CATATAN Piala Dunia 2014: Usai Mineirazo, Brasil Butuh Strategi Jangka Panjang

Komentar()
Bencana kekalahan dari Jerman di semi-final Piala Dunia 2014 harus mendorong Brasil menyusun program berjangka panjang.


GOALOLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Kekalahan dan kegagalan di Piala Dunia adalah sebuah bencana dahsyat bagi sepakbola Brasil.

Kekalahan di final Piala Dunia 1950 dari Uruguay menciptakan istilah baru, "Maracanazo". Kekalahan dramatis di depan publik sendiri kala itu mendorong Brasil mengubah warna seragam utama mereka. Publik bahkan menjadikan Moacyr Barbosa sebagai biang keladi sehingga reputasi sang penjaga gawang tak pernah pulih hingga tutup usia.

Kekalahan dari tuan rumah Prancis di final Piala Dunia 1998 mendorong parlemen mendengar sidang dengar pendapat. Berbagai alasan dilontarkan atas kekalahan telak yang diderita tim yang dilatih Mario Zagallo. Teori konspirasi tentang pengaruh sponsor komersial serta serangan epilepsi yang didapat Ronaldo ikut dibahas.

Kemudian, berselang 64 tahun setelah Maracanazo, Brasil mendapat kesempatan lagi menggelar Piala Dunia. Bukan gelar juara dunia keenam yang mereka peroleh, melainkan lagi-lagi sebuah tragedi. Brasil dipaksa menyerah oleh Jerman 7-1 pada laga semi-final. "Mineirazo", orang-orang menyebut bencana itu.

Duka fans Brasil saat ditumpas Jerman di semi-final Piala Dunia 2014 - Mineirazo!

Permintaan maaf disampaikan Luiz Felipe Scolari usai pertandingan sambil menyatakan diri sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Meski demikian, Felipao menolak mundur. Sikap ini bertolak belakang dengan desakan publik agar sang pelatih dipecat dari jabatan.

Scolari menganggap tim yang dilatihnya adalah sebuah keluarga dan dirinya menjadi figur kepala keluarga. Pendekatan ini mendorongnya memilih pemain yang cenderung mematuhinya, alih-alih pemain terbaik di posisi masing-masing. Paulinho, Hulk, dan Fred adalah contoh di Piala Dunia 2014 yang selalu mendapat jaminan di tim inti meski kapasitas serta performa mereka dipertanyakan.

Bagi mantan direktur timnas Andres Sanchez, kegagalan kepelatihan Scolari sudah bisa diproyeksi sejak asosiasi sepakbola Brasil (CBF) memecat Mano Menezes dan menunjuk mantan pelatih Chelsea berusia 65 tahun itu. Menezes dicopot dari jabatan pelatih Selecao, November 2012, akibat serangkaian hasil buruk - termasuk kegagalan meraih medali emas Olimpiade London.

"Seharusnya Mano, atau siapapun pelatihnya, bertahan hingga Piala Dunia digelar. Salah jika harus melakukan pergantian pelatih di tengah jalan atau hanya berdasarkan hasil dua tiga pertandingan. Itu memangkas perencanaan," ujar Sanchez, yang mengundurkan diri dua hari setelah pemecatan Menezes, kepada Globo Esporte.

Sanchez mengusulkan penunjukan pelatih baru yang memiliki pengalaman, bahkan kabarnya CBF mempertimbangkan figur pelatih asing. Pergantian pelatih saja tidak cukup. CBF mesti mengambil sejumlah langkah penting untuk mengembalikan reputasi sepakbola Brasil.

Kegagalan Selecao sudah bisa diprediksi sejak penunjukan Felipao.

Memasuki 1990-an, para pelatih timnas Brasil tampak cenderung berupaya memberikan antitesis dari jogo bonito yang mereka peragakan pada era 1970-an dan 1980-an. Dimulai dari Sebastiao Lazaroni yang memperkenalkan sistem tiga bek tengah pada Italia 1990 hingga kemudian Carlos Dunga yang dikritik karena bermain terlalu hati-hati pada Afrika Selatan 2010.

