CATATAN Piala Dunia 2014: Belanda Sudah Lampaui Ekspektasi

Komentar()
Getty
Medali perunggu Piala Dunia 2014 sudah melampaui harapan atas pencapaian Belanda sebelum turnamen digelar.


GOALOLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Belanda meraih hadiah hiburan dengan menundukkan tuan rumah Brasil 3-0 pada laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2014 di Estadio Nacional de Brasilia, Sabtu (12/7) petang waktu setempat.

Jika mengilas balik lima pekan lalu, tidak ada yang berani berharap pasukan Louis van Gaal itu bisa melaju jauh hingga nyaris mencapai final. Perpaduan komposisi pemain senior, beberapa di antaranya mulai kehilangan performa terbaik, dan pemain muda minim pengalaman dinilai belum akan mendatangkan hasil menggembirakan bagi runner-up Piala Dunia tiga kali itu.

Van Gaal kehilangan dua pemain penting menjelang turnamen digelar, yaitu Kevin Strootman dan Rafael van der Vaart. Kehilangan nama pertama bahkan mendorong Van Gaal untuk menerapkan formasi janggal, 5-3-2. Inspirasi didapat ketika menyaksikan Feyenoord Rotterdam meraih hasil positif di sisa musim Eredivisie Belanda ketika terpaksa tampil tanpa striker andalan mereka, Graziano Pelle.

"Belanda bukan favorit juara. Saya datang menjadi pelatih dengan target tertentu, lolos ke putaran final dan mencapai semi-final," tukas Van Gaal kepada media, Maret lalu, meredakan besarnya ekspektasi kepada tim asuhannya.

"Kami membawa banyak pemain muda dalam skuat ini dan kami sudah bermain sepakbola dengan baik serta mencetak banyak gol di babak kualifikasi."

"Namun, mencapai semi-final bukan target yang mudah. Menurut peringkat FIFA, kami ada di peringkat kedelapan atau kesepuluh. Tidak masalah keberapa, tapi yang jelas kami bukan favorit. Saya lihat Brasil dan Argentina, serta dari Eropa, Spanyol dan Jerman sebagai tim favorit."

Stefan de Vrij mampu tampil konsisten selama Piala Dunia 2014.

Skuat utama Belanda yang diumumkan Van Gaal pada konferensi pers 2 Juni lalu juga dapat mengundang pesimisme semua orang, baik fans maupun bukan fans. Hanya ada enam pemain yang mencatat rekor di atas 25 caps! Mereka adalah kapten Robin van Persie, wakil kapten Arjen Robben, Wesley Sneijder, Nigel de Jong, Dirk Kuyt, dan Klaas-Jan Huntelaar.

Aroma Feyenoord mendominasi skuat. Lima pemain asal klub kota terbesar nomor dua di Belanda itu dipercaya berangkat ke Brasil, yaitu Stefan de Vrij, Bruno Martins Indi, Daryl Janmaat, Terence Kongolo, dan Jordy Clasie. Di luar itu, tercatat sejumlah nama lain yang pernah mengecap pengalaman berseragam Feyenoord, yaitu Van Persie, Kuyt, Ron Vlaar, Leroy Fer, Jonathan de Guzman, dan Georginio Wijnaldum.

Nama-nama tersebut, selain Van Persie dan Kuyt, adalah nama-nama baru bagi sebagian besar penggemar sepakbola - kalau tidak dibilang diremehkan. Empat nama di antaranya, yaitu De Vrij, Martins Indi, Fer, dan Wijnaldum, bahkan pernah merasakan pahitnya menelan kekalahan luar biasa 10-0 dari PSV saat memperkuat Feyenoord, empat tahun silam.

Dengan materi pemain seperti ini, Belanda menantang juara bertahan Spanyol pada laga pertama turnamen. Taktik Van Gaal terbukti berhasil. Tertinggal lebih dahulu, Belanda sukses membalikkan keadaan dan menang besar 5-1. Oranje kembali merebut dua kemenangan di dua laga tersisa Grup B atas Australia dan Cili sehingga lolos ke babak gugur dengan rekor sempurna.

Hasrat meraih kejayaan mulai menggoda. Meksiko dan Kosta Rika dilewati dengan susah payah di babak 16 besar dan perempat-final. Sampai akhirnya langkah Belanda dihentikan Argentina lewat adu penalti dalam perebutan tempat ke babak puncak. Tidak bisa dibohongi betapa besar ketergantungan Belanda terhadap para pemain seniornya pada pertandingan itu.

