Berita Live Scores
Piala Dunia Wanita

Berita Piala Dunia Wanita - Bagaimana Phil Neville Mengubah Timnas Inggris Menjadi Kandidat Juara Dunia

17.41 WIB 11/06/19
Phil Neville Jill Scott England 2019
Bersama Mark Sampson, Inggris hampir memenangkan Piala Dunia empat tahun lalu, tapi kesempatan itu kini lebih besar bersama manajer baru.

OLEH  AMEE RUSZKAI   PENYUSUN  M. RHEZA PRADITA

“Pada konferensi pers pertama, saya diberi tahu: ‘Anda tidak tahu apapun tentang para pemain, apapun tentang sepakbola wanita’, dan saya pikir itu sangat tidak sopan.”

Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan reporter itu hari ini, ketika Inggris bersama Phil Neville masuk ke Piala Dunia Wanita 2019 di Prancis dengan dengan gelar SheBelieves di satu tangan, dan berharap bisa kembali dengan membawa Piala Dunia di tangan yang lain.

Berharap mungkin adalah pilihan kata yang salah, karena sejak mantan pemain Everton itu mengambil pekerjaan sebagai pelatih timnas wanita Inggris, setiap pemain mengatakan kepada media bahwa mereka mampu, dan menargetkan, memenangkan Piala Dunia.

“Saya duduk di sebuah ruangan bersama tim saya sesaat sebelum kami melawan Rusia 12 bulan lalu, dan kami membicarakan tujuan untuk tahun depan [2019],” jelas Neville kepada Telegraph.

“Yang membuat saya terkejut adalah saya hanya ingin mereka mengatakan ‘saya ingin memenangkan Piala Dunia’.

“Mereka malah berkata: ‘Kami ingin yang lebih besar dari sekadar memenangkan Piala Dunia. Kami ingin, selama lima, sepuluh tahun ke depan, Lionesses menjadi salah satu tim olahraga terhebat di dunia, untuk dibicarakan seperti All Blacks [timnas rugby Selandia Baru], meninggalkan warisan yang selalu diingat anak-anak muda hari ini.’”

Perkembangan timnas Inggris di bawah Neville memang berkembang jauh lebih cepat dari yang diharapkan. Hal tersebut diakui langsung oleh manajer Chelsea Emma Hayes.

“Telah ada evolusi dalam gaya bermain,” tulisnya dalam kolom di The Times. “Tidak ada keraguan bahwa Mark Sampson membangun tim yang kuat. Sudah siap menghadapi turnamen, tetapi mereka gagal karena alasan taktik.”

Di bawah Sampson, Inggris berjuang melawan yang terbaik di dunia dengan filosofi permainan langsung dan efektif. Keberhasilan mereka membuat tertarik khalayak luas, tetapi gaya main mereka tidak. Di bawah asuhan Neville, dan strateginya yang menyerang, berdasarkan penguasaan bola, lebih muda bagi Lionesses untuk mendapatkan penggemar baru.

“Saya pikir kami sedang membangun sesuatu dan mulai memainkan sepakbola yang baik,” kata Lucy Bronze setelah kalah dari AS di SheBelieves tahun lalu.

“Ini baru permulaan. Saya pikir kami memiliki lebih banyak hal untuk diberikan daripada tim-tim lain di dunia.”

Bronze telah menjadi pelopor bagi banyak rekan satu tim nasionalnya. Bek kanan itu pindah ke klub terbesar di sepakbola wanita, Lyon, pada 2017, dan bisa dibilang merupakan pemain terbaik di dunia untuk posisinya saat ini.

Sejak itu, pemain-pemain seperti Toni Duggan, Mary Earps, dan baru-baru ini Nikita Parris telah berkelana ke klub di negara Eropa lain. Hal tersebut dipercaya telah menambah dimensi lain dalam permainan Inggris.

“Ini sekarang adalah level selanjutnya,” ujar Duggan kepada The Guardian. “Kami ingin mengeluarkan diri dari zona nyaman, ketika Anda berada di zona nyaman untuk waktu yang lama, Anda hanya bermain hingga level tertentu.

“Saya akan merekomendasikan hal ini kepada para pemain muda yang datang karena, seperti yang sudah saya katakan, itu akan membawa Anda keluar dari zona nyaman: Anda belajar bahasa baru, gaya permainan baru.”

Hal tersebut telah memungkinkan para pemain memiliki lebih banyak referensi permainan, sesuatu yang terutama memuaskan Neville. Dia mencari elemen-elemen tambahan agar mampu menjadikan setiap pemain salah satu yang terbaik di dunia.

“Gaya manajemen saya adalah dengan memberi tahu para pemain di mana mereka berdiri di pasukan saya, dan apa yang saya pikir mereka butuhkan untuk menjadi yang terbaik di posisi mereka di dunia. Sesederhana itu,” jelas pria 42 tahun tersebut.

“Ini tentang bagaimana kita akan menjadi yang terbaik di dunia.”

Ini merupakan bukti lebih lanjut tentang seberapa jauh Inggris telah berkembang selama bertahun-tahun. Pada suatu masa, Hope Powell pernah mengasingkan Jodie Taylor dari timnas karena keputusannya untuk bermain di luar negeri.

Meski begitu Neville bukan tipe pelatih yang cepat puas. Setelah memulai laga pertamanya sebagai pelatih dengan kemenangan 4-1 atas Prancis di SheBelieves 2018, diikuti hasil imbang 2-2 dengan Jerman, dan kekalahan 1-0 dari Amerika Serikat, dia menguraikan aspek pertama yang ingin dia kembangkan di timnya.

“Ketika saya selesai dari SheBelieves, hal yang saya pikir tim ini butuhkan adalah lebih percaya dengan gaya yang ingin saya mainkan,” tambahnya.

“Anda bermain untuk Inggris. Saya ingin mereka bermain dengan kesombongan, kesombongan dengan gaya tertentu.”

12 bulan berlalu dan visinya hampir selesai. Kemenangan atas Brasil dan Jepang, dan hasil imbang dengan Amerika Serikat, memberi Neville trofi SheBelieves, dan datang ke Piala Dunia dengan rasa percaya diri tinggi untuk kembali memenangkan trofi.

“Saya tidak mengatakan bahwa pencapaian selain memenangkan Piala Dunia adalah hal yang tidak bisa diterima,” kata kiper timnas Earps kepada Telegraph. “Tapi itu satu-satunya pencapaian yang kita inginkan.”

Musim panas lalu, tim asuhan Gareth Southgate berhasil merebut hati masyarakat dengan sepakbola yang menarik, tim yang menyenangkan, dan penampilan luar biasa – tetapi gagal ‘membawa pulang sepakbola’ ketika mengakhiri Piala Dunia 2018 di peringkat keempat.

Musim panas ini, Neville bersama Lionesses membawa semua bahan yang sama untuk sukses, bahan yang telah membawa mereka dari bertarung melawan tim-tim terbaik di dunia, menjadi salah satu tim terbaik di dunia.

Mereka berhasil mengawali Piala Dunia Wanita 2019 dengan kemenangan 2-1 atas Skotlandia, Minggu (9/6) malam. Pada laga itu Parris dan Ellen White masing-masing mencetak satu gol, sementara gol Skotlandia dicetak Claire Emslie.

Semua yang dibutuhkan sekarang adalah trofi utama Piala Dunia.