Chelsea Kehilangan Daya Magis Antonio Conte, Namun Tak Ada Jalan Pintas

Terakhir diperbarui
Getty Images


OPINI   NIZAAR KINSELLA     PENYUSUN   ADHE MAKAYASA    

Inilah saatnya untuk menyalahkan. Chelsea bakal absen dari ajang Liga Champions musim depan setelah kalah 3-1 di kandang sendiri dari Tottenham Hotspur, yang sebelum ini tidak pernah mengamankan kemenangan di Stamford Bridge sejak Februari 1990 silam.

Tertinggal delapan poin dari Spurs dengan tujuh laga tersisa, prospek The Blues untuk meramaikan persaingan di kompetisi terakbar Eropa musim depan terbilang sangat tipis.

Masa depan Antonio Conte pun sudah diragukan jauh sebelum kick-off. Dan tak heran, kemudian, dia memasuki ruang media dengan tampang seram ketika meladeni sesi konferensi pers hanya untuk ditanya soal kecerdasan Dele Alli.

Manajer Chelsea itu sejatinya adalah pahlawan mereka musim lalu setelah membawa klub tersebut meraih gelar liga. Namun, rasa frustrasi di bursa transfer musim panas kemarin terbukti membuat upayanya dalam mempertahankan gelar menjadi sulit.

Conte mungkin bukanlah orang yang mengambil keputusan menyoal transfer, namun petinggi klub tidak lantas senang dengan strategi pria Italia tersebut untuk menyalahkan yang lain.

Setelah pertandingan Minggu kemarin, mantan bos Juventus itu menekankan bahwa dirinya sudah mengeluarkan kemampuan terbaik dari pemainnya, selagi menyebut bahwa pihaknya tidak lagi mampu bertarung dengan Spurs untuk mengejar posisi empat besar.

“Saya yakin dengan ini karena saya pikir… kita sudah bekerja,” kata Conte. “Kita bekerja dengan sangat baik, sangat keras dan komitmen para pemain sungguh bagus. Terlepas itu, kami tetap tertahan di posisi [lima] ini. Kami harus sedikit khawatir soal ini.”

Sementara itu, Gianluca Vialli yang merupakan teman dekat Conte menyebut pelatih The Blues tersebut “tidak sabar untuk hengkang”.

Juara Piala FA di gelaran kali ini juga tidak akan mampu menyelamatkan musim Chelsea yang terlihat berantakan. Selagi Manchester City dan United bersikap berbeda di bursa transfer ketimbang Chelsea, di tempat lain Liverpool dan Tottenham kini menikmati keuntungan dari stabilitas jangka panjang yang mereka investasikan.

Conte sendiri meneken kontrak baru pada musim panas lalu, dengan ia menerima kenaikan gaji tanpa memperlama masa tinggalnya yang berakhir pada 2019. Sebaliknya, manajer Spurs Mauricio Pochettino dan Jurgen Klopp yang melatih Liverpool tidak memiliki kendala dalam mengakses sistem di klub, namun Conte ini justru punya hubungan yang intens di klub yang sudah kaos.

Ketegangan antara pria berusia 48 tahun itu dan petinggi Chelsea dimulai setelah ia mengirimi Diego Costa pesan singkat untuk memberitahu bahwa yang bersangkutan tidak lagi dibutuhkan. Costa sudah tahu dia akan segera angkat kaki, setelah di dua bursa transfer sebelumnya juga mengupayakan hal serupa, namun dia merasa geram dapat perlakuan seperti itu saat bertugas membela Spanyol.

Mauricio Pochettino Tottenham Antonio Conte Chelsea 01042018

Lebih dari itu, sang pelatih merasa frustrasi dengan keengganan pihak klub untuk mendatangkan pemain yang lebih tua sebagaimana mereka lebih mementingkan ‘value’ bursa transfer dengan merekrut pemain muda. Ketika The Blues menargetkan pemain incaran manajer – bek Juventus Alex Sandro, bek Napoli Kalidou Koulibaly dan gelandang AS Roma Radja Nainggolan – mereka justru menemui kegagalan.

Dari delapan pemain yang mereka rekrut, hanya Antonio Rudiger yang tampil dengan standar seperti diharapkan. Sementara lima lainnya merapat ke klub dengan kondisi cedera atau baru saja sembuh dari masalah kebugaran.

Chelsea ini sudah menghabiskan banyak uang, namun dari segi total biaya yang dikeluarkan, mereka masih berada jauh di belakang Manchester City. Conte juga sempat menginginkan Alexis Sanchez dari Arsenal, namun dewan direksi tidak mampu bersaing dalam pengejarannya karena Manchester United menawarkan paket yang lebih besar.

Ketidakmampuan dalam mendatangkan pemain yang sesuai standar langsung berdampak negatif pada tim, terutama saat melawan Burnley, ketika Conte kekurangan opsi. Hal yang sama juga terjadi ketika bertemu Bournemouth, di mana ia terpaksa memainkan Eden Hazard sebagai false nine.

Marina Granovskaia Chelsea Premier League

Memperpendek jarak di luar lapangan adalah tugas Marina Granovskaia dan karyawan klub, namun mereka harus belajar dari penunjukan Conte dan merekrut manajer yang tepat, alih-alih manajer terbaik di kesempatan berikutnya.

Paris Saint-Germain dan tim nasional Italia adalah opsi utama buat Conte setelah Chelsea, namun untuk saat ini, The Blues harus mencari orang yang bisa bekerja dengan bujet yang lebih kecil.

Sebagai tambahan dari itu, mereka butuh orang yang sanggup mengintegrasikan talenta luar biasa dari akademi, selagi memanfaatkan pemain yang sebelum ini mereka kirim ke luar lewat sistem pinjaman.

Chelsea juga harus sabar dengan orang tersebut. Dan ironisnya, mereka butuh seorang pelatih seperti Pochettino, yang berkomitmen meningkatkan klubnya secara bertahap, terlepas batasan yang ia temui di Tottenham.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Ini mungkin akan menjadi perjalanan panjang bagi Chelsea. Dan kini Liga Europa adalah tempat yang cocok buat mereka.

 

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Leonardo Bonucci: Semula, Saya Tak Ingin Selebrasi
2. Laga Persija Kontra Arema Pecahkan Rekor Penonton Terbanyak Liga 1
3. Benfica Bakal Pinjam Egy Maulana Vikri
4. Romelu Lukaku Masuk Klub 100 Gol Liga Primer Inggris
5. Highlights Pertandingan Top Liga Primer Inggris Pekan 32