Belanda masih tergantung peran pemain senior seperti Arjen Robben.

Kekecewaan melanda, tapi apakah Van Gaal telah gagal menjalankan tugasnya?

Dalam sepuluh laga kualifikasi, Belanda tak pernah kalah dan hanya satu kali kehilangan poin. Total 28 poin direngkuh dalam sepuluh laga serta 34 gol disarangkan dan hanya lima kali kebobolan. Rekor impresif ini dipertahankan Van Gaal di Brasil. Oranje tak terkalahkan di waktu normal dan mengemas 15 gol dalam tujuh laga.

Belanda juga mencatat rekor empat kali clean sheet dan hanya empat kali kebobolan. Dari empat gol yang bersarang di gawang mereka, dua berasal dari titik putih. Satu gol lewat tendangan spektakuler Tim Cahill. Dan, sejak Giovani dos Santos menjebol gawang Jasper Cillessen lewat tendangan jarak jauh di babak 16 besar, gawang Belanda bersih dari gol selama 372 menit!

Dengan menakjubkan sistem tiga bek tengah yang dibangun Van Gaal relatif berhasil memberikan mereka kekebalan dari ancaman lawan di area penalti.

Selain menambah kesemarakan turnamen dengan kejutan taktik, Van Gaal memberikan kesempatan kepada seluruh pemain untuk turun bertanding. Michel Vorm menjadi pemain ke-23 yang dimainkan Van Gaal di Piala Dunia ini dengan tampil sebagai pengganti Cillessen pada menit-menit akhir laga melawan Brasil.

Pemain pengganti Belanda juga seperti bergiliran menjadi pahlawan. Memphis Depay, Fer, Huntelaar, dan bahkan Tim Krul mendapatkan peran masing-masing di berita utama media massa Belanda. Dua pemain senior, Robben dan Vlaar "si beton", secara individual menuai banyak pujian karena mencapai taraf penampilan terbaik selama turnamen.

Seluruh anggota skuat Belanda merasakan penampilan bertanding di turnamen ini.

"Collectief", atau kolektivitas, adalah kata favorit dalam bahasa Belanda bagi Van Gaal. Di Brasil, Belanda sekali lagi membuktikan diri mampu menjadi kekuatan menakutkan jika tampil kompak sebagai tim. Di Brasil, meniru ucapan Krul usai kemenangan adu penalti atas Kosta Rika, Belanda mampu meraih sukses berkat kontribusi "seluruh 23 pemain anggota tim".

Di Brasil pula, Van Gaal tidak hanya menebus dosa pribadi gagal mengantarkan Belanda lolos ke Piala Dunia 2002, tapi juga telah membangun jalan masa depan bagi banyak pemain muda dalam skuatnya. Jalan yang akan diteruskan Guus Hiddink menuju perjalanan berikutnya, yaitu Euro 2016.

"Ini seperti hadiah buat saya," ujar Hiddink, yang juga pernah menangani Oranje pada 1994-1998.

"Para pemain ini tidak hanya meningkatkan nilai jual di klub masing-masing, tapi juga pengalaman yang berharga. Mereka belajar menemukan solusi di laga-laga sulit dan bagaimana harus mengambil keputusan. Mereka akan pulang ke rumah dengan menjadi pemain yang lebih baik berkat kemajuan yang menakjubkan ini."

"Itu akan memberi saya keuntungan besar saat mengambil alih tugas pelatih timnas. Mereka akan membawa apa yang sudah dipelajari baik ke klub masing-masing maupun timnas."

Pada 4 September nanti, ketika Van Gaal telah disibukkan dengan tugas barunya sebagai manajer Manchester United, skuat Oranje akan memasuki era baru di bawah kepelatihan Hiddink dalam laga uji coba menghadapi Italia.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Oranje menanti era baru bersama Hiddink.


Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID

 

Artikel Selanjutnya:
PREVIEW Copa Del Rey: Real Madrid - Girona
Artikel Selanjutnya:
Lepas Prisca Womsiwor, Persipura Jayapura Rekrut Titus Bonai & Oh In-Kyun
Artikel Selanjutnya:
Cristiano Ronaldo Mengaku Bersalah Soal Penggelapan Pajak
Artikel Selanjutnya:
Persipura Jayapura Tunjuk Luciano Leandro Sebagai Pelatih Anyar
Artikel Selanjutnya:
Brunei Darussalam & Singapura Mundur Dari Piala AFF U-22 2019
Tutup