lebih banyak di musim 2019/20.

OLEH MARCO GARGHENTINO     PENYUSUN SANDY MARIATNA

Membela AC Milan dengan nama "Maldini" di belakang jersey tentu saja merupakan sebuah tekanan amat berat bagi seorang pemain yang masih berusia 17 tahun.

Namun bagi Daniel Maldini, putra dari legenda Rossoneri Paolo Maldini, hal semacam itu sudah dia persiapkan seumur hidupnya. Sejak awal, sang remaja berambisi untuk melanjutkan nama besar keluarganya.

Dengan sang ayah (Paolo, salah satu bek terhebat dalam sejarah sepakbola Italia) dan sang kakek (Cesare, legenda Milan pada masanya) sama-sama sukses mengemban jersey Maldini di San Siro, Daniel tidak bisa meminta lebih untuk memiliki panutan sesempurna ini.

Sepanjang pramusim ini, nama Daniel Maldini selalu menarik perhatian media sejak kemunculannya dalam starting XI Milan di International Champions Cup melawan Bayern Munich pada 24 Juli lalu.

Pelatih anyar Milan Marco Giampaolo punya tugas berat untuk membangunkan sang raksasa tidur. Dan, dengan mengangkat talenta-talenta lokal, terutama Daniel, Giampaolo mungkin telah menemukan cara untuk menjaga suporter tetap berada di sisinya.

Hal pertama yang harus diketahui tentang Daniel Maldini adalah, dia ternyata gagal meneruskan tradisi kunci trah Maldini selama 65 tahun terakhir! Itu karena dia bukan seorang bek. Baik Cesare maupun Paolo merupakan pemain bertahan. Bahkan kakak Daniel, Christian, bermain sebagai bek sentral.

Alih-alih menjadi bek, Daniel berposisi sebagai penyerang serbabisa. Dia bisa bermain di area mana pun di lini depan, termasuk di belakang striker sebagai trequartista.

"Dia adalah seorang playmaker, pencetak gol, dan No.10," kata Paolo kepada DAZN. "Dalam keluarga kami, dimulai dari ayah saya hingga anak-anak saya, dia satu-staunya yang punya hal seperti itu. Dia seperti seorang pujangga sepakbola."

"Dia sangat pandai seperti saya. Dalam dirinya, saya seperti melihat diri saya secara fisik. Ini seperti saat orang-orang merasa melihat ayah saya dalam diri saya. Oleh karena itu, saya percaya semua ini adalah genetik."

Daniel mengaku setuju dengan deskripsi ayahnya. "Saya lebih nyaman menyerang ketimbang bertahan. Saya adalah seorang gelandang serang atau striker. Pikiran saya selalu tentang gol. Kekuatan saya adalah bermain dengan sedikit sentuhan, mengandalkan visi, dan bola mati," kata Daniel saat dipanggil masuk timnas Italia U-18, Maret lalu.

Semua itu jauh dari kesan Maldini seperti yang dikenal selama ini. Namun, Daniel telah memberikan jawaban kepada mereka yang meragukan kemampuannya. Bersama Milan U-17 dua musim lalu, dia sukses mencetak 13 gol dalam 28 penampilan. Lantas di musim lalu, dia megemas 10 gol dari 26 laga bersama Milan Primavera. Statistik itu membuat Giampaolo kepincut untuk mengikutsertakannya dalam pramusim di Amerika Serikat.

Saat pramusim, Maldini lebih banyak dimainkan sebagai No.10, dan dalam beberapa kesempatan dia mampu menggeser Suso, yang merupakan salah satu pemain kunci Milan dalam tiga musim terakhir.

Harus diakui, nasib Milan di musim ini akan banyak bergantung dari kuantitas dan kualitas peluang yang disodorkan kepada Krzysztof Piatek dan Samu Castillejo di lini depan. Dan Maldini dipandang punya kemampuan untuk menyediakan servis itu, meski di usia yang masih sangat muda.

Laga ICC melawan Manchester United yang berakhir 2-2 barangkali mengilustrasikan betapa pentingnya Maldini bagi tim. Giampaolo memilihnya sebagai penendang adu penalti kelima di laga itu. Sayang, tembakan penaltinya ditepis David de Gea sehingga Red Devils bisa menyegel kemenangan via Daniel James.

Sebuah akhir yang pahit bagi Maldini setelah pramusim yang menjanjikan. Namun, Giampaolo tetap menaruh harapan tinggi pada perkembangannya. "Saya tidak menyesal menunjuknya mengambil penalti terakhir. Ini akan menjadi pelajaran untuknya. Pemain muda sepertinya butuh banyak bermain untuk terus berkembang," katanya.

Jika kepercayaan tersebut berlanjut di Serie A musim ini, maka bersiaplah untuk melihat lebih banyak aksi Maldini di masa mendatang. Maldini generasi ketiga ini bisa jadi harapan Milan untuk berjaya seperti di era Maldini generasi pertama dan kedua.

Timnas Italia juga membutuhkan penyerang bertalenta seperti Maldini. Dia sudah berikrar untuk membela negara kelahirannya kendati sebetulnya masih berpeluang memperkuat Venezuela, yang merupakan negara asal ibunya, Adriana Fossa.

Pelatih Azzurri Roberto Mancini sejauh ini konsisten memberikan kesempatan pada talenta muda. Jika Maldini diberi menit bermain yang cukup di Serie A, maka pemanggilannya ke timnas senior akan membuat satu lagi tradisi di keluarga besarnya terus berlanjut.

Sekalipun nanti Maldini sukses mengikuti jejak ayah dan kakeknya, dia harus berusaha mencari jalannya sendiri,  Satu hal yang pasti, kisah keluarga Maldini dalam sepakbola Milan masih terus berlanjut.