Ini ada kaitannya dengan talenta pemain yang dihasilkan selama dua dasawarsa terakhir. Masih ada bakat-bakat spesial, seperti Kaka, Ronaldinho, Robinho, atau Alexandre Pato, tetapi arus ekspor pemain muda Brasil terhitung sangat besar. Banyak pemain yang memutuskan merantau ke luar Brasil dalam usia muda. Iming-iming gaji besar atau godaan agen pemain menjadi faktor pendorong utama.

Di negara tujuannya masing-masing, para pemain tersebut mesti beradaptasi dengan gaya sepakbola yang berbeda-beda sehingga otomatis melupakan akar jogo bonito yang dimiliki Brasil.

Kondisi sepakbola dalam negeri juga belum banyak memberikan kontribusi kepada Selecao. Pamor liga utama Brasil, Serie A, belakangan memang melejit dengan dorongan investasi berbagai sponsor. Namun, kemajuan ini justru menjadi penyumbat perkembangan pemain muda. Banyak pemain bintang merasa lebih nyaman berada di klubnya saat ini berkat gaji yang tinggi. Akibatnya, kesempatan calon bintang baru terhambat.

Masalah kedua yang dihadapi Brasil adalah kurangnya fasilitas latihan berkelas. Kalaupun ada program pembinaan pemain muda, sukses diukur dalam jangka waktu yang terlampau pendek. Klub mesti didorong melakukan transparansi serta berinvestasi pada pemain muda. Kebijakan ini pada akhirnya bakal mendorong perkembangan liga domestik.

"Mereka tidak lagi mencetak apapun. Bahkan di lini tengah, mereka bagus - tapi tidak sehebat tim Brasil di masa lalu," ujar manajer Arsenal, Arsene Wenger, suatu ketika.

Tidak mengherankan jika Brasil sangat kekurangan fantasista di Piala Dunia ini. Di sisi lain, Scolari mengabaikan peran gelandang veteran seperti Kaka atau Ronaldinho untuk disertakan ke dalam skuatnya.

Juninho Pernambucano, eks gelandang Selecao, turut berkomentar. "Kami punya Neymar dan setelahnya, habis. Tidak ada pemain lain yang mampu memberikan kontribusi penting kepada tim."

Ikut bergabung dalam jajaran pemain yang diacuhkan Scolari adalah pemain seperti Philippe Coutinho dari Liverpool dan Lucas Moura dari Paris Saint-Germain. Keduanya menjadi contoh ekspor pemain muda Brasil ke liga-liga Eropa. Mereka masih berkembang menjadi fantasista berkelas, tapi dinilai belum terlalu meyakinkan untuk dijadikan penggawa Selecao.

Sinar Brasil meredup seiring cedera yang menghantam Neymar.

Mineirazo tidak mengurangi optimisme Pele. Sang legenda langsung melontarkan "ancaman" bahwa Brasil akan "memenangi gelar keenam pada 2018" atau saat Piala Dunia digelar di Rusia. Andres Sanchez justru meminta agar Brasil memfokuskan persiapan hingga delapan tahun ke depan.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

"Kita harus menyusun tim dengan proyeksi menuju 2022, dengan melewati 2018. Kita harus berhenti bisa mendapatkan apapun sesuai keinginan. Kita harus bekerja mulai sekarang hingga 2022. Mungkin saja kita menang pada 2018, tetapi kita harus punya pikiran jangka panjang serta tidak memangkas program di tengah jalan seperti yang pernah dilakukan CBF," tegasnya.

Sambil menanti kenyataan dari prediksi Pele yang terkenal itu, lebih baik Brasil melakukan terobosan baru dengan menyusun program berjangka panjang.



 
 

Artikel Selanjutnya:
Cristiano Ronaldo Pergi, Real Madrid Seharusnya Boyong Kylian Mbappe & Eden Hazard
Artikel Selanjutnya:
Ousmane Dembele Diparkir Dua Minggu
Artikel Selanjutnya:
Neymar Akui Kesulitan Adaptasi Di Paris
Artikel Selanjutnya:
Hasil Pertandingan: Jepang 1-0 Arab Saudi
Artikel Selanjutnya:
Bagas Adi Nugroho Ingin Raih Prestasi Bersama Bhayangkara FC
Tutup