"Kalau PSG main di Liga Premier, mereka pasti juara." Pernyataan itu menggantung di udara saat pendukung PSG itu mendekat, matanya tertuju pada lawannya.
Kamal Marley langsung membalas tanpa ragu: "Kalau kamu pikir timmu lebih baik dari semua tim papan atas lainnya hanya karena kamu belum pernah menjalani musim kompetitif dengan 38 pertandingan sebelumnya."
"Lens adalah pesaing utama kalian, terimalah itu. Mereka jelas tertinggal dua poin dari kalian musim ini. Saya rasa kalian tidak berpikir Lens akan finis di paruh atas klasemen Liga Premier."
Dia melanjutkan, menyoroti perjuangan berat. "Saya pikir satu hal lain yang mungkin akan kamu singgung adalah banyak tim yang kamu kalahkan dalam perjalanan menuju Liga Champions tahun lalu, kamu harus menghadapi mereka di Premier League."
"Dan apa yang terjadi saat kami menghadapi mereka tahun lalu?" Penggemar PSG itu langsung membalas. "Premier League sekali lagi berhutang budi besar kepada Chelsea. Jika PSG memiliki nasib sial mengalahkan Chelsea juga, saya akan mencabut gelar Premier League dari klub Liverpool dan memberikannya kepada kami. Liverpool, Arsenal, Villa, semua tim ini dikalahkan oleh PSG."
Percakapan itu menggambarkan perpecahan yang tajam: di satu sisi ada keyakinan bahwa kualitas PSG akan dengan mudah mengalahkan kompetisi yang lebih panjang dan menuntut; di sisi lain ada Kamal, yang berargumen bahwa kedalaman skuad yang tak kenal lelah dan beban fisik Liga Premier akan mengungkap kekurangan daya saing yang berkelanjutan.
Pendukung PSG itu menekankan silsilah dan hasil masa lalu, mengabaikan tim-tim Inggris papan tengah sebagai ancaman yang kecil. Kamal membalas dengan kenyataan bahwa kompetisi Ligue 1 lebih ketat, di mana bahkan pesaing terdekat seperti Lens pun menyoroti perbedaan intensitas liga.
Jadi, menurutmu gimana?
