Berita Live Scores
Barcelona

Berada Di Bawah Bayang-Bayang Lionel Messi? Inilah Penyebab Redupnya Karir Philippe Coutinho

21.06 WIB 01/05/19
Philippe Coutinho Barcelona GFX
Coutinho pindah dari Liverpool ke Barcelona pada Januari 2018, dan hingga kini belum bisa memenuhi ekspektasi para penggemar.


OLEH    RIK SHARMA   ALIH BAHASA  M. RHEZA PRADITA

Philippe Coutinho meninggalkan Liverpool usai ditebus Barcelona dengan mahar mencapai £142 juta, tapi sejauh ini dia belum bisa menunjukan performa sesuai dengan label harganya yang tinggi tersebut.

Gelandang asal Brasil tersebut memaksa hengkang dari Anfield untuk memenuhi impiannya bermain bersama Blaugrana. Dia akhirnya mampu mewujudkan hal tersebut, dan menjadi rekrutan termahal dalam sejarah klub pada Januari 2018. Status tersebut pula yang membebani pundaknya hingga saat ini.

Bahkan walau sudah mencetak gol ciri khasnya melawan Manchester United, tendangan melengkung yang melewati David De Gea dan bersarang di pojok atas gawang, ternyata kegelapan tidak sepenuhnya hilang.

Coutinho melakukan selebrasi dengan memasukkan kedua jari telunjuk ke telinganya, mengirimkan pesan yang jelas kepada para pengkritiknya, baik di media maupun tribun Camp Nou yang sudah menumpuk. Para pembaca gerak bibir melihat dia mengatakan “A tomar por culo”, yang kurang lebih berarti “Enyahlah”.

Momen berikutnya dia kembali ke Camp Nou, melawan Real Sociedad pada 20 April, dia disoraki oleh para pendukungnya sendiri. Hal tersebut seakan menutupi performanya yang sedikit membaik akhir-akhir ini.

Perasaan Coutinho akan bercampur ketika Liverpool datang ke Catalunya untuk leg pertama semi-final Liga Champions. Ketika enggan untuk melepasnya, Liverpool mungkin tidak mengira performa dan reputasi Coutinho akan runtuh sedrastis ini.

Sementara itu The Reds justru bisa bermain lebih baik tanpa Coutinho. Dengan permainan energik di lini tengah, diimbangi kecepatan dan keterampilan para pemain depan, Liverpool mampu tampil konsisten musim ini. Penggemar Liverpool yang pernah merasa dikhianati, mungkin kini malah merasa kasihan padanya.

Teman Coutinho sejak di Liverpool dan rekan barunya di Barcelona, Luis Suarez, sudah membantunya menemukan rumah yang indah di Castelldefels, beberapa mil ke arah pantai dari Barcelona, di mana dia akan menjadi tetangga Lionel Messi.

Pada awalnya tidak ada yang membayangkan nasib Coutinho akan seburuk ini. Ketika Neymar pergi dan Dembele tidak mampu berintegrasi dengan baik di tim, kedatangan Coutinho tampak menjadi sebuah jawaban. Dia dianggap sebagai pemain yang mampu memberi faktor-x dan melahirkan trisula Amerika Selatan yang baru, bersama Messi dan Suarez.

Tapi langkah impian sang playmaker malah berubah menjadi mimpi buruk. Jadi mengapa Coutinho begitu kesulitan?

“Ada tiga alasan,” ujar Albert Masnou, sub-direktur surat kabar Diario Sport, kepada Goal.

“Yang pertama adalah taktik. Pada tahun pertama, dia bermain sebagai gelandang di mana dia diharapkan mampu menggantikan Andres Iniesta. Sekarang dia bermain sebagai penyerang, yang bukan posisinya, sebagaimana dia lemah dalam duel satu lawan satu.

“Barca tidak memanfaatkan potensinya.”

Legenda Barcelona Iniesta hengkang pada musim panas di mana Coutinho bergabung. Ide awalnya adalah sang pemain Brasil mampu mengisi posisinya. Tetapi setelah dianggap terlalu lemah dan tidak konsisten di lini tengah, dia digeser ke sayap kiri oleh pelatih Ernesto Valverde.

Secara teori hal tersebut membuatnya menjadi lebih dekat dengan Suarez dan Messi di lapangan, tetapi hal tersebut pula yang membuat Coutinho tidak mampu memberi dampak yang lebih besar dibanding kedua pemain tersebut.

Mantan direktur olahraga Robert Fernandez menegaskan bahwa Coutinho didatangkan untuk bermain di lini tengah, tetapi Valverde tampaknya bersikeras bahwa dia tidak bisa bermain di sana.

