Berita Live Scores
Liga 1

Andi Darussalam Tabusala Sebut Tidak Ada Mafia Di Sepakbola Indonesia

22.51 WIB 19/12/18
Andi Darussalam Tabussala - Arema Cronus
Pria yang dikenal dengan inisial ADS itu juga membantah dirinya pernah terlibat dalam pengaturan skor di sepakbola Indonesia.

Mantan direktur PT Liga Indonesia, Andi Darussalam Tabusala, akhirnya angkat bicara terkait tudingan yang dialamatkan kepadanya terkait pengaturan skor yang terjadi di sepakbola Indonesia. Bahkan, pria yang dikenal dengan inisial ADS itu juga disebut-sebut sebagai Godfather di lingkungan para pelaku pengaturan skor di Indonesia.

Ketika menghadiri sebuah acara talkshow Mata Najwa di Trans7, Rabu (19/12) malam, mantan manajer timnas Indonesia tersebut membantahnya.   

"Ya biasa itu, nama saya ini kan sangat terkenal. Saya disebut godfather sepakbola Indonesia. Saya tahu itu, tapi cuma saya jadikan itu bahan tertawaan. Belum tentu yang bicara itu lebih baik dari saya. Saya bukan orang yang sempurna, orang lain yang menilai saya. Saya datang ke sini juga bukan untuk membela diri," kata ADS.

"Saya tidak pernah terlibat dalam pengaturan skor, tapi saya pernah didatangi klub-klub yang meminta untuk dibantu. Mereka minta agar wasit bersikap netral. Saya pastikan wasit bersikap netral, karena kalau tidak saya berikan punishment (hukuman). Tidak ada satu pun klub yang saya anggap istimewa," tambahnya.

Lebih lanjut, ADS juga menuturkan bahwa mengatur skor di sepakbola itu tidak mudah. Hanya petaruh-petaruh besar dari luar negeri yang bisa melakukannya. Dia pun mengakui, hingga saat ini masih ada sejumlah klub yang mendatanginya untuk meminta pertolongan. Hanya saja, dia enggan membeberkan siapa saja klub yang masih meminta bantuannya tersebut.

"Kalau institusi resmi yang memanggil saya seperti kepolisian atau PSSI, baru saya kasih detail. Bagaimana pun juga PSSI ini adalah family football (keluarga sepakbola) yang harus dilibatkan untuk memberantas hal ini," tuturnya.

Di samping itu, dia juga menuturkan PSSI saat ini tidak bersih dari adanya oknum-oknum yang ingin merusak sepakbola Indonesia. Namun dia membantah kalau ada mafia di sepakbola Indonesia.

"Saya tidak tahu itu. Mafia itu yang bagaimana? Mafia itu apa? Justru saya ingin tanya Anda?" tanya ADS, kepada pembawa acara talkshow tersebut. 

"Lho, saya sendiri tidak tahu. Tidak ada itu mafia, yang ada individu-individu yang merasa punya pengaruh di PSSI, mereka datang. Tapi yang datang dua tiga klub, maka disebutlah mafia," jelasnya. 

Dia juga mengakui mengenal Vigit Waluyo yang disebut sebagai salah satu otak pengaturan skor di Indonesia, serta Bambang Suryo yang merupakan mantan runner (perantara match-fixing). "Mereka itu sudah saya anggap seperti adik-adik saya," tuturnya.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Mabes Polri Bentuk Satgas Untuk Berantas Mafia Sepakbola Indonesia Pemberantasan mafia di sepakbola tanah air benar-benar digaungkan. Terbukti Mabes Polri sampai membentuk satuan tugas (satgas) untuk memberantas adanya aksi pengaturan skor yang mencederai persepakbolaan nasional. Satgas tersebut bakal berada di bawah naungan Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri yang bekerjasama dengan PSSI. Hal ini disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. "Nanti didalami oleh Dittipidum apakah pidana, apa penipuan atau masalah menyangkut undang-undang di bidang keolahragaan atau perbuatan curang. Nanti akan didalami bersama dengan PSSI yang tahu bola dan mekanismenya," kata Dedi. Selain itu, Dedi menyatakan para mafia tersebut harus berantas, karena membuat sepakbola Indonesia tidak maju. Ia pun berharap seluruh pihak yang mengetahui adanya indikasi pengaturan skor dalam sebuah pertandingan tak ragu melaporkan kepada pihaknya. "Setiap pertandingan ada manajemen wasitnya yang ada di luar masternya bisa menilai itu. Menilai ada suatu pertandingan curang yang dilakukan oknum tertentu, bisa dilaporkan kepolisian. Di PSSI ada komite disiplin yang harusnya dikedepankan betul-betul memantau setiap event pertandingan," ujarnya. Isu pengaturan skor kembali menyeruak ke permukaan publik. Setelah manajer Madura FC Januar Hermanto, menyebut timnya diminta mengalahkan dari PSS Sleman ketika bersua di Liga 2 oleh anggota komite eksekutif (Exco) PSSI Hidayat. Pernyataan tersebut pun membuat Hidayat mengundurkan diri jabatannya di PSSI. Meski sudah mundur pria yang juga menjabat sebagai dosen tersebut tetap diberi hukuman komite disiplin PSSI yakni larangan beraktivitas di sepak bola selama tiga tahun, denda sebesar Rp150 juta dan tidak boleh masuk stadion selama dua tahun.

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on Dec 18, 2018 at 5:58am PST

 

 

ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Pep Guardiola Yakin Bakal Jumpa Jose Mourinho Lagi
2. Manuel Neuer: Liverpool Rapuh
3. Bos Persija Ungkap Alasan Marc Klok Ke Rumahnya
4. Ini Alasan Zlatan Ibrahimovic Tolak AC Milan
5. Beppe Marotta: Pavel Nedved Sekarang Musuh Saya!
Selengkapnya:
Daftar Artikel Terlaris Goal Indonesia