“Bagi banyak pemain, tidak mudah untuk bermain bersama Messi,” lanjut Masnou

“Bukan bermaksud menyalahkan Messi, tidak sama sekali, hanya saja dengan cara Barcelona diorganisir, semua berputar di sekelilingnya.

“Belajar menjadi seseorang yang melayaninya, bagi pemain yang terbiasa menjadi penentu di laga penting, untuk bergantung pada pergerakan Leo – tidak mudah bagi mereka untuk beradaptasi.”

Hal tersebut terlihat pada Sabtu lalu, ketika Blaugrana memastikan gelar juara La Liga lewat kemenangan 1-0 atas Levante. Dengan Messi berada di bangku cadangan, Coutinho terlihat lebih bebas di lapangan, menciptakan beberapa peluang, dan lebih terlibat dalam permainan. Ini merupakan permainan terbaiknya dalam beberapa bulan terakhir.

Goal memahami bahwa penampilan Coutinho telah meningkatkan peluangnya untuk bertahan di Barca musim panas ini. Namun, masih ada keraguan, sekalipun Coutinho memang tetap ingin untuk tinggal.

Untuk periode yang cukup lama musim ini, Coutinho bisa dengan mudah masuk tim karena masalah cedera yang dialami Ousmane Dembele, dan tentu tekanan politik untuk memainkan pemain termahal sepanjang sejarah klub.

Namun, ketika pemain asal Prancis itu fit dan dalam kondisi terbaik, dia jauh lebih dinamis dan cocok untuk dimainkan di sayap kiri.

“Satu hal lain yang memberatkannya adalah perbandingan secara terus menerus dengan Dembele,” tambah Masnou.

“Mereka merupakan dua pemain yang sungguh berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Tapi karena bermain di posisi yang sama, wajar jika orang-orang melakukannya.

“Yang satu memiliki kemampuan satu lawan satu, kecepatan, dan kemampuan mengacaukan pertahanan lawan; sedangkan permainan Coutinho sangat berbeda.”

Dembele sejauh ini punya masalah dengan ketidakprofesionalan dan penampilan yang tidak menentu. Bahkan demi memuluskan kepindahannya ke Barcelona, Dembele sempat tidak mau berlatih bersama Borussia Dortmund. Itu pula hal yang mengundang kritik dari penggemar dan media kepadanya.

Coutinho, sebaliknya, adalah contoh pemain yang profesional, seseorang yang sopan yang tidak seorang pun akan mengatakan hal buruk tentangnya.

Mencetak sepuluh gol dalam 22 pertandingan pertamanya merupakan awal yang cukup baik, tetapi alih-alih menggunakannya sebagai batu loncatan untuk pindah, Coutinho selalu membantah isu kepindahannya yang begitu marak di 2019.

Barcelona sering dikritik karena tidak menghasilkan banyak uang dari penjualan pemain, dan perbaikan performa Coutinho mungkin menggoda mereka untuk menjualnya. Sang pemain akan berumur 27 tahun pada Juni nanti, dan harganya bisa saja kembali turun jika performa tidak kunjung membaik.

Apalagi lini tengah Barca juga sudah dipenuhi banyak pemain top. Posisi Sergio Busquets tak tergantikan, Ivan Rakitic, Arthur, Rafinha, dan Arturo Vidal bersaing memperebutkan dua posisi tersisa. Sergi Roberto pun bisa dimainkan di posisi tersebut. Belum lagi munculnya para pemain muda berbakat seperti Carles Alena, Riqui Puig, dan Oriol Busquets.

Persaingan akan semakin ketat dengan kedatangan Frenkie De Jong musim panas nanti. Meskipun untuk jangka panjang diproyeksikan sebagai pengganti Busquets, tetapi selama dua musim ke depan mungkin akan dimainkan lebih ke depan.

Jika Coutinho ingin sukses di Barca, dia harus bisa beradaptasi bermain sebagai sayap, di mana dia harus belajar menjadi pelayan sang superstar Argentina dan tidak menjadi penghalang kerja sama antara Messi dan Jordi Alba.

Sejauh ini, rasanya dia tidak akan menguasai hal-hal tersebut dengan cepat dan nampaknya rumah yang ditemukan Suarez akan segera kembali dijual.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Siapa yang akan mengangkat trofi Liga Champions 2019? 🤔

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on Apr 30, 2019 at 11:57pm PDT

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI
1. Cetak 600 Gol, Cristiano Ronaldo Kalahkan Lionel Messi
2. Spanduk Ultras Inter Ejek Kegagalan Juventus Di Liga Champions
3. Real Madrid Mati Kutu, Zidane Ingin Buru-Buru Sudahi Musim Ini
4. PSG Kalah Di Final Coupe De France, Neymar Pukul Suporter
5. Van Dijk & Deretan Pemain Liverpool Pemenang Pemain Terbaik PFA
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia